Connect with us

Nasional

Pembelajaran Tatap Muka Harus Utamakan Keselamatan Siswa-Siswi

Published

on

Channel9.id – Jakarta. Pemerintah pusat telah mengizinkan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai 1 Januari 2021. Namun, pembukaan kembali sekolah harus mengutamakan keselamatan siswa-siswi yang masuk rentang usia anak sekolah. Satgas Penanganan Covid-19 pun telah berkoordinasi dengan kementerian terkait, untuk kesiapannya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku mengatakan PTM akan dilaksanakan jika persyaratan-persyaratan yang ditentukan sudah terpenuhi. Dan merupakan kewenangan Pemda, kanwil atau kantor Kementerian Agama dan persetujuan orang tua. Hal ini sesuai Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 November 2020.

“Namun, kesiapan pembukaan pembelajaran tatap muka ini juga perlu memperhatikan data perkembangan kasus Covid-19, khususnya pada usia anak sekolah,” jelas Wiku memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (7/1/2021) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Karena terdapat kekhawatiran terhadap anak-anak rentang usia sekolah yang dapat tertular Covid-19. Secara persentasenya, rentang usia anak sekolah menyumbang sebesar 8,87% dari total kasus nasional. Atau usia sekolah menyumbang 59.776 kasus dari total kasus kumulatif.

Dari total kasus tersebut, anak pada usia setara pendidikan SD yaitu 7 – 12 tahun, menyumbang angka kasus terbanyak yaitu 17.815 kasus (29,8%). Diikuti usia setara SMA yaitu 16 – 18 tahun di angka 13.854 kasus (23,17%), usia setara SMP yaitu 13 – 15 tahun sebanyak 11.239 kasus (18,8%), usia setara TK yaitu 3 – 6 tahun sebanyak 8.566 kasus (14,3%) dan usia PAUD yaitu 0 – 2 tahun sebanyak 8.292 kasus (13,8%).

“Jika kita menelaah dari trennya, kita bisa melihat adanya peningkatan kasus konfirmasi pada setiap penggolongan umur, bahkan terbesar setara TK, Paud dan SD. Kenaikannya diatas 50 persen hanya dalam kurun waktu 1 bulan,” lanjut Wiku.

Dari sebaran daerahnya, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat dan Banten konsisten menempati peringkat 10 besar daerah dengan konfirmasi tertinggi pada rentang usia sekolah. Dimana DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah konsisten menempati peringkat 4 teratas pada seluruh golongan umur rentang usia sekolah.

Secara nasional juga, terdapat 3 provinsi teratas dengan penyumbang kematian tertinggi rentang usia sekolah. Pada rentang usia PAUD, terdapat di Sulawesi Utara (6,78%), Nusa Tenggara Barat (4,72%) dan Nusa Tenggara Timur (4,35%). Rentang usia TK terdapat di Jawa Timur (4,6%), Riau (0,73%) dan Kepulauan Riau (0,72%).

Rentang usia SD terdapat di Jawa Timur (4,96%), Gorontalo (1,449), dan Sulawesi Tengah (1,47%). Rentang usia SMP terdapat di Jawa Timur (4,96%), Gorontalo (2,08%) dan Nusa Tenggara Barat (0,85%). Rentang usia SMA terdapat di Jawa Timur (4,62%), Gorontalo (1,64%) dan Aceh (1,53%).

“Data ini disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bentuk transparansi Satgas kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Data ini selayaknya dijadikan dasar pertimbangan sebelum mengeluarkan izin pembelajaran tatap muka. Daerah yang merasa kasus positifnya tinggi, diharapkan fokus terlebih dahulu pada penangan pandemi,” tegas Wiku.

Namun, apabila ada daerah yang merasa siap membuat pembelajaran tatap muka, harus terlebih dahulu paham komitmen yang dibutuhkan untuk menerapkan disiplin protokol kesehatan serta mempunyai strategi yang jelas. Dibutuhkan peninjauan yang mendalam dan tidak hanya kesiapan dan kesepakatan pihak terkait.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Jokowi Ingin Peran Rumah Ibadah dan Penceramah Agama Ditingkatkan Untuk Cegah Ekstremisme

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Presiden Jokowi ingin semakin banyak rumah ibadah hingga penceramah agama ikut serta dalam mencegah ekstremisme. Keinginan itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021.

“Dibutuhkan peningkatan kapasitas komunitas (komunitas perempuan, komunitas pemuda, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, partai politik, lembaga pendidikan, rumah ibadah, dan kelompok kepentingan lainnya) dalam merespons Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme,” demikian bunyi permasalahan dalam Lampiran Perpres Nomor 7 Tahun 2021, Minggu 17 Januari 2021.

Upaya untuk melaksanakan hal itu yakni dengan menyusun modul pelatihan dan sosialisasi pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme. Pun akan dibuat pelatihan untuk mendalami tentang bahaya dan pencegahan ekstremisme.

“Hasil meningkatnya kapasitas dan dukungan sejumlah komunitas (komunitas perempuan, komunitas pemuda, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, partai politik, lembaga pendidikan, rumah ibadah, dan kelompok kepentingan lainnya). Meningkatnya jumlah pemimpin komunitas dalam pelatihan dan sosialisasi pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme,” demikian bunyi halaman SK Nomor 001041 C.

Di samping pelatihan pencegahan ekstremisme, juga diadakan pelatihan bagi penceramah agama untuk mendorong modernisasi beragama. Hasilnya, meningkatkan jumlah penceramah yang mempunyai pandangan dan sikap moderat dalam beragama.

Selain rumah ibadah dan kelompok lainya, aksi Jokowi juga menyasar sekolah dan kampus yaitu dengan membuat strategi menambahkan materi pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme. Termasuk mengadopsi metodologi berpikir kritis dalam sistem pengajaran dan kurikulum pendidikan formal mulai dari dasar, menengah, dan tinggi. Untuk rumusan masalah ini, dibuat dua aksi, yaitu:

1. Penambahan materi pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, termasuk peningkatan keterampilan berpikir kritis dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

2. Penambahan materi pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, termasuk peningkatan keterampilan berpikir kritis dalam kurikulum pendidikan tinggi.

HY

Continue Reading

Nasional

Terpapar Covid-19, Ketua KPU Sumsel Kelly Mariana Meninggal Dunia

Published

on

By

ketua KPU Prov Sumatera Selatan Kelly Mariana dikabarkan meninggal dunia

Channel9.id – Jakarta. Ketua KPU Prov Sumatera Selatan Kelly Mariana dikabarkan meninggal dunia pada Minggu 17 Januari 2021. Kelly meninggal pukul 06.30 WIB di Rumah Sakit RK Charitas Palembang, dalam usia 53 tahun.

Persatuan Alumni DPD PA GMNI Sumatera Selatan menyampaikan duka cita atas kepergian Kelly.

“Turut berduka cita atas wafatnya Dr. Kelly Mariana,” kata Ketua PA GMNI Sumatera Selatan Istiwan Impaz.

Anggota KPU Sumsel Bidang Sosdiklih Parmas dan SDM Amrah Sulaiman menyampaikan, Kelly meninggal dalam kondisi terkonfirmasi positif Covid-19.

“Iya pagi tadi (meninggal) terpapar Covid-19, mohon doanya,” kata Sulaiman dilansir Antara.

Dia menyampaikan, Kelly Mariana akan dimakamkan dengan protokol Covid-19. Karena itu, rekan-rekannya tidak dapat mengantar jenazah ke TPU Kebun Bunga Palembang.

Sebelumnya Kelly Mariana mengaku terkonfirmasi positif Covid-19 pada 13 Januari 2021 dan menunjuk Amran Muslimin sebagai pelaksana harian Ketua KPU. Kelly lantas menjalani isolasi di RS Charitas Palembang karena mengalami gejala sakit.

Kelly Mariana lahir di Palembang 5 September 1967. Dia pernah mengenyam pendidikan St Jhons Collage Whyalla South Australia (1988) dan Fisipol Universitas Sriwijaya (1992). Kelly juga merupakan alumni GMNI Universitas Sriwijaya Cabang Palembang. Kelly meninggalkan empat orang anak.

Sebelum menjadi Ketua KPU Sumsel periode 2018-2023, Kelly pernah menjabat sebagai komisioner KPU Sumsel periode 2009-2013. Selain itu, ia pernah menjadi konsultan Kepemiluan BRIDGE untuk KPU Australia (AEC) 2014-2015, konsultan Kepemiluan BRIDGE untuk KPU (2015-2018), dan tercatat sebagai anggota Internasional Electrion Expect Forum sejak 2011 serta anggota AFS Internasional sejak 1989.

HY

Continue Reading

Nasional

DKI Penyumbang Tertinggi Kasus Covid-19, Jateng Salip Jabar

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kasus baru positif Covid-19 pada hari ini, Minggu (17/01) tembus angka lebih dari 900 ribu orang. Tercatat ada 11.287 penambahan kasus baru corona di akhir pekan ini.

Berdasarkan penambahan itu, total akumulatifnya ada 896.642 orang di Indonesia terkonfirmasi positif Covid-19.

Baca juga: Tambah 14.224 Kasus Baru Covid-19,  DKI Penyumbang Terbanyak

DKI Jakarta masih menjadi penyumbang terbesar penambahan kasus baru Covid-19 di tanah air. Jumlah kasus baru Covid-19 di ibu kota mencapai 3.395 kasus.

Sementara itu, Jawa Tengah di urutan kedua dengan penambahan 1.855 kasus baru Covid-19. Posisi ini menyalip Jawa Barat yang sebelumnya berada di urutan kedua penyumbang kasus baru Covid-19.

Berikut 5 provinsi dengan kasus baru Covid-19 tertinggi pada Minggu, 17 Januari 2021:

  1. DKI Jakarta: bertambah 3.395
  2. Jawa Tengah: bertambah 1.855
  3. Jawa Barat: bertambah 1.491
  4. Jawa Timur: bertambah 974
  5. Sulawesi Selatan: bertambah 674

 

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC