Channel9.id, Jakarta. Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Selain menghadapi Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran kini berpotensi berhadapan dengan tiga negara Eropa: Prancis, Jerman, dan Inggris.
Pada Minggu, para pemimpin ketiga negara itu menyatakan siap melindungi kepentingan dan sekutu mereka di kawasan Teluk. Mereka membuka kemungkinan mengambil “tindakan defensif” terhadap Iran bila situasi terus memburuk.
Dalam pernyataan bersama yang dikutip AFP, mereka mengecam serangan rudal Iran yang dinilai sembarangan dan tidak proporsional. Serangan tersebut bahkan menyasar negara-negara yang tidak terlibat dalam operasi militer awal AS dan Israel.
“Serangan sembrono Iran telah menargetkan sekutu dekat kami dan mengancam personel militer serta warga sipil kami di seluruh kawasan,” bunyi pernyataan itu.
Mereka mendesak Iran segera menghentikan serangan tersebut. Ketiganya juga menegaskan siap mengambil langkah yang diperlukan dan proporsional untuk menghentikan kemampuan Iran meluncurkan rudal dan drone, termasuk bekerja sama dengan AS serta sekutu di kawasan.
Sebelumnya, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk. Teheran menyatakan serangan itu menargetkan pangkalan militer AS, sebagai respons atas serangan rudal AS-Israel sejak Sabtu.
Seorang juru bicara militer Jerman menyebut serangan Iran menghantam pangkalan militer multinasional di dekat Arbil, Irak utara, serta kamp tentara Jerman di timur Yordania. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan mengumumkan serangan “skala besar” pada Minggu. Ledakan dilaporkan terdengar di Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, hingga Tel Aviv.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei sebagai “deklarasi perang terhadap Muslim”. Ia menegaskan Iran menganggap pembalasan sebagai kewajiban dan hak yang sah.
Senada, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya akan membela diri tanpa batas. “Kami membela diri dengan cara apa pun dan tidak melihat batasan untuk melindungi rakyat kami,” ujarnya kepada ABC News.





