Channel9.id-Jakarta. Setelah buku ‘Broken Strings’ sukses best seller dan banyak yang mengunduh versi e-book, artis Aurelie Moeremans memastikan kalau ‘Broken Strings’ siap dibuat dalam versi film. Aurelie mengumumkan hal itu lewat unggahan di Broadcast Channel Instagramnya Broken Strings Circle.
Keputusan itu bukan sesuatu yang instan. Aurelie Moeremans mengaku sudah melalui berbagai pertimbangan, termasuk meeting bersama banyak production house (PH) dan sutradara.
“Akhirnya aku memutuskan untuk membawa ‘Broken Strings’ ke layar film,” tulis Aurelie.
Aurelie menegaskan keputusan tersebut ia ambil bukan didasarkan pada siapa yang paling menjanjikan viral atau menawarkan nilai terbesar.
“Aku memilih berdasarkan feeling aku, siapa yang benar-benar peduli dengan ceritaku, yang mau menyampaikan pesan ini dengan jujur, dengan hati, bukan hanya karena hype,” tulis Aurelie.
Perempuan 32 tahun ini mengaku sangat antusias menyambut perjalanan menuju penggarapan film ‘Broken Strings’.
Jika sudah tayang di layar lebar, ia berharap, Broken Strings bisa menjangkau lebih banyak orang supaya makin aware terhadap bahaya child grooming.
“Dan mungkin membantu seseorang merasa tidak sendirian,” tulis Aurelie.
Mengenai ‘Broken Strings’ yang akan dibuat dalam versi film. Aurelie mengatakan sudah ada PH yang tertarik untuk menggarapnya.
Namun, Aurelie masih merahasiakan PH mana yang akan menggarap Broken Strings. Sementara itu, terkait sutradara, Aurelie mengatakan belum ada keputusan final hingga saat ini.
“Untuk PH-nya sudah, untuk sutradara masih belum 100% fix,” kata Aurelie, Sabtu (21/3/2026).
Perlu diketahui, Aurelie membagikan pengalamannya menjadi korban grooming saat usia 15 tahun dalam buku ‘Broken Strings’. Grooming merupakan istilah yang merujuk pada kondisi ketika seorang anak berada di bawah manipulasi orang yang lebih dewasa.
‘Broken String’ adalah memoar emosional karya Aurelie yang dirilis pada Oktober 2025. Sebuah memoar yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya grooming dan membagikan proses pemulihan trauma.
Kontributor: Akhmad Sekhu





