Nasional

Dari 5 Menjadi 96 Taman Baca, Malinau Buktikan Perbatasan Bisa Jadi Pusat Gerakan Literasi

Channel9.id – Jakarta. Bunda Literasi Kabupaten Malinau, May Lenty Wempi, mengungkapkan lonjakan jumlah Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Dari hanya 5 unit, jumlah TBM di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu telah meningkat menjadi 96 unit dalam beberapa tahun terakhir.

“Ada peningkatan TBM dari 5 TBM menjadi 96 TBM. Itu luar biasa. Itu merupakan hasil gerakan bersama yang kami lakukan, komunikasi yang baik di antara kami, sehingga itu semua bisa kami lakukan bersama,” kata May Lenty usai Gelar Wicara bertajuk ‘Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara’ di Aula Sasadu, Gedung M. Thabrani Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, TBM kini menjadi ruang alternatif yang efektif bagi anak-anak untuk belajar di luar jam sekolah, sekaligus menjadi benteng terhadap ancaman ketergantungan pada gawai.

“Di Malinau ancaman gadget cukup lumayan, tetapi karena ada gerakan literasi di TBM, anak-anak lebih aktif ke TBM dan tidak dibolehkan membawa gadget,” ujar May Lenty.

Ia menambahkan, kehadiran relawan di setiap TBM turut mendorong peningkatan kualitas belajar anak secara nyata. Ia juga mencatat adanya kemajuan dalam tradisi menulis anak, di mana kini banyak anak yang sudah mampu menghasilkan karya berupa puisi dan tulisan kreatif lainnya.

“Gerakan ini yang dilakukan penggerak yang menyebabkan anak semangat belajar di TBM,” kata May Lenty.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafiz Muksin menilai Malinau sebagai contoh nyata bagaimana keterbatasan justru melahirkan inovasi dan kreativitas dalam membangun budaya literasi.

Ia menyebut indeks kegemaran membaca masyarakat Malinau yang berada di atas rata-rata nasional sebagai bukti bahwa wilayah perbatasan memiliki kekuatan yang patut dibanggakan dan terus dikembangkan.

“Dengan keterbatasan itulah tumbuh inovasi dan kreativitas untuk meningkatkan budaya literasi,” ujar Hafiz.

Ia mengakui bahwa kendala infrastruktur, termasuk keterbatasan akses internet dan minimnya bahan bacaan bermutu yang sesuai jenjang dan minat anak, masih menjadi tantangan nyata di Malinau dan daerah-daerah terluar lainnya. Untuk itu, Badan Bahasa menyiapkan buku-buku yang menarik secara visual dan kontekstual bagi anak, sambil mendorong kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional, komunitas, dan perusahaan guna memperluas akses bahan bacaan.

Dalam hal penyediaan konten, Badan Bahasa menggunakan strategi berlapis. Setiap tahun digelar sayembara penulisan buku anak berbasis kearifan lokal, cerita rakyat, dan pendekatan STEAM (sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika) yang melibatkan partisipasi masyarakat luas dari berbagai daerah. Selain itu, cerita berbahasa daerah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan cerita dari luar negeri diterjemahkan untuk memperkaya wawasan global anak.

Hafiz menegaskan bahwa upaya peningkatan budaya literasi tidak bisa hanya bertumpu pada Kemendikdasmen semata, melainkan membutuhkan koordinasi dan dukungan nyata dari pemerintah daerah, Bunda Literasi, Ikatan Keluarga Baca Masyarakat, kepala desa, hingga para pegiat literasi di lapangan. Ia menyebut ekosistem kolaboratif itulah yang menjadi kunci keberhasilan Malinau.

“Upaya peningkatan budaya literasi tentu tidak hanya dapat dilakukan oleh Kemendikdasmen sendiri, tetapi koordinasi, partisipasi, dan dukungan nyata dari pemerintah daerah sangat diharapkan,” katanya.

Meski demikian, Hafiz juga menyoroti keterbatasan anggaran sebagai hambatan yang belum terselesaikan. Tahun ini, Badan Bahasa hanya mampu mendistribusikan 5,3 juta eksemplar buku yang menyasar sekitar 6.000 satuan pendidikan.

“Kami harapkan terus-menerus dorongan dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan, dapat kita tingkatkan lagi, sehingga buku-buku makin banyak yang kita ciptakan dan sebarkan ke berbagai sekolah, tidak hanya di daerah 3T,” pungkas Hafiz.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1  +  4  =