Nadine Callysta Gabungkan Advokasi Pendidikan dan Pelestarian Batik Banten
Lifestyle & Sport

Nadine Callysta Gabungkan Advokasi Pendidikan dan Pelestarian Batik Banten

Channel9.id-Jakarta. Prestasi di ajang kecantikan anak tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat. Hal inilah yang ingin diwujudkan Nadine Callysta Tambunan, remaja berusia 13 tahun yang menyandang gelar Duta Puteri Anak Pendidikan 2026.

Siswi SMPK Penabur Depok tersebut menginisiasi gerakan Karis Batik Legacy, sebuah advokasi yang memadukan pelestarian budaya lokal, khususnya Batik Banten, dengan kepedulian terhadap pendidikan anak-anak. Melalui gerakan ini, Nadine berupaya memanfaatkan platform yang dimilikinya untuk memperkenalkan warisan budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu sosial.

Nadine tidak hanya mengenalkan Batik Banten melalui media sosial, tetapi juga terlibat dalam kegiatan sosial bersama teman-temannya dari Banten. Salah satunya dengan mengunjungi lapak pemulung untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat dan kondisi anak-anak di lingkungan tersebut.

“Nah, untuk advokasi aku itu namanya Karis Batik Legacy, jadi aku tuh sudah memperkenalkan Batik Banten di media sosial. Kalau untuk sosialisasi palingan aku baru di media sosial, tapi untuk bareng teman-teman Banten lainnya, kami udah ke lapak pemulung, PLN, udah sih,” kata Nadine kepada wartawan di kawasan Tangerang, Minggu (18/10/2026).

Kunjungan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Nadine untuk memahami tantangan yang dihadapi sebagian masyarakat, termasuk kebutuhan anak-anak terhadap akses pendidikan dan fasilitas belajar yang memadai. Pengalaman itu sekaligus memperkuat tekadnya untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu perhatian utama dalam kegiatan advokasinya.

Menjelang grand final tingkat nasional, Nadine ingin membuktikan bahwa dunia pageant bukan semata-mata tentang penampilan, busana, atau kemampuan berjalan di atas panggung. Menurutnya, ajang tersebut juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kepercayaan diri, menyuarakan kepedulian sosial, serta memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Selain isu pendidikan, pelestarian Batik Banten menjadi fokus penting dalam Karis Batik Legacy. Melalui media sosial, Nadine berusaha mengenalkan batik daerah agar semakin dikenal generasi muda, termasuk sejarah dan filosofi yang terkandung dalam motif-motifnya.

Ia berharap warisan budaya lokal tetap mendapat tempat di tengah perkembangan tren global yang begitu cepat. Baginya, mengenalkan budaya daerah merupakan salah satu cara generasi muda ikut menjaga identitas bangsa.

Ketertarikan Nadine terhadap dunia modeling sendiri berawal ketika ia berusia sekitar 11 tahun. Ia mengaku terinspirasi oleh model internasional Kimmy Jayanti, terutama karena kemampuan berkomunikasi, pembawaan diri, dan prinsip yang ditunjukkannya.

“Kalau untuk di dunia model, aku tuh tertarik karena aku tuh suka sama, aku tuh terinspirasi dari salah satu model internasional yaitu Kimmy Jayanti, dan aku masuk ke dunia pageant sebenarnya di umur sekitar 11 tahun. Karena Kimmy tuh bisa menginspirasi aku, dia punya tata cara bicara yang benar, terus pokoknya Kimmy itu bagus deh, keren,” tuturnya.

Sejak terjun ke dunia pageant, Nadine mengaku memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Ia belajar berbicara di depan umum, meningkatkan kemampuan modeling, serta memahami cara menampilkan diri dengan lebih percaya diri.

“Kalau ilmu ini banyak banget, dari pertama cara public speaking yang benar, cara modeling, dan cara gimana sih cara perempuan itu bisa menampilkan diri sendiri,” jelasnya.

Meski memiliki kepribadian ambivert yang membuatnya terkadang lebih aktif dan terkadang lebih pendiam, Nadine terus berusaha mengatasi rasa gugup ketika tampil di hadapan banyak orang. Latihan dan pengalaman di atas panggung menjadi bagian dari prosesnya dalam mengenali potensi diri sekaligus membangun keberanian.

Di luar modeling, Nadine juga memiliki ketertarikan terhadap musik. Ia gemar memainkan piano dan gitar sebagai sarana menyalurkan kreativitas di tengah kesibukannya mempersiapkan kompetisi.

Untuk menjaga keseimbangan antara pendidikan dan aktivitas modeling, Nadine mengatur jadwal dengan memprioritaskan kegiatan sekolah pada hari biasa, sedangkan agenda modeling lebih banyak dilakukan pada akhir pekan. Disiplin dalam mengelola waktu menjadi salah satu upayanya agar prestasi di luar sekolah tidak mengganggu tanggung jawab akademis.

Saat ini, persiapan Nadine menuju grand final tingkat nasional disebut telah mencapai sekitar 90 persen. Ia mengaku cukup percaya diri karena berbagai materi telah dipersiapkan secara matang. Meski demikian, ia masih ingin menyempurnakan sejumlah aspek, terutama koreografi tari dan kemampuan berbicara di depan umum.

“Aku sih untuk nasional ya, untuk di grand final, aku lumayan percaya diri karena aku sudah mempersiapkan itu secara detail, jelas, dan matang. Yang kurang tepatnya ada di kayak koreo-koreo untuk nanti dance, terus public speaking aku juga harus lebih dibenerin lagi,” pungkasnya.

Melalui Karis Batik Legacy, Nadine Callysta Tambunan ingin menunjukkan bahwa generasi muda dapat berperan aktif dalam melestarikan budaya dan memperjuangkan kepedulian terhadap pendidikan. Baginya, gelar dan kesempatan yang diperoleh melalui ajang pageant akan semakin bermakna apabila mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19  +    =  21