Connect with us

Internasional

Tuntut Upah yang Adil, Karyawan Google Dirikan Serikat Pekerja

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Sebuah artikel opini yang ditulis oleh para pemimpin serikat pekerja di New York Times mengungkapkan lebih dari 200 karyawan Google di Amerika Serikat telah membentuk sebuah serikat pekerja.

Serikat pekerja bernama ‘Alphabet Workers Union’ itu bertujuan untuk memastikan para karyawan dipekerjakan dengan upah yang adil, tanpa dibayang-bayangi rasa khawatir terhadap tindak pelecehan, pembalasan atau diskriminasi, demikian dinyatakan oleh ketua serikat pekerja itu lebih lanjut.

Google mendapat kecaman dari sejumlah penentu kebijakan ketenagakerjaan AS, yang menuduh perusahaan teknologi itu secara tidak sah menanyai beberapa pekerja yang kemudian dipecat akibat menyuarakan protes terhadap kebijakan perusahaan dan dukungan untuk upaya pembentukan serikat pekerja. Google menyatakan yakin bahwa perusahaan telah mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Baca juga: Down Secara Global, Google Sebut Karena Masalah Internal 

“Kami sedang mengembangkan organisasi selama bertahun-tahun di Google untuk menciptakan struktur formal bagi para pekerja,” tulis para pemimpin serikat itu dan sekaligus menambahkan hingga berita ini diturunkan sebanyak 226 karyawan telah menandatangani kartu anggota serikat pekerja dengan Communications Workers of America.

“Karyawan kami telah dilindungi oleh hak-hak tenaga kerja yang kami dukung. Namun, seperti yang selalu kami lakukan, kami akan tetap melibatkan diri secara langsung dengan seluruh karyawan,” demikian dikemukakan oleh Kara Silverstein, direktur operasional urusan pegawai di Google.

IG

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

Timteng Berpotensi Pecah Perang, Ahmadinejad Mewanti-wanti Negaranya

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad periode 2005-2013 mewanti-wanti  Presiden Iran negaranya mengenai potensi perang yang sudah direncanakan di Timur Tengah dan Teluk. Dia juga menginatkan presiden Iran Hassan Rouhani serta para pejabat Iran lainnya untuk mencegah pecahnya perang dengan mengambil tindakan yang diperlukan dan mendesak.

“Semua perkembangan, posisi, dan berita yang diterbitkan di berbagai media di seluruh dunia menunjukkan bahwa perang destruktif baru telah direncanakan di Timur Tengah dan Teluk,” ujar Ahmadinejad dalam sebuah surat yang ditujukan ke Rouhani dikutip laman Middle East Monitor, Rabu (13/1).

“Saya berharap Anda, sebagai Presiden Republik Islam melakukan segala upaya ke arah ini untuk mencegah pecahnya perang,” sambung Ahmadinejad.

Baca juga: Jenderal Iran Tewas, Wall Street Tumbang 

Ahmadinejad mengakhiri suratnya dengan menekankan tidak ada keraguan negara-negara di kawasan ini akan berterima kasih kepada para pejabat yang, dengan kecerdasan dan rasa tanggung jawabnya, akan mencegah kerusakan material dan spiritual yang dapat terjadi karena perang.

Hingga kini Iran memiliki ketegangan hubungan dengan beberapa negara, seperti dengan Amerika serikat (AS) sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Sejak itu, AS kembali menerapkan sanksi terhadap Iran yang sangat membebani masyarakatnya. Sebagai pembalasan, Iran kerap melanggar kesepakatan Nuklir dengan terus memperkaya uranium.

IG

Continue Reading

Internasional

Astaga, Harun Yahya Divonis 1.075 Tahun Penjara oleh Pengadilan Turki

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Majelis Hakim pengadilan Turki menjatuhkan hukuman penjara seribu tahun lebih kepada penceramah Muslim, Adnan Oktar alias Harun Yahya (64), karena terbukti melakukan kejahatan seksual.

Seperti dilansir cnnindonesia, amar putusan hakim menyatakan menjatuhkan vonis 1.075 tahun penjara karena terbukti melakukan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap orang di bawah umur.

Dia juga terbukti melakukan penipuan dan mencoba memata-matai pemerintah dalam hal politik dan militer.

Baca juga: Gempa di Turki  dan Yunani Tewaskan 39 Orang 

Dalam kasus yang melibatkan Oktar, aparat penegak hukum Turki menangkap 236 tersangka yang diadili. Sebanyak 78 di antaranya ditahan.

Oktar ditangkap pada Juni 2018 setelah kepolisian Turki menyelidiki dugaan kejahatan keuangan yang dilakukan oleh dia dan organisasi yang dibentuknya.

Selama sidang, hakim, jaksa serta terdakwa mendengarkan sejumlah kesaksian korban yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Oktar.

Seorang saksi korban berinisial CC mengaku dia dan sejumlah perempuan lain kerap diperkosa dan dilecehkan oleh Oktar.

Menurut pengakuan CC, Oktar memaksa sejumlah perempuan yang dia perkosa untuk meminum pil kontrasepsi.

Polisi juga menemukan 69 ribu pil KB di kediaman Oktar. Dia berdalih pil itu digunakan untuk mengobati kelainan di kulit dan menstruasi.

Oktar membantah dia mempunyai hubungan dengan pemuka agama Muslim, Fethullah Gulen, yang saat ini menjadi buronan pemerintah Turki karena dianggap sebagai dalang upaya kudeta pada 2016. Gulen saat ini bermukim di Amerika Serikat.

Oktar mengakui di depan hakim dia mempunyai seribu orang kekasih.

“Saya mencurahkan banyak cinta untuk perempuan. Cinta adalah kualitas seorang manusia. Cinta membuktikan kualitas seorang Muslim,” kata Oktar dalam sidang pada Oktober 2020 silam.

Oktar pertama kali mencuri perhatian masyarakat pada 1990-an karena menjadi pemimpin sebuah sekte yang kemudian terkait dengan sejumlah kasus skandal seks.

Dia lantas menulis buku `Atlas Penciptaan` dengan nama pena Harun Yahya, untuk menyangkal Teori Evolusi Charles Darwin. Nama pena itu adalah gabungan dari dua nama nabi, Yakni Nabi Harun dan Nabi Yahya.

Oktar lantas meluncurkan stasiun televisi miliknya, A9, pada 2011. Dalam seluruh kegiatan dan ceramahnya, dia selalu dikelilingi oleh sejumlah perempuan yang menari-nari.

Tayangan ceramahnya di stasiun televisi itu lantas mengundang kecaman dari para pemuka agama Islam di Turki.

IG

Continue Reading

Internasional

Kongres Resmi Tetapkan Joe Biden Pemenang Pilpres AS

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kongres AS telah resmi menetapkan Joe Biden sebagai pemenang Pilpres AS 2020, pada Kamis (07/01) pagi waktu setempat. Politisi partai Republik itu sah menjadi Presiden AS ke-46.

Dilansir New York Times, kepastian itu disahkan Kongres yang mengonfirmasi kemenangan Electoral College Joe Biden pasca kerusuhan yang dilakukan massa pendukung Donald Trump yang menyerbu Capitol Hill pada Rabu (06/01). Massa yang datang ingin mengganggu proses persidangan.

Seperti diketahui, ribuan massa pendukung Trump menyerbu dan menduduki Capitol Hill untuk mengganggu penghitungan akhir pemilihan. Insiden tersebut mengejutkan dan mengguncang demokrasi AS.

Baca juga: Massa Trump Serbu Capitol Hill, Seorang Wanita Tewas 

Aksi tersebut dipicu oleh komentar yang bernada hasutan Trump atas klaim palsu jika dirinya kalah lantaran telah dicurangi. Trump seringkali mengeluarkan komentar miring terkait hasil pilpres. Ia dinilai tidak dapat menerima kekalahannya dari Biden. Namun, pada Kamis (07/01) pagi, Trump menyatakan dirinya akan menghormati hasil pemilu.

“Meski saya sama sekali tidak setuju dengan hasil pemilu, dan fakta membuktikan, namun akan ada transisi tertib pada 20 Januari,” ujarnya beberapa saat setelah kemenangan Joe Biden disahkan.

Sebelumnya, rapat senat sempat dihentikan lantaran insiden serbuan massa yang mengakibatkan tewasnya seorang wanita pendukung Trump. Ia tertembak di bagian leher.

Kini, Partai Republik dan Demokrat bergandengan tangan untuk mengecam kekerasan dan mengungkapkan tekad mereka untuk melaksanakan apa yang mereka sebut fungsi sakral secara konstitusional.

“Kepada mereka yang mendatangkan malapetaka di Capitol kita hari ini, Anda tidak menang,” kata Wakil Presiden Mike Pence.

“Kekerasan tidak pernah menang. Kebebasan menang. Dan ini masih rumah rakyat,”sambungnya.

Sementara itu, Senator Mitch McConnell, Republik Kentucky dan pemimpin mayoritas, mengatakan “pemberontakan yang gagal”. “Mereka mencoba mengganggu demokrasi kita. Mereka gagal,”katanya.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC