Channel9.id – Cianjur. Konsorsium Riset Nusantara melaporkan adanya klaim temuan baru dari riset geofisika terpadu di Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, yang menyebut lokasi tersebut sebagai konstruksi berlapis hasil aktivitas manusia purba. Riset ini menyatakan Nusantara memiliki peran penting dalam sejarah peradaban awal dunia berdasarkan data geofisika terbaru.
Penelitian tersebut dipimpin oleh pakar geologi Danny Hilman Natawidjaja dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan menggunakan teknologi pemindaian Georadar, Tomografi Resistivitas, serta pengeboran inti. Hasil riset menyimpulkan Gunung Padang bukan sekadar bukit alami, melainkan struktur besar berlapis yang tersusun secara sistematis.
Tim peneliti menyebut penanggalan karbon pada sampel tanah organik dari kedalaman hingga 30 meter menunjukkan rentang usia antara 16.000 hingga 27.000 SM. Klaim ini digunakan untuk menyatakan keberadaan aktivitas manusia jauh sebelum periode yang selama ini dikenal dalam sejarah konvensional.
Selain itu, riset tersebut mengungkap temuan batuan lava andesit di dalam inti struktur yang disebut disusun dalam pola geometris tertentu. Tim juga menilai temuan tersebut memiliki kaitan dengan anomali magnetik bumi berdasarkan analisis fisika-geologi yang mereka lakukan.
Peneliti Utama Konsorsium Riset Nusantara M. Arzili menyatakan Gunung Padang merupakan simpul utama jaringan peradaban global purba yang mereka istilahkan sebagai Node 01 atau Master Server. Klaim ini dikaitkan dengan narasi peradaban era Adam, Nuh, dan Sulaiman yang disebut terhubung secara global.
“Kita tidak sedang membicarakan tumpukan batu untuk pemujaan. Kita sedang membicarakan teknologi frekuensi. Gunung Padang adalah pusat data dan energi purba,” ujar Arzili melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (18/1/2026).
“Ketika terjadi bencana Zaman Es (Meltwater Pulse), sistem ini ‘offline’, dan para penyintasnya membawa ‘copy data’ ini ke Mesir dan Sumeria. Hari ini, sistem tersebut sedang melakukan booting ulang,” sambungnya.
Tim riset menilai temuan ini menantang pandangan arkeologi arus utama yang selama ini menempatkan Indonesia di pinggiran sejarah peradaban dunia.
Mereka juga mendesak pemerintah serta lembaga internasional membuka ruang debat ilmiah terbuka berbasis data eksakta terkait Gunung Padang.
HT





