Connect with us

Lifestyle & Sport

Pemeran Muso, Ade Firman Hakim Meninggal Karena Covid-19

Published

on

Aktor Ade Firman meninggal dunia karena Covid-19

Channel9.id – Jakarta – Jakarta. Kabar duka datang dari dunia film Indonesia. Aktor Ade Firman Hakim meninggal dunia di usia 31 tahun, Senin (14/9). Ade meninggal karena terinfeksi Covid-19.

“Selamat jalan Ade Firman Hakim.(12-Oktober-1988 __14-September-2020). Meninggal dunia karena covid19,” ujar salah satu kerabat, Selasa (15/9).

Ade Firman Hakim meninggal dunia di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta, pukul 17.20 WIB, Senin kemarin. Ade Firman Hakim drop sejak hari Kamis, 10 September 2020.

Ade Firman Hakim kerap beberapa kali bermain dalam film bertema kebangsaan, di antaranya ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’ dan ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’.

Dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Ade Firman Hakim memerankan karakter Musso alias Paul Mussotte alias Muso Manowar, seorang pemimpin PKI yang aktif di era 1920-an. Film ini merupakan salah satu karya sutradara Garin Nugroho.

Ade Firman Hakim berperan bersama aktor dan aktris seperti Reza Rahadian, Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Sujiwo Tedjo.

Kemudian, dalan film Soekarno: Indonesia Merdeka, Ade Firman Hakim sebagai Chaerul Saleh.

Chaerul Saleh adalah seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri, menteri, dan ketua MPRS di antara tahun 1957 dan 1966. Sebelum kemerdekaan Chaerul Saleh menjabat sebagai Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia

“Semoga Tuhan menerima amal sholeh, mengampuni dosa khilaf dan ditempatkan dirumah Tuhan.. aamiin,” pungkasnya.

(HY)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Masker Kain Ber-SNI Disebut Kurangi Risiko Penularan Covid-19

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Beberapa waktu lalu diberitakan bahwa penerapan Standard Nasional Indonesia (SNI) akan menyasar masker kain. Teranyar, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dikabarkan tengah merumuskan Rancangan SNI (RSNI) untuk produk ini.

Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menekankan bahwa standarisasi tersebut pada masker kain diterapkan untuk masyarakat yang berada di wilayah zona merah. Pun tidak berarti semua masker kain yang tidak berstandar tidak bermanfaat.

“Jadi sebenarnya masker ini semuanya berguna, tidak ada masker yang tidak berguna. Namun bagi daerah-daerah yang zona merah tingkat risiko penularannya tinggi perlu kita buatkan sebuah standarisasi,” jelasnya pada konferensi daring, Senin (28/9).

Baca juga : Kiat-kiat Mencuci Masker Kain dengan Benar

Doni pun menambahkan bahwa timnya dan sejumlah perusahaan akan memproduksi masker lokal dengan standarisasi filter mencapai 70-80%. Adapun SNI masker kain itu dibuat sesuai rekomendasi dari BPPT dan pihak Jerman.

“Tim dari Satgas tim pakar bersama dengan beberapa perusahaan telah bisa membuat masker yang diproduksi secara lokal tetapi memiliki standar filter yang cukup tinggi, antara 70% sampai 80%. Ini sudah mendapatkan rekomendasi dari BPPT dan juga standar dari Jerman. Ya jadi dua lembaga satu dari Jerman dan satu lagi dari BPPT,” terangnya.

Kendati demikian, Doni menekankan, masyarakat di zona dengan risiko rendah, mengenakan masker kain tak ber-SNI pun masih bermanfaat.

“Nah, tinggal kita sekarang melihat kita berada pada daerah mana. Daerah risiko rendah tentu mungkin kualitas maskernya tidak perlu harus berada pada posisi yang sangat berkualitas atau tinggi. Namun, daerah-daerah dengan risiko ancaman yang tinggi, terutama di zona merah, tentu kita imbau agar menggunakan masker yang berkualitas agar risiko penularan kecil,” tutur Doni.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Menyoal Kecanduan Kopi

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Pecinta kopi umumnya mengonsumsi kopi sebagai rutinitas yang tak bisa dilewatkan. Jadi, minuman mengandung kafein ini buka cuma membuat mata melek.

Berdasarkan American Journal of Clinical Nutrition, sekitar 75-80% orang di dunia meminum minuman berkafein secara rutin.

Diketahui, jika dikonsumsi banyak dalam jangka panjang, bisa membuat kecanduan.

1. Manfaat kafein pada kopi
Kafein pada kopi bisa meningkatkan fungsi otak, mood, metabolisme tubuh, stamina saat olahraga, penyakit jantung dan diabetes. Namun, konsumsilah dalam jumlah wajar.

2. Kafein memengaruhi kinerja otak
Ketika minum kopi, kafein langsung diserap usus sebelum ke otak. Saat di otak, kafein akan merangsang sel-sel otak. Ini karena struktur kimia kafein menyerupai adenosin, molekul yang memberi efek santai di sistem saraf pusat.

Kondisi ini mencegah sel-sel otak untuk memberikan sinyal bahwa tubuh sudah lelah. Pada gilirannya, tubuh akan melepaskan stimulan alami lainnya dan meningkatkan efeknya.

Baca juga : Kurangi Konsumsi Kopi, Hati-hati Gejala Putus Kafein

3. Kopi bisa membuat kecanduan jika dikonsumsi berlebihan
Kecanduan bisa terjadi karena kafein bisa menyebabkan perubahan kimia pada otak. Singkatnya, kafein bikin otak memproduksi dopamin yang membuat seseorang nyaman saat. Perasaan nyaman ini lama-lama memicu ketagihan.

Dalam beberapa kasus, kecanduan kopi bisa memperburuk berbagai masalah kesehatan, seperti kegelisahan, gugup, sulit tidur, otot berkedut, wajah memerah, denyut jantung meningkat, sakit perut, dan frekuensi buang air kecil meningkat

4. Penyebab kecanduan minum kopi
Menurut Healthline, faktor genetik menjadi penyebab kecanduan minum kopi. Kemudian faktor lingkungan sosial juga bisa menjadi penyebab seseorang terus menuangkan kopi ke cangkirnya, sehingga akhirnya jadi ketagihan.

5. Dampak jika dikonsumsi berlebihan
Kendati memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, kopi idak baik jika dikonsumsi berlebihan. Pasalnya, terlalu banyak minum kopi bisa memicu gangguan tidur da kecemasan, sakit perut, asam lambung naik, nyeri otot, masalah kardiovaskular, sulit konsentrasi, rslskalisasi bersosialisasi, daan sulit berpikir jernih.

Meski kafein dan kopi nikmat, usahakanlah mengonsumsinya dengan wajar agar tidak menimbulkan masalah.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Anak Menjadi Stres Karena Pandemi

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Sebuah survei menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 mengganggu kesehatan jiwa anak-anak.

Survei ini berbentuk pilihan ganda dan dilakukan secara online pada 15 Juni 2020 hingga 26 Juli 2020 untuk menganalisis dampak pandemi pada anak-anak. Kemudian didapati 6.772 (981 anak berusia 7-17 tahun, dan juga orang tua yang memiliki anak 17 tahun atau kurang) yang bersedia menjadi responden.

Hasilnya, ungkap National Center for Child Health and Development, sebanyak 72% anak dari murid sekolah dasar dan menengah merasa virus ini membuat mereka merasa buruk atau mengganggu konsentrasi mereka. Bahkan, 9% di antara responden sengaja melukai diri sendiri atau menggunakan kekerasan pada anggota keluarga/hewan peliharaan.

Baca juga : Manfaat Merawat Kulit dengan Oatmeal

Sementara itu, data dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK-Indonesia) pun menemukan hasul yang nyaris serupa. Sebanyak 14.619 individu yang ditangani IPK-Indonesia (baik dewasa dan anak-anak) mengaku mengalami dampak panemi.

“Empat masalah yang paling banyak pada anak ditemui adalah kesulitan belajar, kecemasan, stress, dan gangguan mood antara lain depresi. Hal ini selaras dengan temuan hasil kuesioner swaperiksa masyarakat yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) bahwa 57,6% yang melakukan swaperiksa teridentifikasi memiliki gejala depresi,” jelas keterangan tersebut.

Dilansir dari The American Institute of Stress, berikut ini tanda ketika anak-anak mengalami stres dan harus diwaspadai.
1. Sulit berkonsentrasi dan sulit rileks
2. Lebih temperamental, baik dalam amarah atau tangisan, serta agresif
3. Takut dan depresi
4. Kebutuhan dekat dengan orang tua lebih tinggi
5. Pola makan berubah
6. Kerap menolak mengerjakan tugas sekolah

(LH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC