Channel9.id, Jakarta. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Januari 2026 ternyata nyaris memuncak menjadi operasi militer terbuka. Namun, menurut laporan Washington Post, rencana serangan udara tersebut berubah arah setelah masuknya informasi intelijen dan diplomatik yang dinilai dapat mengubah kalkulasi politik Gedung Putih.
Laporan itu menyebutkan, hingga Rabu pagi pekan lalu, sejumlah pemimpin negara di Timur Tengah dan pejabat senior AS meyakini bahwa Presiden Donald Trump tengah berada pada titik final untuk menyetujui opsi serangan militer terhadap Iran. Keyakinan itu dipicu oleh pernyataan Trump sehari sebelumnya yang menjanjikan “bantuan sedang dalam perjalanan” kepada para demonstran Iran dan mendesak mereka menantang institusi-institusi negara.
Situasi tersebut membuat para penasihat keamanan nasional bersiap pada skenario operasi yang berlangsung hingga malam hari. Washington Post menulis bahwa Gedung Putih telah membahas beberapa opsi militer dan menunggu persetujuan presiden.
Sinyal eskalasi juga muncul di medan operasi. Pentagon mengumumkan kapal perusak USS Roosevelt—berbekal rudal berpemandu—telah memasuki Teluk Arab. Sumber yang dikutip Washington Post mengatakan bahwa sekutu-sekutu Amerika telah menerima pemberitahuan awal mengenai potensi operasi, sementara kapal dan pesawat militer ditempatkan dalam posisi siaga.
Namun rangkaian langkah menuju serangan itu terhenti pada Rabu setelah Presiden Trump menerima laporan dari utusan Steve Witkoff mengenai perubahan sikap otoritas Iran terhadap para demonstran. Menurut seorang pejabat senior AS yang dikutip Washington Post, pihak berwenang Iran dikabarkan membatalkan rencana eksekusi mati terhadap sekitar 800 tahanan.
Informasi baru tersebut dianggap sebagai elemen diplomatik yang menunda keputusan militer dan membuka kembali jalur negosiasi berbasis tekanan politik ketimbang serangan bersenjata.





