Connect with us

Internasional

Utusan Khusus AS untuk Afghanistan Mengundurkan Diri

Published

on

Utusan Khusus AS untuk Afghanistan Mengundurkan Diri

Channel9.id-Afghanistan. Utusan khusus AS untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad dikabarkan mengundurkan diri setelah dua bulan Afghanistan jatuh kembali ke tangan Taliban, ungkap Kementerian Luar Negeri AS di hari Senin (18/10/2021).

Khalilzad akan digantikan oleh wakilnya, Tom West, tutur Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada pernyataannya, mengutip kalau West akan bekerja sama dengan kedutaan AS Afghanistan yang kini berada di Doha.

Seorang narasumber yang tak ingin disebutkan namanya menyebutkan kalau Khalilzad sudah mengajukan pengunduran dirinya di hari Jumat.

Baca juga: G20 Sepakat Tangani Krisis Kemanusiaan di Afghanistan

Khalilzad, yang lahir di Afghanistan, menduduki jabatannya sejak tahun 2018 dan memimpin negosiasi dengan Taliban yang berujung dengan kesepakatan di bulan Februari 2020 kalau pasukan AS akan mengundurkan diri di tahun 2021.

Ia lalu menekan Kelompok Taliban dan Presiden Ashraf Ghani untuk melakukan negosiasi mengenai situasi politik negara setelah ketegangan mereka selama bertahun-tahun.

Dalam pertengahan bulan Agustus, Afghanistan jatuh kembali ke kekuasaan Afghanistan setelah mereka masuk ke ibu kota dan menduduki Istana Kepresidenan tanpa adanya perlawanan. Khalilzad kemudian mencari bantuan militer di AS dan melakukan evakuasi para warga AS dan juga warga Afghanistan yang dulu pernah membantu pemerintah Amerika.

Para pejabat AS mengatakan kepada Reuters kalau dalam tiga tahun Khalilzad menjabat, ia akan diingat sebagai tokoh dibalik salah satu kegagalan diplomatik terbesar AS dalam sejarah.

Salah satu pejabat AS yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan kalau diplomat veteran Amerika itu sudah tidak mempunyai pengaruh terhadap Taliban, terus-menerus melemahkan pemerintah Afghanistan dan mempunyai niat yang kecil dalam mendengarkan pandangan berbeda dari Pemerintahan AS.

CNN adalah media pertama yang melaporkan pengunduran diri Khalilzad.

(RAG)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

Pria 69 Tahun Selamat Setelah 22 Jam Terombang-Ambing di Lautan

Published

on

By

Pria 69 Tahun Selamat Setelah 22 Jam Terombang-Ambing di Lautan

Channel9.id-Jepang. Seorang pria berusia 69 tahun berhasil selamat setelah sempat menghilang selama 22 jam di daerah selatan laut Jepang, Rabu (1/12/2021). Ia ditemukan sedang duduk di perahunya yang terombang-ambing dan menyelimuti dirinya dengan kain terpal.

Sebuah video penyelamatan, yang diambil oleh Petugas Patroli Lautan, menunjukkan seorang petugas yang melompat ke air laut yang berombak dan berenang menuju kapal yang sudah hampir tenggelam tersebut, dimana pria itu terlihat sedang menyelimuti dirinya dengan kain terpal.

Pria tua tersebut, yang pihak Petugas Patroli Lautan katakan berasal dari Jepang, terus berdiam diri disaat tim penyelamat mulai memanjat ke perahunya, kemungkinan karena ia merasa kedinginan.

Sebuah tali dikaitkan ke perahunya, dan mereka menarik perahu pria tersebut ke arah perahu tim patroli agar para kru bisa mengangkut pria tersebut. Temperatur air saat itu hampir mencapai 23 derajat Celcius dan angin bertiup kencang bersamaan dengan awan mendung yang menutup cahaya matahari.

Pria tersebut, yang namanya tidak disebutkan oleh pihak otoritas, bekerja sendirian untuk sebuah proyek pelabuhan Yakushima ketika perahunya mulai tenggelam.

Rekan kerjanya menghubungi Petugas Patroli Lautan dan ia ditemukan sehari setelahnya. Ia ditemukan sekitar 30km dari Pelabuhan Onoaida di Yakushima.

Pihak berwajib menyebutkan kalau ia hanya mengalami luka ringan.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Korsel Laporkan Kasus Terbesar Saat Ancaman Omicron

Published

on

By

Korsel Laporkan Kasus Terbesar Saat Ancaman Omicron

Channel9.id-Korea Selatan. Korea Selatan melaporkan kasus harian terbesar terbarunya sebanyak 5,123 ditengah-tengah upaya mereka dalam menahan jumlah pasien kritis dan mencegah adanya varian Omicron, ungkap Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) pada hari Rabu (1/12/2021).

Pemerintah pada hari Senin menunda rencana untuk melonggarkan peraturan Covid-19 dikarenakan melonjaknya penduduk yang dirawat dan meninggal, ditambah dengan adanya ancaman baru dari varian baru yang lebih berbahaya dari Delta.

Saat ini dilaporkan kalau rumah sakit Korsel sedang merawat 723 pasien yang mengalami kondisi serius karena Covid-19. Jumlah pasien kritis melonjak tinggi dari bulan November yang hanya mencapai dibawah angka 400.

Kapasitas ruang ICU di wilayah Seoul sudah mencapai 89.2%, ujar pejabat senior kesehatan Son Young-Rae dalam jumpa pers.

Untuk mengurangi beban rumah sakit dan pusat perawatan, Korea Selatan pada minggu ini mulai membuat program perawatan di rumah untuk mereka yang mengalami gejala ringan agar yang dirawat di rumah sakit hanya untuk mereka yang mengalami kondisi krisis.

Lebih dari 84% pasien kritis Covid-19 berusia diatas 60 tahun. Para ahli menekankan kalau antibodi dari vaksin terus menurun dan meminta para lansia untuk mendapatkan dosis ketiganya.

Pemerintah akan memobilisasi struktur administratif agar dapat memberikan tambahan kamar rumah sakit, setidaknya sekitar 1,300 pada pertengahan bulan Desember, ujar Menteri Dalam Negeri Jeon Hae-Cheol dalam pertemuan tanggap Covid-19.

Ia juga menyerukan agar diperketatnya langkah-langkah pencegahan penularan Covid-19 dalam responsnya terhadap varian baru Omicron. Hal ini juga diserukan karena adanya kemungkinan kasus Omicron setelah ada seseorang yang masuk ke Korsel dari Nigeria.

Sejauh ini Korea Selatan belum melaporkan adanya kasus Covid-19 Omciron/

Jumlah kasus hari Selasa itu telah membuat total jumlah warga terinfeksi Covid-19 menjadi 452,350, dengan 3,658 diantaranya harus meregang nyawanya. Data dari KDCA menunjukkan walaupun adanya pelonjakan pasien di rumah sakit, angka kematian saat ini masih relatif rendah.

Jumlah warga Korea Selatan yang sudah divaksin sudah hampir mencapai 80% dari total populasi 52 juta orang. Vaksin dosis ketiga untuk mereka yang berusia 18 sampai 49 tahun akan segera diberikan pada hari Sabtu nanti.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Rusia Ancam Balik Peringatan dari NATO dan AS

Published

on

By

Rusia Ancam Balik Peringatan dari NATO dan AS

Channel9.id-Rusia. Rusia akan merasakan konsekuensi yang besar jika ada agresi militer yang baru terhadap Ukraina, kutip peringatan dari NATO dan Amerika Serikat pada hari Selasa lalu, Rabu (1/12/2021). Peringatan itu dikeluarkan setelah aliansi militer Barat bertemu untuk mendiskusikan berkumpulnya militer Rusia di dekat perbatasan Ukraina.

Presiden Vladimir Putin membalas dengan menyebutkan kalau Rusia terpaksa akan mengambil tindakan jika NATO menaruh pangkalan rudal di Ukraina yang dapat menyerang Rusia dalam hitungan menit.

Ukraina, yang dulu merupakan bagian dari Uni Soviet dan sekarang ingin bergabung dengan Uni Eropa dan NATO, telah menjadi titik utama konflik antara Rusia dengan negara-negara Barat setelah hubungan kedua kubu tersebut kian memburuk setelah usainya Perang Dingin.

“Akan ada konsekuensi besar yang harus dibayar oleh Rusia jika mereka kembali menggunakan kekuatannya terhadap Ukraina,” ujar Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg kepada para wartawan.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan kembali pernyataan dari Stoltenberg dengan mengatakan: “Segala macam tindakan provokatif dari Rusia akan menjadi perhatian khusus untuk Amerika Serikat, dan segala tindakan agresi baru akan memicu konsekuensi besar bagi mereka,” jelasnya.

Tensi tengah memanas dalam beberapa minggu ini dengan Rusia, Ukraina dan NATO melakukan latihan militernya disaat mereka semua saling menuduh.

Putin kembali menegaskan soal “garis merah” Rusia di Ukraina dan menyatakan kalau mereka akan mengambil tindakan jika NATO menyebarkan sistem misil canggih di Ukraina.

“Jika ada semacam sistem senjata hipersonik yang muncul di Ukraina, bayangkan waktu penerbangan ke Moskow memakan waktu selama 7-10 menit dan senjata hipersonik itu bisa terbang ke Moskow dalam lima menit saja. Bayangkan,” ujar pemimpin Istana Kremlin itu.

“Apa yang harus kami lakukan dalam skenario seperti itu? Kami harus membuat sesuatu yang dapat merespon tindakan ancaman tersebut. Dan sekarang kita bisa melakukannya,” ujarnya yang mengutip senjata hipersonik Rusia.

(RAG)

Continue Reading

HOT TOPIC