Opini

Memoar Seorang Teladan: William Soeryadjaya

 Oleh: Rudi Andries*

Channel9.id-Jakarta. William Soeryadjaya adalah perwujudan nilai-nilai. Ia memberi teladan tentang kegigihan, integritas, dan networking yang kuat, yang mampu membangun salah satu konglomerasi bisnis terkuat di Asia Tenggara, PT Astra International. Bukan itu saja. William pun menunjukkan tanggung jawab, ketaatan hukum, dan keikhlasan ketika melepas Astra International, untuk mengatasi krisis yang dialami Bank Summa, tanpa harus mengemis bantuan penguasa, serupa BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), misalnya. Padahal, kalau mau sedikit bersiasat, William tak perlu sampai harus kehilangan Astra.

Tapi Astra bukan segalanya. Nilai-nilai kebaikan, bagi William, jauh lebih utama. Tentu, ia berusaha mempertahankan Astra agar tidak perlu terlepas. Tapi ia menolak jika harus kongkalikong. Itu sebabnya, setelah kehilangan Astra, ia malah menjadi sosok yang lebih terhormat, tetap mendapat kepercayaan tinggi di dunia bisnis, dan mampu membina keluarganya dalam menjalankan bisnis secara menguntungkan.

Nilai-nilai yang terwujud dalam sosok Willliam Soeryadjaya itulah yang  kini asing di kalangan generasi baru, generasi Z.  Media social  cenderung menjadikan generasi Z terpukau pada urusan permukaan. Mereka terpesona pada orang-orang berlimpah harta dan memuja sebutan “9 Naga” atau “Crazy Rich”—yang suka memamerkan kekayaannya di media sosial.

Padahal, karakter itulah yang paling panting. Nilai-nilai kebaikan itulah yang akan membentuk setiap orang mampu mengatasi tantangan hidupnya dengan baik. Apa yang ada pada seorang William Soeryadjaya bisa menjadi teladan. Itun sebabnya, memoar tentang seorang pengusaha nasionalis ini penting untuk diterbitkan dan disebarkan kepada semua orang—agar nilai-nilai yang ia jalani bisa menulari jiwa seluruh anak muda di negeri ini..

Berangkat dari gagasan itulah, pada 12 Juni 2024 ini, buku berjudul  “Semangat Hidup dan Pasrah kepada Tuhan: Memoar William Soeryadjaya”  akan diluncurkan.  Dalam memoar ini, akan dijelaskan bagaimana kerelaan dan pengorbanan seorang William Soeryadjaya ketika melapas Astra untuk menyelamatkan Bank Summa, yang tak mendapat pertolongan Bank Indonesia. Peristiwa di akhir era Orde Baru. Itu gtentu berbeda dengan pengalaman bank-bank lain yang malah mendapat BLBI.

Buku ini sudah disusun jauh sebelum Om Willem—begitu beliau akrab dipanggil—wafat pada 2 April 2010. Keluarga menginformasikan, manuskrip buku ini sudah tercipta sejak 21 tahun silam.

Peluncuran buku yang digelar pada Rabu, 12 Juni 2024, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akan dibuka dengan drama teater yang dimainkan kelompok Titi Wangsa. Pemntas itu akan dibintangi para aktris dan aktor terkenal seperti Reza Rahadian, Happy Salma, dan Verdi Solaiman. Satu lagi kejutan, yang belum diungkap dalam promosi flyer, adalah tampilnya sang cucu  bungsu, Latisha Soeryadjaya, dalam pentas teater pembuka.

Latisha lebih dikenal publik—terutama fashion– sebagai pemilik Nawa, brand fashion anak muda, generasi milenial dan Z. Tisha–panggilannya– lama tampil tanpa publik tahu bahwa dia adalah cucu sang konglomerat. Sang ibu, Atilah, istri Edward Soeryadjaya, meminta putrinya low profile, dan tak pernah menyebut-nyebut dirinya keturunan sang kakek.

Opa William–panggilan Latisha ke sang kakek– juga mengajarinya untuk sederhana, lewat sikap dan perilaku. Tisha juga mengenang sang kakek, sebagai orang yang penuh belas kasih. “Selalu bagi-bagi rejeki ke orang-orang yang menunggunya datang ke kantor.”

Dalam pagelaran dan peluncuran buku, yang rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo, Latisha tampil memainkan lakon berjudul “Om William Kita”. Pentas itu akan menjadi pembuka peluncuran buku memoar sang pendiri Astra, Om Willlem, the one and only, William Soeryadjaya.

Baca juga: Bisnis Batubara di Ambang Petang

*LAPEKSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19  +    =  22