Nasional

Webinar Olimpiade Geografi dan Geosains FITB ITB 2024, Bahas Inisiatif Global untuk Atasi Darurat Iklim

Channel9.id – Jakarta. Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar webinar dalam rangkaian acara Olimpiade Geografi dan Geosains (OGG) 2024. Webinar bertajuk “IGNITE: Inspiring Global Initiatives to Tackle Climate Emergency” ini mengundang para ahli untuk membahas tentang berbagai inisiatif global untuk mengatasi krisis iklim.

Acara yang digelar pada Minggu (9/6/2024) ini dimulai pada pukul 09:00 WIB. Ada tiga pembicara utama dari kalangan akademisi dan peneliti, di antaranya Peneliti Ahli Utama Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Erma Yulishatin, Dosen ITB KK Sains Atmosfer Dr. Joko Wiratmo, dan Direktur Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Tiza Mafira.

Prof. Erma menekankan pentingnya penerapan teknologi untuk menangani darurat iklim. Beberapa teknologi penting yang dapat dikembangkan di Indonesia antara lain; SRIRAMA, sebuah Sistem Informasi Perubahan Iklim Indonesia untuk memantau perubahan iklim; SEMAR, Sistem Embaran Maritim yang membantu nelayan dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem; KAMAJAYA, teknologi yang mendukung petani dalam menghadapi perubahan iklim.

Selain itu, ANTASENA, teknologi yang mendukung pengelolaan tambak; serta KRESNA, teknologi tambahan yang berfungsi dalam mitigasi perubahan iklim.

Ia mengungkapkan bahwa variabilitas iklim sebelum tahun 1980 lebih dipengaruhi oleh faktor alam. Namun, setelah tahun 1980, perubahan iklim lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia.

“Pada Februari 2024, suhu global telah meningkat sebesar 1,64 derajat celsius, lebih cepat dari proyeksi yang seharusnya terjadi pada Agustus 2033. Kenaikan ini mengakibatkan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem hingga 1,5 kali lipat dari sebelumnya,” ujar Prof. Erma.

Menurutnya, ada beberapa konsekuensi dari kenaikan suhu ini. Salah satunya adalah El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang menunjukkan pola non-linear dengan kejadian La Niña yang lebih sering dan intensitas El Niño yang lebih kuat.

Konsekuensi lainnya yaitu perubahan musim di Indonesia dengan durasi musim hujan yang lebih panjang dan perubahan pola musim di beberapa wilayah.

“Cuaca ekstrem di Indonesia yang dipengaruhi oleh berbagai mekanisme seperti CENS-CT, squall line di Samudra Hindia, Mesoscale Convective Complex (MCC) di Laut Banda, dan siklon tropis di sekitar Laut Banda dan Maluku, yang memperumit model prediksi cuaca dan iklim global,” tutur Prof. Erma.

Sementara itu, Dr. Joko Wiratmo menyoroti perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Menurutnya, hampir seluruh dunia mengalami perubahan iklim yang signifikan.

Ia menjelaskan, peningkatan suhu dari 1,5 derajat celsius menjadi 2 derajat celsius akan meningkatkan frekuensi gelombang panas ekstrem dari 14 persen menjadi 37 persen. Ia mengingatkan, kondisi ini tidak boleh dibiarkan terjadi.

“Jika tidak ada tindakan tegas, suhu global bisa naik hingga 4 derajat celsius pada tahun 2100,” jelas Dr. Joko.

Lebih lanjut, Dr. Joko juga menekankan pentingnya mengurangi konsentrasi karbon di atmosfer. Konsentrasi karbon ini dapat dipantau melalui kalkulator jejak karbon di situs UNFCCC. Bukti perubahan iklim dapat dilihat dari penyimpangan grafik curah hujan dan peningkatan indeks bahaya iklim.

Pembicara terakhir dalam webinar ini, Tiza Mafira, menjelaskan tentang proses pembuatan kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim. Ia menekankan bahwa kebijakan lingkungan harus melalui proses yang melibatkan berbagai pihak, dari perencanaan hingga implementasi dan evaluasi.

Ia menjelaskan bahwa proses ini dimulai dengan pengakuan publik terhadap kebutuhan kebijakan, kemudian isu tersebut masuk dalam agenda kebijakan. Setelah itu, berbagai opsi kebijakan tersebut dipertimbangkan dengan melihat sumber daya dan kendala yang dimiliki.

“Implementasi kebijakan harus dilakukan dengan cermat dan hasilnya dievaluasi untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut mencapai tujuannya. Dengan kerangka kerja yang kuat dan partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan, kebijakan lingkungan dapat berfungsi efektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim,” jelas Tiza.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  54  =  55