Nasional

Universitas Diminta Buka SPPG, Rektor UI: Dikaji Dulu di Unit Usaha Kampus

Channel9.id – Depok. Rektor Universitas Indonesia (UI) Heri Hermansyah merespons usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang menginginkan agar kampus membangun dan mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Heri menilai usulan tersebut sebaiknya dikaji terlebih dahulu oleh unit usaha naungan kampus.

“Universitas itu kan kita memiliki banyak unit usaha. Ada yang punya hotel misalnya. Misalnya kita UI punya Wisma Makara. Di dalam Wisma Makara itu ada dapur yang sudah biasa melayani masakan dan lain-lain untuk tamu hotel dan lain-lain,” kata Heri di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin (4/5/2026).

“Nah seandainya nanti ada MBG pun, SPPG ya, ini perlu dikaji terlebih dahulu ya. Tentunya bukan di universitasnya, tetapi di unit usahanya yang lebih relevan,” lanjutnya.

Ia menuturkan, tugas utama perguruan tinggi adalah pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia meminta agar pelaksanaan MBG diserahkan ke unit-unit usaha dari perguruan tinggi.

“Jadi bukan di universitasnya yang memiliki tugas yang sudah jelas, yaitu pendidikan, riset inovasi dan pengabdian masyarakat. Unit usaha yang relevan, yang tentunya seharusnya nanti menanganinya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana meminta perguruan tinggi membangun dan mengelola dapur SPPG secara mandiri untuk mendukung program MBG.

“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” kata Dadan dalam keterangan resmi di Makassar, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, satu unit SPPG membutuhkan dukungan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar. Untuk kebutuhan beras, satu SPPG memerlukan sekitar 8 hektare lahan sawah.

Sementara untuk kebutuhan pakan ternak dibutuhkan sekitar 19 hektare lahan jagung. Selain itu, kebutuhan telur harian untuk satu SPPG juga membutuhkan sekitar 3.700 hingga 4.000 ayam petelur.

“Kalau ingin telurnya dipasok sendiri, maka harus ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG,” katanya.

Menurut Dadan, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui keterlibatan civitas akademika maupun kerja sama dengan petani, peternak, dan pelaku usaha di sekitar kampus.

Ia menyebut kampus dapat menjadikan pengelolaan SPPG sebagai bagian dari kegiatan praktik lapangan mahasiswa, mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan pangan, hingga distribusi.

Dengan begitu, lanjut Dadan, SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga menjadi tempat penerapan kegiatan akademik yang terkait dengan rantai pasok pangan.

Dadan menambahkan keberadaan SPPG juga dapat menjadi penampung atau offtaker bagi hasil produksi lokal.

“SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal. Jadi bukan hanya soal memberi makan, tapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  82  =  89