Channel9.id – Bogor. Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Bhayangkara Pratama kepada Meriyati Roeslani Hoegeng atau Meri Hoegeng, istri Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Penganugerahan tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Penyerahan tanda kehormatan dilakukan di Makam Giri Tama, Tajur Halang, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (4/2/2026). Tanda kehormatan itu diserahkan oleh Kabaintelkam Polri Komjen Yuda Gustawan kepada Rama Hoegeng selaku cucu dan perwakilan keluarga.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjelaskan pengajuan tanda kehormatan itu sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Meri Hoegeng kepada institusi Polri. Menurutnya, kontribusi Meri Hoegeng memiliki makna penting bagi Korps Bhayangkara.
“Kami sangat menghormati dan menghargai beliau atas banyak hal yang selalu beliau titipkan dan sampaikan dan karena jasa beliau, maka Polri mengajukan kepada Bapak Presiden untuk mendapatkan Bintang Bhayangkara Pratama,” jelasnya.
Kapolri juga mengenang Meri Hoegeng sebagai sosok yang kerap memberikan semangat dan masukan kepada Polri dalam berbagai situasi. Ia menyebut penghormatan tersebut sebagai bentuk penghargaan keluarga besar Polri atas peran almarhumah.
“Ini adalah bentuk penghormatan dari kami, adik-adik beliau, anak-anak beliau, terhadap almarhumah atas jasa beliau dalam memberikan spirit, dalam selalu memberikan semangat pada saat situasi-situasi yang memang kami membutuhkan,” tuturnya.
Pengajuan nama Meri Hoegeng untuk dianugerahi Bintang Bhayangkara Pratama tertuang dalam surat Kapolri kepada Presiden Nomor: R/II/KEP/2026.
Meri Hoegeng meninggal dunia pada usia 100 tahun setelah menjalani perawatan intensif.
Meriyati Roeslani Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925 dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia menikah dengan Hoegeng Iman Santoso pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta dan dikaruniai tiga orang anak.
Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso merupakan Kapolri kelima Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1968–1971. Semasa bertugas, ia dikenal luas sebagai figur berintegritas yang berkomitmen memberantas korupsi dan gratifikasi di tubuh kepolisian.
HT





