Ekbis Nasional

Menaker: AI hingga Green Economy Ubah Dunia Kerja, Kampus Diminta Adaptif

Channel9.id, Jakarta. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai dunia kerja Indonesia tengah menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi, transisi ekonomi hijau, dan perubahan demografi global. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

Hal itu disampaikan Menaker saat menghadiri Sidang Terbuka Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam rangka pembukaan Dies Natalis ke-62 UNJ di Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan besar karena memiliki jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dengan total angkatan kerja mencapai sekitar 155 juta orang.

“Ini angka yang tidak mudah untuk mencoba membuat ekosistem ketenagakerjaan dengan tata kelola yang baik, berkelanjutan, adil, dan seterusnya,” ujar Menaker.

Ia memaparkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia saat ini berada di angka 4,7% atau sekitar 7,24 juta orang. Di sisi lain, sekitar 59% pekerja masih berada di sektor informal.

“Persentase ini akan terus meningkat ketika industri belum mampu memberikan solusi dengan kondisi global, geoekonomi, dan geopolitik saat ini,” katanya.

Tantangan lain, lanjut dia, datang dari kualitas pendidikan tenaga kerja Indonesia. Sebagian besar angkatan kerja nasional masih didominasi lulusan SMA dan SMK.

“Angkatan kerja kita 86,9 persen adalah SMA/SMK. Jadi ini tantangan tidak mudah. Dengan menghasilkan sarjana, proporsinya baru sekitar 14 persen,” ujarnya.

Menurut Menaker, persoalan pengangguran kini juga tidak lagi hanya terjadi pada lulusan pendidikan dasar dan menengah, tetapi mulai merambah lulusan perguruan tinggi.

“Pengangguran sekarang terdistribusi, tidak hanya SD atau SMA, tapi juga universitas. Ini jadi tantangan kita bersama,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Menaker menyoroti tiga faktor global yang diperkirakan akan mengubah lanskap ketenagakerjaan dalam beberapa tahun mendatang, yakni kecerdasan buatan (AI), transisi ekonomi hijau dan keberlanjutan (green transition and sustainability), serta pergeseran demografi ekonomi (demographic economy shift).

Ia menjelaskan, tuntutan sustainability kini mulai menjadi syarat dalam berbagai transaksi bisnis global.

“Sudah mulai transaksi global mensyaratkan bagaimana perusahaan memperhatikan sustainability dan lingkungan. Energinya dari mana, apakah sudah comply dengan ESG dan seterusnya,” jelasnya.

Selain itu, perubahan demografi juga dinilai akan menciptakan tantangan sekaligus peluang ekonomi baru. Menurutnya, usia pensiun di sektor industri umumnya berada di rentang 50–60 tahun, sementara angka harapan hidup masyarakat Indonesia kini bisa mencapai 80 tahun.

“Akan ada episode kedua kehidupan mulai usia 57 sampai 80 tahun. Selama 23 tahun masa produktif ini mau apa? Masa cuma ngemong cucu terus,” ujarnya disambut tawa peserta sidang.

Ia menilai kondisi tersebut membuka peluang lahirnya sektor ekonomi baru yang masih belum banyak dilirik, termasuk oleh perguruan tinggi.

“Bisa jadi UNJ mengambil peran besar di sini,” katanya.

Menaker juga mengingatkan bahwa disrupsi teknologi memang akan menghilangkan sejumlah pekerjaan lama, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan jenis pekerjaan baru.

Mengacu pada data World Economic Forum, ia menyebut sekitar 92 juta pekerjaan diprediksi hilang, sementara 170 juta pekerjaan baru akan muncul di masa depan.

“Pertanyaannya, siap tidak kita menyiapkan lulusan menghadapi perubahan yang sangat cepat ini?” ujarnya.

Ia menambahkan, data LinkedIn menunjukkan sekitar 80% jenis pekerjaan saat ini mengalami peningkatan signifikan dibanding 20 tahun lalu. Bahkan, sekitar 10% jabatan pekerjaan saat ini belum pernah ada dua dekade sebelumnya.

Menaker mencontohkan sejumlah profesi baru yang lahir akibat perkembangan teknologi digital, seperti social media manager, data scientist, AI prompt engineer, affiliator, hingga content clipper.

“Social media manager belum ada sebelum Facebook lahir. Data scientist juga belum populer sebelum 2012. Sekarang muncul AI prompt engineer, clipper, affiliator, dan profesi baru lainnya,” tuturnya.

Karena itu, ia mengingatkan dunia pendidikan agar tidak lagi menggunakan pendekatan lama dalam proses pembelajaran.

“Kalau cara mengajarnya masih sama seperti 20 tahun lalu, mungkin kurang relevan dengan kebutuhan dunia riil hari ini,” katanya.

Menaker menilai pekerjaan yang paling rentan terdampak otomatisasi adalah pekerjaan rutin dengan tingkat upah tinggi, terutama di sektor manufaktur dan industri padat karya.

Menurutnya, disrupsi tersebut akan didorong oleh tiga gelombang teknologi utama, yakni robotic, digital platform, dan artificial intelligence (AI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4  +  1  =