Channel9.id, Jakarta – Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IAGI/IABI) mengimbau masyarakat dan pendaki untuk tidak mendekati area Kawah Manuk di Gunung Papandayan, Jawa Barat, menyusul munculnya fenomena blue fire (nyala api biru) yang memicu kekhawatiran publik terkait potensi erupsi.
Pakar kebencanaan Daryono menegaskan bahwa kemunculan blue fire tidak serta-merta menjadi sinyal awal atau tanda bahaya bahwa gunung api tipe A tersebut akan segera meletus. Namun, ancaman nyata justru datang dari risiko paparan gas beracun konsentrasi tinggi di sekitar area fumarola.
“Kemunculan blue fire tidak otomatis berarti gunung akan segera meletus. Fenomena ini lebih menunjukkan adanya pelepasan gas panas (degassing) dan aktivitas fumarola atau sistem hidrotermal. Yang justru harus diwaspadai adalah lingkungan tempat blue fire itu terbentuk,” ujar Daryono, dikutip Senin (28/9/2026).
Reaksi Kimia Gas Sulfur, Bukan Lava Biru
Daryono menjelaskan, secara ilmiah blue fire bukanlah magma atau lava yang berwarna biru. Fenomena visual tersebut merupakan hasil pembakaran gas vulkanik kaya sulfur (belerang) yang keluar dari rekahan atau fumarola pada suhu tinggi ketika bereaksi langsung dengan oksigen di udara.
Karena intensitas cahayanya relatif lemah, nyala api biru ini umumnya hanya terlihat kontras pada malam hari.
Berdasarkan data Badan Geologi, kemunculan blue fire di Gunung Papandayan bukan yang pertama kali terjadi. Fenomena serupa pernah terekam pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025 di dinding Kawah Baru. Adapun fenomena teranyar pada 24 September 2026 ini teramati di area Kawah Manuk. Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Papandayan masih berada pada Status Level I (Normal).
Kendati status gunung api tergolong aman, Daryono mengingatkan bahaya fatal yang mengintai di lokasi pembentukan blue fire. Rekahan fumarola menyemburkan gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO₂), hidrogen sulfida (H₂S), serta karbon dioksida (CO₂) yang dapat memicu ketidaksadaran hingga kematian akibat kekurangan oksigen.
“Paparan gas dapat menyebabkan mata dan tenggorokan perih, batuk, sesak, pusing, hingga mual. Arah angin di kawah juga dapat berubah sangat cepat, sehingga gas beracun yang semula menjauh bisa tiba-tiba berhembus menuju arah pendaki,” paparnya.
Daryono meminta masyarakat dan wisatawan untuk bijak dan tidak nekat menerobos zona bahaya kawah demi berburu konten foto atau video.
Menurutnya, pemantauan kenaikan status vulkanik sebuah gunung api tidak bisa didasarkan pada satu fenomena visual semata, melainkan harus melalui parameter terukur seperti rekaman kegempaan, deformasi tubuh gunung, hingga pengukuran fluks gas oleh otoritas resmi.




