Channel9.id-Jakarta. Band asal Bandung, Sembilan Tera, resmi membuka babak baru perjalanan musik mereka lewat perilisan mini album bertajuk Sementara Itu. Karya ini hadir sebagai ruang ekspresi atas keresahan, kehilangan, hingga kehampaan yang kerap dirasakan banyak orang, namun sulit diungkapkan.
Di tengah dominasi lagu bertema percintaan ringan, Sembilan Tera memilih jalur berbeda dengan menghadirkan materi musik yang lebih personal dan emosional. Melalui lirik dan aransemen yang intim, mereka mencoba menyuarakan kondisi mental dan perasaan rapuh yang sering tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari.
“Kami tidak ingin membuat lagu yang sekadar enak didengar. Kami ingin membuat lagu yang bisa menemani orang-orang ketika sedang merasa paling sendiri,” ujar penabuh drum sekaligus penulis lagu Sembilan Tera, Arie Axara, kepada wartawan di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Band ini diperkuat oleh Arie Axara (drum), Aditya (gitar), Ricky (bass), Eza (vokal), Angga (trombone), dan Taufik (keyboard). Sebelum merilis karya sendiri, mereka dikenal aktif tampil dari satu panggung kafe ke panggung lainnya di Bandung.
Mini album Sementara Itu memuat lima lagu, di antaranya Luruh, Pergi, Akhir Cerita, Jujur Pada Luka, dan lagu utama Sementara Itu. Seluruh lagu dirangkai dengan benang merah tentang fase hidup yang penuh ketidakpastian dan pergulatan batin.
“Kadang orang terlalu sibuk terlihat kuat sampai lupa jujur dengan dirinya sendiri. Lewat Sementara Itu, kami cuma ingin bilang bahwa merasa hancur itu manusiawi,” kata Arie.
Dalam proses kreatifnya, Sembilan Tera sengaja tidak menutupi sisi rapuh manusia. Mereka memilih tampil apa adanya tanpa berusaha terdengar terlalu sempurna, baik dari sisi lirik maupun musikalitas.
Band ini juga menyadari bahwa pendekatan musik yang mereka usung mungkin tidak bisa diterima semua pendengar. Namun, mereka tetap yakin bahwa karya yang jujur akan menemukan pendengarnya sendiri.
Bagi Sembilan Tera, musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang aman bagi siapa pun yang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup.
“Kalau nantinya ada satu orang saja yang merasa ditemani setelah mendengar lagu-lagu kami, itu sudah lebih dari cukup,” tutup Arie Axara.
Kontributor: Akhmad Sekhu





