Channel9.id, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Komisi XII DPR RI sepakat menjaga keberlanjutan subsidi energi dengan tetap menekankan aspek efisiensi dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah mengalokasikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak 19,162 juta kiloliter (KL). Rinciannya, minyak tanah sebesar 0,526 juta KL dan solar 18,636 juta KL.
“Dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi serta dorongan untuk efisiensi dan optimalisasi, alokasi subsidi ini diharapkan lebih tepat sasaran,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (28/8/2025).
Selain kuota BBM, pemerintah dan DPR juga menyetujui volume LPG 3 kg sebesar 8,31 juta metrik ton, subsidi tetap solar Rp1.000 per liter, serta subsidi listrik mencapai Rp101,72 triliun. Di sisi hulu migas, besaran cost recovery ditetapkan sebesar US$8,5 miliar.
Untuk menjaga stabilitas energi nasional, asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dipatok di angka US$70 per barel. Target lifting minyak dan gas bumi ditetapkan sebesar 1,594 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), terdiri dari 610 ribu BOPD dan 984 ribu BOEPD gas bumi.
Langkah ini menegaskan bahwa kebijakan subsidi energi 2026 tidak hanya soal besaran anggaran, melainkan juga strategi efisiensi dan keberlanjutan dalam mendukung ketahanan energi nasional.