Penambang yang Terkubur di Myanmar Kemungkinan Kecil Selamat
Internasional

Penambang yang Terkubur di Myanmar Kemungkinan Kecil Selamat

Channel9.id-Myanmar. Puluhan penambang batu giok yang masih hilang “kecil kemungkinannya masih selamat”, ungkap pihak pemadam kebakaran pada hari Kamis (23/12/2021). Penambang batu giok itu menghilang setelah terjadinya tanah longsor di tambang daerah Kachin, Myanmar.

Pemadam kebakaran sejauh ini baru mengonfirmasi ada satu korban jiwa pada tragedi tersebut.

“Sulit untuk mengestimasi berapa banyak orang yang hilang, tapi kami mengestimasi setidaknya ada 50 orang yang menghilang dan kecil kemungkinannya mereka masih hidup,” ujar Pyae Nyein, Kapten Pemadam Kebakaran kotar Hpakant.

Baca juga: Warga Myanmar Lakukan Unjuk Rasa Sunyi dalam Perjuangan Lawan Junta

Sebuah tanah longsor di Hpakant terjadi pada hari Rabu, dan mengubur para penambang. Hpakant sendiri adalah pusat industri batu giok Myanmar, yang mana menarik perhatian para warga miskin di untuk mencari batu permata tersebut dan nantinya akan diekspor ke Cina.

Laporan awal menyebutkan kalau ada sekitar 70 sampai 100 orang yang menghilang, namun kemudian jumlah itu berkurang hingga sekitar 50 orang.

Ko Nyi, seorang anggota tim penyelamat, mengatakan kepada AFP kalau mereka sudah mengirimkan 25 orang ke rumah sakit dan menemukan satu korban jiwa.

Ko Jack dari Organisasi Penyelamatan Myanmar juga menuturukan kepada AFP bahwa proses pencarian itu sempat terhenti pada hari Rabu karena kabut, dan kembali dilanjutkan pada Kamis pagi.

“Sepertinya mereka terkubur di bawah tanah. Disini cuacanya dingin dan itulah mengapa kita sempat menghentikan proses pencarian,” jelasnya.

Menurut aktivis lokal, ratusan penambang kembali ke Hpakant saat cuaca musim hujan untuk mencari peruntungan di tambang terbuka yang berbahaya. Mereka tetap melakukannya walaupun junta sudah melarang mereka menambang sampai bulan Maret 2022.

“Mereka menambang pada malam hari dan pada pagi harinya mereka mengecek tanah dan bebatuan bekas galian mereka,” ujar para aktivis.

(RAG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

39  +    =  43