Darmansjah Djumala
Internasional

Darmansjah Djumala: Jeda Dua Pekan AS-Iran Jadi Penentu Arah Konflik

Channel9.id-Jakarta. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati pada 8 Maret 2026 dinilai masih sangat rapuh, meski menjadi langkah penting untuk meredakan eskalasi konflik yang dalam beberapa waktu terakhir meningkat tajam.

Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Bidang (BPIP) Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, mengatakan kesepakatan tersebut belum dapat diharapkan menciptakan perdamaian permanen. Menurut dia, baik dari sisi substansi maupun dinamika di lapangan, gencatan senjata ini masih menyimpan banyak kerentanan.

“Gencatan senjata itu baik secara substantif maupun perkembangan di lapangan masih sangat rapuh. Meski demikian, ini perlu untuk menciptakan ruang bagi kedua pihak melakukan de-eskalasi kekerasan,” ujar Djumala dalam keterangannya, Kamis (9/3/2026).

Kesepakatan tersebut tercapai hanya beberapa jam sebelum tenggat ancaman militer dari Amerika Serikat terhadap Iran, yang mencakup potensi serangan terhadap infrastruktur vital seperti pembangkit listrik di Pulau Kharg, jembatan, dan fasilitas sipil lainnya.

Djumala menyambut baik komitmen kedua pihak untuk menghentikan sementara aksi militer selama dua minggu. Ia menilai langkah ini penting untuk membuka ruang bagi jalur diplomasi, sejalan dengan dorongan komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar permusuhan segera dihentikan demi melindungi warga sipil dan menjaga stabilitas global.

Namun, ia mengingatkan bahwa kompleksitas konflik serta tingginya tingkat ketidakpercayaan antara pihak yang bertikai menjadi tantangan serius. Sejumlah isu krusial seperti keamanan jalur pelayaran, penghapusan sanksi ekonomi, hingga pengayaan nuklir berpotensi memicu kembali eskalasi jika tidak dikelola secara hati-hati.

Selain itu, keterlibatan Israel dalam dinamika konflik turut menambah lapisan ketegangan yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat.

Djumala yang juga pernah menjadi Duta Besar Polandia dan Austria ini menegaskan, periode dua minggu ke depan menjadi sangat krusial. Jika tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk negosiasi yang konstruktif dan berorientasi jangka panjang, gencatan senjata justru berisiko menjadi pemicu konflik yang lebih besar.

“Alih-alih menciptakan perdamaian, periode ini bisa memicu konflik yang lebih tajam apabila tidak diniatkan untuk benar-benar mengakhiri permusuhan,” katanya.

Ia mendorong masyarakat internasional serta para aktor regional untuk terus mendukung proses dialog dan menahan diri dari langkah-langkah yang dapat memperkeruh situasi. Menurut dia, diplomasi harus menjadi jalan utama dalam menyelesaikan konflik, menggantikan pendekatan konfrontasi militer.

Gencatan senjata ini diharapkan tidak berhenti sebagai jeda sementara, melainkan menjadi titik awal menuju kesepakatan damai yang lebih komprehensif, berkelanjutan, dan berlandaskan hukum internasional.

Baca juga: Kemlu RI Harap Gencatan Senjata Iran-AS Jadi Momentum Damai Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

84  +    =  85