Channel9.id, Jakarta. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menetapkan penanganan infrastruktur sungai di tiga provinsi terdampak sebagai prioritas jangka panjang dalam fase pemulihan. Langkah ini sekaligus mendukung irigasi untuk sawah dan tambak warga.
Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menegaskan normalisasi sungai penting untuk menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian dan perikanan. Berdasarkan data Satgas PRR, sebagian besar sungai di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mengalami pendangkalan akibat sedimentasi pascabencana hidrometeorologi.
“Penanganan sungai sangat penting dan membutuhkan waktu panjang karena jumlahnya banyak serta mengalami sedimentasi dengan dimensi yang luas. Ini mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan tambak warga,” ujar Tito di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Puluhan Sungai Terdampak di Tiga Provinsi
Data Satgas PRR mencatat puluhan sungai terdampak dengan kondisi beragam, mulai dari sedimentasi berat, kerusakan tanggul, hingga perubahan alur. Di Aceh, terdapat 55 sungai terdampak yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Aceh Utara, Pidie, Bireuen, Aceh Timur, hingga Subulussalam.
Di Sumatera Utara, sebanyak 48 sungai terdampak tersebar di wilayah seperti Tapanuli, Medan, Deli Serdang, hingga Mandailing Natal. Sementara di Sumatera Barat, terdapat 43 sungai terdampak di antaranya di Padang, Agam, Solok, hingga Pesisir Selatan.
Tito menjelaskan penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan, yakni tanggap darurat untuk mencegah dampak lanjutan serta rehabilitasi dan rekonstruksi untuk perbaikan permanen. Ia mengakui, sebaran wilayah terdampak yang luas menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihan.
“Dampaknya tersebar di banyak lokasi, sehingga penanganannya membutuhkan waktu,” kata Tito.
Meski begitu, Satgas PRR memastikan penanganan terus berjalan seiring pemulihan sektor lain. Saat ini, seluruh jalan nasional telah kembali berfungsi normal sehingga distribusi logistik tidak lagi terhambat dan mendukung percepatan perbaikan sungai.
Terintegrasi dengan Pemulihan Sektor Lain
Pemerintah juga mengintegrasikan penanganan sungai dengan pemulihan sektor pertanian, tambak, dan permukiman di sepanjang daerah aliran sungai. Tito menegaskan, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari berkurangnya pengungsi, tetapi juga dari pulihnya fungsi wilayah secara aman dan produktif.
“Pemulihan tidak hanya soal pengungsi, tetapi juga mencakup sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya,” ujarnya.





