Channel9.id, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan impor pangan masa lalu yang dinilainya hanya memperkaya petani di luar negeri, seperti di Thailand, India, dan Vietnam. Menurutnya, pembelian beras dari negara pemasok membuat petani asing semakin makmur, sementara petani lokal justru kian terpuruk.
“Kalau kita impor, artinya kita memberikan manfaat kepada luar. Kalau beras ya kita ambil dari Tailan, dari India, dari Vietnam, berarti mereka yang makmur. Artinya petani mereka makmur, petani kita miskin,” ujar Zulhas dalam acara Kick Off Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).
Zulhas membeberkan bahwa pada tahun 2024 Indonesia sempat mengimpor beras hingga 4,5 juta ton. Namun, saat ini porsi impor tersebut diklaim telah terpangkas drastis hingga 90%, di mana impor yang tersisa difokuskan hanya untuk beras khusus atau beras industri.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan tren positif dengan menyentuh level 131,11 pada September 2026, yang mengindikasikan perbaikan daya beli dan penerimaan petani.
Oleh karena itu, Zulhas menegaskan bahwa penguatan swasembada pangan bersama Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar urusan ekonomi semata, melainkan menyangkut markah dan harga diri bangsa bagi jutaan rakyat yang menggantungkan hidup di sektor agraris.
“Kenapa harus swasembada? Karena swasembada itu kehormatan kita, Pak Dudung [Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman]. Kehormatan Bapak, kehormatan saya, kehormatan petani, nelayan, peternak Indonesia, yang jumlahnya hampir 100 juta lebih rakyat kita,” pungkasnya.




