Connect with us

Lifestyle & Sport

Pentingnya ‘Me Time’ untuk Segarkan Tubuh dan Pikiran

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Ini dia, akhir pekan tiba. Namun, menimbang pandemi Covid-19 belum usai, hampir pasti Kamu tak ke mana-mana meski waktu sedang luang. Hasrat untuk sekadar nongkrong santai dengan teman, atau bahkan mengeksplorasi dunia, Kamu urungkan. Entah apa alasan pastinya, mungkin Kamu juga was-was terinfeksi virus Corona. Bisa jadi juga Kamu memang tak ingin menghamburkan banyak uang untuk hal yang kurang penting di situasi yang tak pasti ini.

Lantas, akan ada banyak waktu yang Kamu habiskan untuk diri sendiri. Sayangnya, sebagian orang justru tak tahan akan kesendirian dan menggalaukannya. Padahal waktu sendiri ini atau “me time” sebetulnya bermanfaat bagi kesehatan, lo. Misalnya bisa mengistirahatkan pikiranmu, apalagi setelah di hari-hari sebelumnya Kamu dibebani banyak hal yang membikin penat.

Bukan cuma mengistirahatkan pikiran saja, lo. “Me time” juga akan memberi deretan hikmah lainnya untukmu. Apa saja? Berikut ini di antaranya.

1. Menyegarkan tubuh dan pikiran
Derasnya informasi, beban kerja, dan sebagainya di keseharianmu tentu membikin Kamu penat. Hal ini akan memengaruhi caramu berpikir, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah.

Nah, dengan “me time”, Kamu bisa menyegarkan pikiran karena otakmu terbebas dari banyak hal yang menganggu. Sehingga pikiran dan tubuhmu akan terasa segar.

2. Konsentrasi dan produktivitas meningkat
Pikiranmu tentu terganggu dan teralihkan karena hanya fokus pada pekerjaan atau kegiatan lainnya. Bahkan, Kamu sulit untuk tak memikirkannya.

Nah, mumpung sedang akhir pekan, manfaatkanlah “me time” untuk mengistirahatkan pikiranmu dari beban saat di hari kerja. Dengan menghindari hiruk pikuk duniawi sejenak ini, konsentrasi dan produktivitas kerjamu di kemudian hari bisa meningkat, lo.

3. Lebih memahami diri sendiri
Tanpa sadar, Kamu akan terasingkan dari diri sendiri dan kehilangan kuasa atas dirimu di saat kerja. Hal ini karena tuntutan pekerjaanmu. Kamu akan menjustifikasi dirimu dengan situasi kerja, entah dengan teman, tim kerja, dan sebagainya.

Dengan memanfaatkan “me time” Kamu bisa merenung dan melakukan refleksi diri. Sehingga Kamu bisa memahami diri sendiri. Adapun perenungan ini lebih baik dilakukan saat Kamu benar-benar sendiri.

4. Kemampuan bersosialisasi meningkat
Kesepian dan menyendiri jelas berbeda. Kesepian ialah emosi negatif yang timbul saat seseorang merasa tak terhubung dengan orang lain. sementara, menyendiri sejenak justru memberi manfaat bagi kemampuan bersosialisasi.

Menyendiri saat me time bermanfaat dalam meningkatkan beberapa aspek lainnya, lo. Misalnya, kemampuan berkomunikasi dan memahami orang lain, memahami diri sendiri, kecerdasan intelektual dan emosional, rasa percaya diri, hingga motivasi untuk mengembangkan diri sendiri.

5. Memperbaiki hubungan dengan orang lain
Kamu mungkin pernah berkonflik dengan orang lain, namun kegiatan keseharianmu mungkin menjauhkanmu dari orang tersebut. Tak jarang, hal ini menciptakan bom waktu, di mana konflik justru menjadi lebih besar.

Dengan “me time”, Kamu bisa menenangkan diri dan refleksi hingga akhirnya siap berinteraksi kembali dengan orang lain. Kamu pun bisa lebih mampu meminta maaf atas perilaku negatif yang mungkin telah Kamu lakukan.

Jadi, sendirian bukanlah waktu yang patut digalaui atau disesalkan. Cobalah memanfaatkannya untuk berpikir hingga refleksi. Jika dilakukan dengan baik, hal ini akan berguna bagi kesehatanmu.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Published

on

By

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Channel9.id-Jakarta. Sebagian orang punya nafsu makan yang lebih tinggi saat sedang stres. Hal ini dikenal dengan emotional eating.

Dalam jangka panjang, emotional eating bisa berdampak pada keseharianmu, utamanya kesehatan. Berat badanmu pun cenderung menaik seiring berjalannya waktu. Terlebih, saat stres, seseorang cenderung memilih makanan secara sembarangan seperti makanan cepat saji.

Meski begitu, ada sejumlah tips yang bisa Kamu lakukan untuk mengatasi emotional eating. Berikut ini tipsnya.

1. Kenali pemicu makan berlebihan
Mula-mula, Kamu harus mengidentifikasi pemicu mengapa nafsu makanmu meluap meski perut tak lapar. Kamu bisa membuat catatan untuk membantu mengidentifikasi hal ini. Atau, Kamu juga bisa berkonsultasi dengan psikolog dan mencari cara untk mengatasi kebiasaan makan berlebihan.

Umumnya, selain karena lapar, nafsu makan berlebihan disebabkan oleh bosan, stres, dan depresi. Jika bosan, sebaiknya cari hal menarik untuk mengisi waktu kosong, seperti menonton film, bukannya makan. Lalu jika stres, Kamu bisa melakukan yoga, bermeditasi, atau jalan-jalan untuk mengatasi emosi. Sementara saat depresi, cobalah untuk mencari teman untuk bicara, berjalan keliling kompleks—tak lupa protokol kesehatan Covid-19, atau jika tak kuasa menahan depresi, konsultasikan dengan psikolog.

2. Ngemil buah-buahan dan kacang-kacangan
Bukan cuma makanan cepat saji, saat stres, Kamu biasanya ingin makan makanan yang manis. Sebagai gantinya, cobalah mengonsumsi buah-buahan yang mengandung gula alami. Dengan demikian, risiko berat badan naik bisa diminimalisasi.

Makanan sehat lainnya yang bisa menjadi pilihan yaitu kacang-kacangan, seperti kacang mete hingga kacang almond. Selain rendah kalori, mereka kaya akan lemak baik dan serat, serta membantu mengatur gula darah.

3. Minum teh hitam
Kadar hormon kortisol akan meningkat saat Kamu sedang stres. Kondisi ini pula yang menyebabkan nafsu makanmu meningkat. Tanpa kontrol yang tepat, berat badanmu bisa naik. Nah, salah satu upaya untuk mencegah hal ini terjadi ialah dengan mengonsumsi segelas teh hitam. Teh ini bisa mengurangi kadar kortisol di tubuh.

Selain itu, selingi dengan melakukan teknik pernapasan ringan. Cobalah untuk menjaga jarak dari gawaimu dan manfaat waktu luang yang Kamu punya untuk sejenak beranjak dari rutinitas harian. Hal ini bisa membantumu mengendalikan hormon kortisol yang meningkat karena stres.

4. Olahraga
Rutin berolahraga juga ampuh mengendalikan produksi hormon kortisol. Pasalnya, olahraga justru akan memicu produksi hormon yang membikin Kamu merasa bahagia seperti endorfin. Selain itu, aktivitas ini jga turut membantu mengurangi risiko depresi, kecemasan, dan insomnia, di samping mengurangi kecenderungan untuk emotional eating.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu

Published

on

By

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu Karena Pandemi

Channel9.id-Jakarta. Sudah setahun terlewati, pandemi Covid-19 belum berakhir juga. Sebagaimana telah diketahui, situasi ini berdampak terhadap segala sektor kehidupan masyarakat di dunia, dari ekonomi, sosial, hingga politik.

Bahkan, hubungan percintaan dan asmara seseorang pun bisa terkena dampaknya. Khususnya, bagi mereka yang belum menikah dan tak tinggal satu atap. Kamu mungkin mengalaminya.

Kondisi pandemi ini membikin hubungan percintaan dua insan tak ubahnya seperti menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Menurut penelitian dari University of San Fransisco, konflik sering terjadi pada mereka yang menjalani LDR lantaran kedekatan fisik yang kurang, sehingga merasa hubungan tak aman.

Sebelum pandemi, Kamu mungkin rutin bertemu pasanganmu setiap minggu. Namun, karena physical distancing saat pandemi, agenda pacaranmu jadi terganggu sehingga jarang bertemu. Namun, komunikasi tak langsung melalui layanan perpesanan atau telpon terkadang memicu perselisihan, yang bahkan bisa membikin hubungan kandas. Sayangnya, untuk sekadar bertemu langsung dan menyelesaikan masalah, sangat berisiko untuk Kamu dan pasangan—menimbang penularan Covid-19 yang begitu cepat.

Nah, untuk mempertahankan hubungan di situasi seperti ini, salah satu kuncinya yaitu meminimalisasi konflik dengan pasangan. Untuk itu, cobalah untuk melakukan tips berikut.

1. Sepakat berkomunikasi di waktu tertentu
Menentukan jadwal kapan Kamu dan pasangan harus berkomunikasi menjadi salah satu tips agar hubungan tetap awet dan jauh dari konflik.

Cobalah mencari waktu di mana kalian sama-sama sedang lowong. Misalnya, setelah kalian berdua menuntaskan pekerjaan. Manfaatkan waktu ini untuk sekadar menelepon.

2. Fokus pada kualitas komunikasi
Satu hal penting, cobalah untuk fokus dan prioritaskan kualitas. Mestinya, kualitas komunikasi pasangan di masa pembatasan sosial ini lebih baik, dibandingkan sebelumnya.

Pasalnya, berkomunikasi di situasi seperti ini ialah hal yang berharga. Jadi, mesti benar-benar dimanfaatkan. Topik yang dibicarakan pun semakin luas karena Kamu dan pasangan sulit bertemu.

3. Percaya kepada pasangan
Adapun kunci hubungan agar tak melulu berselisih dan tetap awet ialah percaya pada pasangan.

Tentu Kamu tak bisa melihat langsung apa yang dilakukan oleh pasangan karena tak bisa bertemu langsung. Kamu merasa tak aman atau insecure. Misalnya, Kamu berpikir pasanganmu berkomunikasi dengan orang lain saat dirinya tak kunjung meresponsmu saat dihubungi.

Namun, membangun kepercayaan satu sama lain adalah hal krusial dalam hubungan. Hal ini menjadi faktor penting untuk membuat hubungan terus awet.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Stres Bikin Seseorang Lebih Memilih Saat Baca Berita

Published

on

By

Stres Bikin Seseorang Lebih Pemilih Saat Baca Berita

Channel9.id-Jakarta. Stres datang tak memandang usia. Tua hingga muda pasti pernah mengalaminya. Di masa pandemi Covid-19 ini, misalnya, kiranya stres dirasakan mereka semua. Misalnya, anak kecil tak bisa main sebebas seperti sebelum pandemi dan orang dewasa terpaksa kehilangan pekerjaan lantaran perusahaan sangat minim pendapatan.

Belum lagi, berita tentang kematian akibat pandemi dan segala hal terkait cenderung meningkatkan rasa cemas dan khawatir. Hal ini bisa memperparah stres.

Berbicara soal stres, kondisi ini ternyata bisa mengubah cara orang menanggapi kabar buruk. Menurut penelitian yang diterbitkan Scientific Report, ada hubungan antara hormon stres dengan cara orang menerima informasi yang berisiko. Didapati bahwa saat menghadapi berita buruk, seseorang yang tertekan dan stres lebih selektif dan teliti, terutama saat ingin membagikan berita tersebut.

Selain itu, bagaimana stres bisa memengaruhi seseorang dalam menghadapi kabar buruk berkaitan pula dengan hormon endokrin. Umumnya, hormon ini bisa membikin seseorang meremehkan risiko dari sebuah informasi. Di sisi lain, bisa juga stres membikin seseorang menilai segala sesuatu sebagai hal yang berisiko tinggi. Keduanya tentu punya efek yang berbahaya.

Meremehkan informasi yang berisiko tentu bisa membuat seseorang menjadi tak acuh. Sementara, melebih-lebihkan informasi busa meningkatkan rasa cemas dan memicu perilaku berbahaya.

Suka atau tidak, berita buruk pasti tersebar. Terlebih Kamu memang harus memenuhi kebutuhan informasi guna mendapat informasi terkini, utamanya soal pandemi Covid-19 ini. Untuk mengurangi rasa cemas hingga stre, ada sejumlah hal yang bisa Kamu lakukan dan terpatri di pikiranmu.

1. Sadari ada hal di luar kendalimu
Salah satu cara untuk menangani kabar buruk saat dilanda stres adalah menerima kenyataan yang ada. Salah satunya dengan menyadari bahwa ada hal yang ada di luar kendalimu. Sadar atau tidak, seseorang akan merasa tertekan dan stres karena tak bisa mengendalikan hal yang terjadi.

2. Mencari kegiatan positif
Setelah pikiran tadi terpatri di pikiranmu, Kamu bisa mencari kegiatan positif sebagai cara untuk menangani kabar buruk. Kamu bisa melakukan hobimu, menjadi sukarelawan hingga memberi perhatian penuh kepada keluarga dan teman yang membutuhkan. Demikianlah cara paling mudah agar Kamu tetap bisa berkontribusi dan menangani informasi buruk, dengan fokus di lingkup terkecil.

3. Jaga kesehatan fisik dan mental
Selain itu, sangat penting bagimu untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Makan teratur, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup termasuk cara agar Kamu tak rentan dilanda stres. Sebaliknya, jika kondisimu tak sehat, stresmu cenderung lebih parah sehingga berdampak pada fisik dan mentalmu.

Memang stres bisa membuatmu lebih teliti dalam menghadapi kabar buruk, namun Kamu harus mengelola stres agar kualitas hidup lebih baik dan bisa menangani masalah dengan lebih sehat.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC