Connect with us

Techno

Pakar Ingatkan Jangan Anggap Sepele Kasus Peretasan

Published

on

Pakar Ingatkan Jangan Anggap Sepele Kasus Peretasan

Channel9.id-Jakarta. Kementerian dan lembaga di Indonesia memang kerap diserang peretas. Namun, hal ini jangan dianggap sepele. Demikian menurut Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber Vaksincom.

Alfons menekankan bahwa antisipasi sangatlah penting. Antisipasi mestinya sangat bagus, jika tidak, maka sudah seharusnya untuk sangat waspada. “Apalagi kalau komputer di jaringannya sampai terkena malware mata-mata seperti RAT (red: remote access trojan) PlugX yang sangat berbahaya ini,” sambung dia, dikutip Senin (13/9).

Ia menjelaskan bahwa PlugX adalah malware lama, namun masih terus dikembangkan. Sehingga kemampuannya bisa meningkat dan efektif untuk memata-matai korban.

“Saat ini plugX yang ditenggarai menyerang Indonesia adalah versi modifikasinya. Karena itulah, efektif sekali berhasil memata-matai korbannya di instansi pemerintahan yang menjadi sasaran utamanya saat ini,” lanjutnya.

Untuk diketahui, Insikt Group pada April lalu mendapati bahwa PlugX—yang disebar oleh kelompok Mustang Panda asal Cina—ditemukan di sekitar jaringan 10 kementerian dan lembaga di Indonesia, termasuk Badan Intelijen Negara (BIN). Pembobolan ini diduga terjadi sejak Maret 2021, namun titik masuk dan metode malware masih belum jelas.

Lebih lanjut, Alfons memberi tips untuk mengurangi kemungkinan komputer terinfeksi malware tersebut, yaitu dengan menonaktifkan Windows Scripting Host (WSH) dan Windows Power Shell (WPS). Cara ini bisa menghindari varian baru PlugX—yang menurut Alfons bisa lolos dari pendeteksian antivirus konvensional.

Menurutnya, baik WPS maupun WSH jarang dibutuhkan oleh pengguna awam. Namun, bisa jadi sangat berbahaya jika disalahgunakan oleh malware.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

ByteDance Batasi Penggunaan TikTok Bagi Anak-Anak di Cina

Published

on

By

ByteDance Batasi Penggunaan TikTok Bagi Anak-Anak di Cina

Channel9.id-Jakarta. Aplikasi video pendek TikTok di Cina, yang dikenal sebagai Douyin, akan membatasi penggunaannya hanya 40 menit sehari bagi pengguna di Cina yang berusia di bawah 14 tahun. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh induk TikTok, ByteDance, pada Sabtu (18/9) lalu.

Adapun keputusan perusahaan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah Cina, yang ingin membatasi akses ke video game untuk anak-anak. Dilansir dari The Verge (20/9), anak-anak di bawah 14 tahun bari bisa mengakses Douyin antara pukul 6 pagi dan 10 malam, namun tak akan bisa menggunakan aplikasi di luar ketentuan itu.

Baca juga: ByteDance Jual Teknologi yang Dipakai di TikTok

Aturan itu berlaku untuk pengguna di bawah 14 tahun yang melakukan otentikasi dengan nama asli. Di lain sisi, perusahaan mendorong orang tua untuk membantu anak-anak melakukan otentikasi dengan nama asli atau mengaktifkan mode remaja.

Untuk diketahui, pemerintah Cina telah mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak di negaranya untuk online, karena dianggap berbahaya. Pada Agustus lalu, National Press dan Publication Administration meluncurkan aturan baru, yang membatasi warga Cina di bawah 18 tahun untuk bermain game online hanya di hari Jumat, akhir pekan, dan hari libur, antara pukul 20.00 dan 21.00.

Pihak berwenang juga telah mengarahkan perusahaan dan platform game, seperti Douyin, untuk mengotentikasi semua penggunanya; prosesnya mengharuskan pengguna memberi nomor telepon dan identifikasi lainnya untuk mengakses game online.

Lebih lanjut, ByteDance mengatakan konten yang tersedia untuk pengguna dalam mode remaja akan mencakup materi pendidikan seperti eksperimen sains populer yang menarik, pameran di museum dan galeri, pemandangan indah di seluruh negeri, penjelasan pengetahuan sejarah, dan sebagainya.

(LH)

Continue Reading

Techno

India Tuding Google Hambat Perkembangan Android

Published

on

By

India Tuding Google Hambat Perkembangan Android

Channel9.id-Jakarta. Google menghambat persaingan dan mencegah perkembangan saingannya, Android, di India. Demikian laporan dari regulator antimonopoli di India, sebagaimana dilihat oleh Reuters.

Pada 2019, Komisi Persaingan India (Competition Commission of India/CCI) membuka penyelidikan apakah Google menyalahgunakan dominasinya terhadap Android di pasar—yang mana perangkat tersebut lazim didukung OS. Kemudian didapati bahwa Google mengandalkan uangnya yang berlimpah untuk mengurangi kemampuan produsen dalam mengembangkan dan menjual perangkat yang menjalankan Android.

Selain itu, Google juga mewajibkan produsen memasang aplikasi Android secara pre-install guna menggantikan akses ke OS selulernya. CCI menilai hal ini dinilai tak adil. “Itu melanggar undang-undang persaingan India,” tulis laporan itu, dikutip dari Engadget (20/9).

CCI juga menilai bahwa kebijakan Play Store “sepihak, ambigu, tidak jelas, bias, dan sewenang-wenang.”

Sementara itu, kepada Reuters, Google mengatakan pihaknya berharap bekerja sama dengan CCI untuk menunjukkan bagaimana Android telah menyebabkan lebih banyak persaingan dan inovasi.

Sekadar informasi, dilaporkan bahwa Google telah menanggapi penyelidikan sebanyak 24 kali dengan membela diri. Selain itu, perusahaan teknologi lainnya—termasuk Microsoft, Amazon, Apple, Samsung dan Xiaomi—juga menanggapi pertanyaan dari CCI.

Kendati CCI menuding bahwa Google telah melumpuhkan persaingan di negara tersebut secara ilegal, Google masih punya kesempatan membela diri sebelum CCI mengeluarkan keputusan akhir beserta hukuman jika ada.

Sebelumnya, pada pekan lalu, regulator Korea Selatan juga menuding bahwa Google menggunakan posisi dominannya di pasar untuk menghambat perkembangan saingannya, Android. Mereka mendenda raksasa teknologi itu sebesar $177 juta (atau Rp2,5 triliun). Mereka juga melarang perusahaan untuk mewajibkan mitra manufaktur untuk menandatangani perjanjian anti-fragmentasi—yang melarang pembuatan dan pemasangan versi alternatif OS Android.

(LH)

Continue Reading

Techno

Facebook Tingkatkan Layanan Belanja Online-nya

Published

on

By

Facebook Tingkatkan Layanan Belanja Online-nya

Channel9.id-Jakarta. Facebook berupaya meningkatkan layanan belanja online-nya, dengan memperluas pengalaman layanan WhatsApp Bisnis. Perusahaan ini memungkinkan penggunanya menemukan dan berkomunikasi dengan pelanggan potensial di aplikasi.

Nantinya, akun WhatsApp Bisnis bisa ditambahkan di tombol profil Instagram mereka. Saat diklik, pelanggan digiring ke WhatsApp dan bisa langsung mengirim ke perusahaan.

“Mengintegrasikan WhatsApp sangat penting bagi pelanggan di negara-negara seperti India dan Brasil, di mana aplikasi perpesanan milik Facebook banyak digunakan,” ujar Karandeep Anand, Vice President of Business Products di Facebook, dikutip Minggu (19/9).

Baca juga: Perluas Kebijakan, Facebook Akan Tindaklanjuti Kelompok Terkoordinasi Pelanggar Aturan

Selain itu, Facebook pun akan melakukan uji coba fitur Facebook Business Suite, dengan melibatkan para pelaku usaha. Fitur ini memungkinkan para pelaku usaha mengirim email dan mengelola profil atau kehadiran mereka di seluruh aplikasi media sosial, untuk mempermudah mereka menjangkau pelanggan.

Bukan cuma itu, Facebook juga akan menguji akun kerja baru yang memungkinkan admin mengelola akun bisnis tanpa perlu masuk dengan akun pribadi mereka.

Sebagai informasi, fitur-fitur bisnis itu hadir setelah WhatsApp melakukan uji coba fitur di Brasil, yang memungkinkan pengguna menemukan toko melalui direktori di aplikasi. Adapun seluruh pembaruan itu merupakan upaya Facebook untuk meningkatkan layanan belanja online-nya.

“Fitur-fitur baru ini akan membantu Facebook, yang sudah menjadi pemimpin dalam periklanan digital, menawarkan pengalaman belanja yang dipersonalisasi kepada penggunanya,” ujar Anand.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC