Connect with us

Lifestyle & Sport

Produser Beri Spoiler Wonder Woman 1984

Tayang

,

Channel9.id-Jakarta. Di sekuel film Wonder Woman 1984, Wonder Woman (Gal Gadot) didera kesepian setelah kematian kekasihnya, Steve Trevor (Chris Pine)

Dikutip dari AsieOne, Produser Charles Roven menyatakan kepada Entertainment Weekly bahwa sekuel Wonder Woman akan menyetting latar waktu 70 tahun setelah film pertama. Selama jeda waktu itu, tokoh Diana yang abadi merasa kehilangan rekan-rekannya. “Diana tak hanya kehilangan Steve Trevor. Ia kehilangan hampir semua orang yang penting baginya karena mereka tidak abadi. Hidupnya sepi dan sederhana,” terang dia.

Roven pun menyebutkan, salah satu sumber kebahagiaan Diana ialah saat dirinya membantu orang yang kesulitan.

Gal Gadot mengaku dirinya cocok beradu akting dengan Chris Pine. Ia turut memuji Pine karena merangkul dinamika gender yang berbeda dari seri film Wonder Woman. “Tidak ada tes chemistry. Kami memilikinya. Chris menikmati (bermain di film). Ia merasa tertantang dengan cara yang sangat menyenangkan dan lucu,” sambungnya.

Di film pertama Wonder Woman, Steve Trevor bunuh diri dengan meledakkan pesawat berisikan gas beracun. Tetapi, ia dikabarkan akan muncul dalam Wonder Woman 2.

Dalam wawancara tersebut, aktor Pedro Pascal mengatakan karakter jahat yang ia perankan, Maxwell Lord, merupakan simbol keserakahan pada 1980-an. Ia bahkan menyebut Max sebagai penjual mimpi. “Karakter ini yang meliputi komponen zaman ini yakni melakukan apa yang kita mau dan bagaimanapun caranya kita berhak mendapatkan yang diinginkan. Itu menjadi budaya. Itu tamak,” kata dia.

Wonder Woman dijadwalkan tayang pada 4 Juni 2020.

Secara garis besar, Wonder Woman 1984 akan mengisahkan aksi Diana melawan Cheetah, perubahan wujud dari Barbara Ann Minerva. Karakter tersebut pertama kali muncul dalam komik Wonder Woman Vol. 2 #7 (1987).

Barbara Ann Minerva adalah arkeolog asal Inggris yang melakukan penelitian ke Afrika. Di sana, ia bertemu salah satu suku di mana terdapat perempuan dengan kekuatan seekor cheetah. Ia kemudian berubah menjadi Cheetah dan terobsesi mendapatkan senjata yang dimiliki Wonder Woman, seperti lasso of truth.

(lutfia harizuandini)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Pengrajin Eva Sanjaya Bersama Komunitas Buldom Crafter Sulap Limbah Bulu Domba Jadi Boneka

Published

on

By

Channel9.id-Sidoarjo. Limbah bulu domba kini bernilai ekonomi, dari tangan salah satu Pengrajin Eva Sanjaya bersama komunitas buldom crafter, limbah bulu domba di manfaatkan menjadi boneka, lukisan, bunga dan kerajinan lainnya, kerajinan ini berpusat di perumahan Griya Samudra Asri, Desa Kramat Jegu, Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.

Kerajinan dari bulu domba ini dijual dengan harga Rp 50.000 – Rp 900 ribu dan sudah di pasarkan ke Sidoarjo, Surabaya, Jember, Bondowoso hingga Aceh.

“Awal pemanfaatan bulu domba ini setelah melihat banyaknya limbah bulu domba dari sejumlah peternak di Sidoarjo. Daripada dibuang percuma” ucap Eva, selasa (4/8/20).

Dia menerangkan, bulu domba lebih dulu dihaluskan dan diberi pewarna tekstil sebelum disulap menjadi kerajinan. Kemudian, bulu domba dirangkai dengan jarum dan kertas khusus untuk menjadi lukisan.

Dalam sehari, Eva bersama komunitasnya mampu memproduksi 20 boneka dan dua lukisan bulu domba.

Eva bersama komunitas buldom crafter juga beberapa kali mengikuti pelatihan dan pameran, baik di jawa maupun luar jawa. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki kualitas serta memperluas pangsa pasar.

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Belajar Online Melulu, Berikut Cara Agar Anak Tak Kecanduan Gawai

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Masih banyak sekolah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PPJ) hingga saat ini. Alasan utama penerapan sistem ini ialah untuk mencegah penularan Covid-19.

Situasi pandemi ini memang memaksa anak-anak untuk lebih banyak tinggal di rumah dan mengikuti PJJ. Namun, kemudian muncul kekhawatiran soal penggunaan gawai atau ponsel yang tidak terkontrol.

Pasalnya, durasi waktu menatap layar saat ini meningkat dibanding masa sebelumnya. Oleh karenanya, Sekretaris Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dr Catharine Mayung Sambo, SpA(K) mengatakan anak-anak harus mendapat perhatian khusus dari orang tua, demi menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan gawai.

IDAI pun menyarankan sejumlah hal berikut ini agar anak tidak terlalu terikat dengan gawai.

1. Gunakan gawai sesuai usia
Untuk anak sekolah penggunaannya sesuai keperluan sekolah. Sedangkan, adik-adik yang lebih kecil tidak usah pakai gawai dulu.

2. Beri waktu dan ruang khusus
Orang tua mesti menyiapkan ruangan khusus untuk anak belajar di rumah. Tujuannya agar anak belajar di rumah dengan efektif dan orang tua bisa mengawasi penggunaan gawainya.

“Kalau sudah selesai waktunya (belajar), keluarlah dari ruangan tersebut dan tinggalkan gawainya di situ,” ujar dr Mayung, Senin (3/8).

3. Variasikan kegiatan
Orang tua sebaiknya selalu mendampingi anak dan mendiskusikan aktivitas selanjutnya yang akan mereka lakukan, setelah menggunakan gawai. Terlebih lagi jika anak masih di usia pra-sekolah.

4. Atur jadwal istirahat
Perhatikan jadwal istirahat anak. Setelah lelah menatap gawai, berikan anak waktu untuk istirahat. Misalnya dengan melakukan aktivitas fisik atau bermain.

Misalnya, setelah 45 menit hingga 1 jam menggunakan gawai, anak diajak bermain interaktif, makan, dan melakukan aktivitas fisik.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Ramai Gilang Kain Jarik, Fetish tidak Melulu Penyakit Mental

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Beberapa hari terakhir, netizen dibuat geger dengan kasus Gilang bungkus kain jarik. Banyak orang yang akhirnya mengaku pernah menjadi korban penelitian palsu yang dilakukan Gilang.

Dikatehui, Gilang, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga meminta korbannya untuk membungkus dirinya sendiri. Kemudian, korban diminta mendokumentasikan dan mengirimkannya kepada Gilang.

Sebenarnya, ketertarikan seksual terhadap benda yang dianggap aneh tak hanya dilakukan oleh Gilang bungkus jarik. Ada banyak orang yang memiliki ketertarikan seksual dengan sepatu, patung, kayu, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, apakah ketertarikan seksual terhadap objek-objek aneh termasuk dalam penyakit mental? Mengutip dari Live Science, pertanyaan tersebut memiliki jawaban kondisional. Bisa saja ketertarikan seksual termasuk dalam penyakit mental, tapi tidak seharusnya.

Hasrat seksual terhadap hal tertentu yang dianggap menyimpang bisa disebut dengan fetish. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders mendeskripsikan fetish sebagai pengalaman multisensor.

Fetisisme adalah salah satu ketertarikan tak biasa yang dapat menyebabkan penyimpangan. Hal itu juga dikenal dengan sebutan paraphilias. Fetisisme tergolong sebagai penyimpangan jika sudah melewati batas, seperti membahayakan orang lain.

Dalam kasus Gilang bungkus kain jarik, fetis yang dimiliki tidak akan menjadi masalah jika tidak membahayakan orang lain. Namun, apa yang dilakukan Gilang ternyata sangat merugikan korban-korbannya. Hal itu tergolong dalam fetishistic disorder atau penyimpangan fetish.

Terkadang, tidak semua orang yang memiliki fetish merasa nyaman karena ia percaya bahwa ketertarikan seksualnya menyimpang. Hal penting yang perlu dilakukan saat memiliki fetish adalah mengaturnya agar tidak melewati batas dan merugikan orang lain.

IG

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC