Satgas PRR Fokus Perbaikan Jembatan
Nasional

Tito Karnavian Fokus Perbaikan Jalan dan Jembatan Fungsional Demi Pulihkan Konektivitas

Channeo9.id-Banda Aceh. Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menyatakan pemerintah kini memfokuskan pemulihan konektivitas wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada perbaikan jalan serta jembatan yang masih bersifat fungsional atau sementara.

Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari upaya pemulihan infrastruktur dasar yang secara umum telah menunjukkan kemajuan signifikan. Dengan semakin pulihnya jaringan transportasi, mobilitas masyarakat serta distribusi logistik mulai kembali normal.

Menurut Tito, sebagian besar jalan nasional dan jalan provinsi di wilayah terdampak saat ini telah dapat digunakan kembali sehingga aktivitas masyarakat mulai berjalan seperti biasa.

“Secara fungsional sudah relatif normal. Jalan nasional dan jalan provinsi sudah bisa digunakan, hanya ada satu di Lokop menuju Blangkejeren,” ujarnya di Banda Aceh, Jumat (6/3/2026) malam.

Berdasarkan data Satgas PRR per 10 Maret 2026, secara kumulatif terdapat 2.520 ruas jalan daerah yang terdampak bencana di tiga provinsi. Dari jumlah tersebut, 2.277 ruas atau sekitar 90 persen telah kembali fungsional.

Sementara itu pada jaringan jalan nasional, seluruh ruas yang terdampak telah kembali berfungsi 100 persen sehingga konektivitas utama antarwilayah telah pulih sepenuhnya.

Untuk infrastruktur jembatan daerah, dari total 1.180 jembatan yang terdampak bencana, sebanyak 790 jembatan atau sekitar 67 persen telah kembali berfungsi. Adapun jembatan pada jaringan nasional juga telah pulih sepenuhnya.

Selain perbaikan jalan dan jembatan, pemulihan layanan dasar seperti listrik dan jaringan komunikasi juga terus dilakukan. Bagi desa-desa yang belum sepenuhnya teraliri listrik, pemerintah menyalurkan bantuan genset agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Seiring membaiknya akses infrastruktur tersebut, aktivitas ekonomi masyarakat juga mulai bergerak kembali. Pasar-pasar yang sebelumnya terganggu akibat banjir dan kerusakan infrastruktur kini berangsur kembali beroperasi.

Meski demikian, pemerintah tetap memprioritaskan penanganan sejumlah infrastruktur penghubung yang saat ini masih bersifat sementara, khususnya jembatan darurat yang dibangun pada masa tanggap darurat.

“Dalam pemulihan nanti yang dipermanenkan adalah jembatan, kemudian jalan-jalan yang saat ini masih bersifat fungsional,” kata Tito.

Dalam percepatan pemulihan konektivitas, pemerintah juga melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri melalui Satgas Jembatan yang bertugas membangun jembatan darurat di sejumlah titik terisolasi.

Secara kumulatif, lebih dari 150 jembatan darurat berbagai tipe—mulai dari Bailey, Armco, hingga jembatan perintis—telah selesai dibangun di wilayah terdampak, sementara puluhan lainnya masih dalam proses pemasangan. Infrastruktur tersebut menjadi langkah penting untuk membuka kembali akses antarwilayah yang sebelumnya terputus akibat bencana.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) bagi penyintas yang masih berada di tenda pengungsian. Tito menyebut sejumlah wilayah di Aceh masih membutuhkan tambahan unit huntara karena jumlah pengungsi yang masih cukup besar.

Karena itu, pembangunan unit huntara yang masih kurang akan dipercepat agar target pemindahan pengungsi dari tenda dapat segera tercapai.

“Yang masih kurang itu akan dibangun dan dipercepat. BNPB siap, Menteri PU siap, Danantara juga siap,” pungkasnya.

Baca juga: Satgas PRR Genjot Huntara dan DTH, Targetkan Pengungsi Tenda Nol Jelang Lebaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8  +  2  =