Hot Topic

Badan Bahasa: 51% Peserta UKBI 2025 Belum Mahir Berbahasa Indonesia, SMK Paling Rendah

Channel9.id – Jakarta. Hasil Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) tahun 2025 menunjukkan gambaran yang memprihatinkan. Sebanyak 111.352 orang atau 51 persen dari total 225.302 peserta belum mencapai standar kemahiran berbahasa Indonesia.

Data ini diungkap Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam Gelar Wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” di Gedung Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Hafidz memaparkan, peserta jenjang SMK menjadi kelompok dengan capaian paling rendah, di mana hanya 36 persen yang memenuhi standar kemahiran. Disusul peserta jenjang SMA dan SMP yang masing-masing mencatat angka kelulusan standar sebesar 49 persen, sementara guru dan dosen menunjukkan capaian lebih baik dengan 66 persen dan 59 persen peserta yang memenuhi standar.

Dari sisi partisipasi, sebanyak 96 persen atau 215.857 peserta UKBI 2025 berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebagian besar peserta, yakni 128.385 orang atau 57 persen, berasal dari Pulau Jawa, yang mengindikasikan masih belum meratanya akses dan partisipasi uji kemahiran di luar Jawa.

“Data adalah cermin. Ketika kemampuan membaca anak perlu ditingkatkan, yang perlu dilihat bukan hanya muridnya, tetapi juga bahan bacaan, guru, lingkungan keluarga, komunitas, kebiasaan membaca, dan dukungan masyarakat,” ujar Hafidz dalam paparannya.

Hafidz menegaskan, rendahnya kemahiran berbahasa Indonesia tidak bisa dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan cerminan kualitas ekosistem belajar secara keseluruhan. Ia menyebut kemampuan membaca, bernalar, dan memahami informasi lahir dari ekosistem belajar yang kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan.

“Penguatan literasi tidak berhenti pada intervensi kepada murid. Ia harus menyentuh ekosistemnya,” ucapnya.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Badan Bahasa menempatkan peningkatan standar kemahiran berbahasa Indonesia sebagai salah satu dari empat prioritas dalam Program Pembangunan Kebahasaan dan Kesastraan tahun 2026. Program itu juga mencakup pembinaan lembaga dan komunitas, fasilitasi komunitas sastra dan literasi, serta penyusunan korpus dan produk kodifikasi bahasa.

Hafidz menuturkan, Badan Bahasa terus memperluas akses bahan bacaan bermutu, termasuk melalui platform digital BUDI di laman budi.kemendikdasmen.go.id dan fitur Ruang Murid di Rumah Pendidikan.

Sejak 2019 hingga 2026, Badan Bahasa juga telah menghasilkan 1.289 judul buku bacaan dan mendistribusikan 42,3 juta eksemplar kepada sekolah-sekolah yang paling membutuhkan di seluruh Indonesia.

Hafidz menekankan bahwa menaikkan kemahiran berbahasa Indonesia memerlukan komitmen lintas pihak, bukan hanya Badan Bahasa. Pemerintah daerah, sekolah, keluarga, guru, komunitas literasi, hingga akademisi, menurutnya, harus bergerak bersama dalam satu ekosistem yang saling menopang.

“Tidak ada satu lembaga pun yang dapat membangun literasi sendirian. Semua bergerak sesuai perannya. Semua itu adalah kerja literasi,” pungkasnya.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7  +  3  =