Opini

Dialog DIDIER ERIBON dan PIERRE BOURDIEU 04 November 1979: Kajian Sosiologis tentang Reproduksi Kelas Sosial

Oleh: Dr. Syaifuddin, M.Si., CICS.

 

Channel9.id – Jakarta. Dialog Didier Eribon dengan Pierre Bourdieu yang dimuat di Harian Liberation, 4 November 1979, halaman 12-13, membahas gagasan utama Pierre Bourdieu dalam bukunya “La Distinction: Critique sociale du jugement” (1979). Buku ini salah satu karya penting dalam sosiologi budaya – memiliki relevansi dengan isu marginalisasi budaya local di Indonesia saat ini. Isi buku ini menunjukkan bahwa selera dan gaya hidup bukan pilihan individu yang sepenuhnya bebas, melainkan hasil pembentukan sosial yang terkait dengan kelas, pendidikan, dan modal budaya.

Melalui konsep habitus, Bourdieu menjelaskan bahwa individu cenderung mengembangkan preferensi yang sesuai dengan posisi sosialnya. Selera kemudian menjadi sarana pembedaan dan legitimasi sosial, sehingga budaya dan pendidikan berperan penting dalam mereproduksi ketimpangan kelas secara simbolik. Budaya tidak hanya mencerminkan masyarakat, tetapi juga menjadi mekanisme kekuasaan yang mempertahankan struktur sosial. Bourdieu berupaya menjelaskan bagaimana selera, gaya hidup, dan preferensi budaya yang sering dianggap sebagai pilihan pribadi sebenarnya sangat dipengaruhi oleh posisi sosial seseorang 

Latar Belakang 

Terbitnya buku La Distinction: Critique Sociale Du Jugement karya Pierre Bourdieu tahun 1979 menandai salah satu tonggak penting dalam perkembangan sosiologi kontemporer. Karya ini hadir di tengah dominannya pandangan yang memisahkan praktik budaya dari struktur sosial. Selera terhadap seni, musik, sastra, makanan, dan gaya hidup umumnya dipahami sebagai pilihan individual yang lahir dari preferensi pribadi. Melalui penelitian empiris yang luas, Bourdieu menolak asumsi tersebut dan menunjukkan bahwa praktik budaya tidak dapat dipahami tanpa mengaitkannya dengan posisi seseorang dalam struktur sosial. Dialog antara Didier Eribon dan Pierre Bourdieu ini memberikan penjelasan yang lebih mudah diakses mengenai gagasan utama buku tersebut.

Dalam dialog itu, Eribon berupaya menggali makna teoritis dan politik dari temuan-temuan Bourdieu. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak hanya menyentuh persoalan budaya, tetapi juga hubungan antara pendidikan, kekuasaan, dan reproduksi ketimpangan sosial. Bourdieu menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak semata-mata diorganisasikan oleh distribusi kekayaan ekonomi, melainkan juga oleh distribusi sumber daya simbolik dan budaya. Karena itu, analisis mengenai kelas sosial harus melampaui indikator ekonomi dan memperhatikan berbagai bentuk modal yang menentukan peluang hidup individu.

Signifikansi dialog ini terletak pada kemampuannya memperlihatkan bhwa persoalan budaya sesungguhnya merupakan persoalan politik dan sosiologis. Selera yang tampak netral ternyata mengandung mekanisme pembeda yang berfungsi mempertahankan hierarki sosial. Dalam La Distinction tidak hanya berbicara tentang konsumsi budaya, tetapi juga tentang bagaimana dominasi sosial memperoleh legitimasi melalui praktik-praktik sehari-hari yang sering dianggap alamiah. Dialog ini membantu pembaca memahami bahwa hubungan antara budaya dan kekuasaan merupakan salah satu isu sentral dalam sosiologi modern.

Inti Gagasan 

Pokok argumentasi Bourdieu dalam dialog tersebut adalah bahwa selera tidak pernah bersifat murni individual. Selera merupakan produk dari proses sosialisasi yang berlangsung dalam keluarga, lingkungan sosial, dan institusi pendidikan. Apa yang disukai seseorang sering kali mencerminkan kondisi sosial yang membentuk dirinya. Dengan kata lain, pilihan terhadap jenis musik tertentu, karya seni tertentu, atau gaya hidup tertentu bukan sekadar persoalan preferensi pribadi, melainkan juga hasil internalisasi pengalaman sosial yang berlangsung sejak masa kanak-kanak.

Untuk menjelaskan proses tersebut, Bourdieu menggunakan konsep habitus. Habitus merujuk pada seperangkat disposisi yang tertanam dalam diri individu melalui pengalaman hidup yang berulang. Disposisi ini membentuk cara berpikir, merasakan, dan bertindak sehingga individu cenderung mengembangkan pilihan yang sesuai dengan posisi sosialnya. Habitus memungkinkan struktur sosial bekerja secara tidak langsung melalui kebiasaan dan kecenderungan yang tampak alami. Karena itu, individu sering merasa bebas dalam memilih, padahal pilihan tersebut telah dibatasi oleh kondisi sosial yang membentuk dirinya.

Selain habitus, Bourdieu menekankan pentingnya konsep modal budaya. Modal budaya mencakup pengetahuan, kompetensi linguistik, pendidikan, dan kemampuan mengapresiasi bentuk-bentuk budaya yang diakui bernilai tinggi oleh masyarakat. Kepemilikan modal budaya yang berbeda menghasilkan pola konsumsi budaya yang berbeda pula. Dalam perspektif ini, budaya berfungsi sebagai sarana klasifikasi sosial. Selera menjadi penanda posisi sosial sekaligus instrumen yang digunakan kelompok dominan untuk membedakan diri dari kelompok lain.

Dimensi Kritis 

Salah satu aspek paling kritis dari dialog ini adalah penolakan Bourdieu terhadap pandangan estetika yang menganggap penilaian budaya bersifat universal. Menurutnya, apa yang disebut sebagai “selera murni” sesungguhnya merupakan hasil konstruksi sosial. Kelompok-kelompok dominan berhasil menjadikan preferensi budaya mereka sebagai standar umum yang dianggap sah dan bernilai tinggi. Akibatnya, bentuk-bentuk budaya yang berasal dari kelompok sosial lain sering ditempatkan pada posisi yang lebih rendah atau dianggap kurang bermutu.

Kritik berikut diarahkan pada sistem pendidikan modern. Bourdieu menolak anggapan bahwa sekolah merupakan institusi yang sepenuhnya netral dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua individu. Dalam praktiknya, sekolah cenderung menghargai kemampuan dan pengetahuan yang lebih dekat dengan pengalaman kelas menengah dan kelas atas. Anak-anak yang sejak awal memiliki modal budaya yang sesuai dengan tuntutan sekolah memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan mereka yang berasal dari latar belakang sosial kurang beruntung.

Dialog tersebut juga memperlihatkan kritik terhadap konsep meritokrasi. Keberhasilan akademik dan sosial sering dijelaskan sebagai hasil bakat serta kerja keras individu. Namun, Bourdieu menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari distribusi modal budaya yang tidak merata. Mereka yang lahir dalam lingkungan yang kaya akan sumber daya budaya memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan institusi pendidikan dan sosial. Dengan demikian, meritokrasi sering kali menyembunyikan reproduksi privilese sosial.

Lebih jauh lagi, Bourdieu mengkritik bentuk dominasi yang tidak bergantung pada kekerasan fisik atau paksaan langsung. Dominasi modern berlangsung melalui mekanisme simbolik yang membuat struktur sosial tampak wajar dan sah. Individu menerima hierarki sosial karena kategori penilaian yang mereka gunakan telah dibentuk oleh sistem yang sama. Inilah yang oleh Bourdieu dipahami sebagai bentuk kekuasaan simbolk, yaitu kemampuan kelompok dominan untuk menentukan apa yang dianggap bernilai, bermutu, dan layak dihargai dalam masyarakat.

Kontribusi Sosiologis 

Kontribusi pertama dari La Distinction adalah perluasan konsep kelas sosial. Sebelum Bourdieu, analisis kelas sering berfokus pada kepemilikan alat produksi atau tingkat pendapatan. Bourdieu menunjukkan bahwa posisi sosial ditentukan pula oleh distribusi berbagai bentuk modal, terutama modal budaya dan modal simbolik. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih kompleks mengenai stratifikasi sosial dalam masyarakat modern yang tidak lagi dapat dijelaskan semata-mata melalui faktor ekonomi.

Kontribusi kedua terletak pada pengembangan hubungan antara struktur dan agensi. Dalam banyak teori sosial, kedua aspek tersebut sering dipertentangkan. Bourdieu menawarkan jalan tengah melalui konsep habitus.

Habitus memungkinkan struktur sosial memengaruhi tindakan individu tanpa menghilangkan kapasitas individu untuk bertindak. Dengan demikian, tindakan sosial dipahami sebagai hasil interaksi antara kondisi objektif dan disposisi subjektif yang telah terbentuk melalui pengalaman sosial.

Kontribusi ketiga berkaitan dengan kajian budaya. Bourdieu mengubah cara sosiologi memahami budaya dengan menunjukkan bahwa praktik budaya memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Budaya tidak hanya menjadi sarana ekspresi diri, tetapi juga mekanisme klasifikasi dan diferensiasi sosial. Melalui budaya, individu menampilkan identitas sosialnya sekaligus membangun batas-batas simbolik yang membedakan dirinya dari kelompok lain.

Kontribusi keempat, pengungkapan mekanisme reproduksi sosial yang bekerja secara halus dan tidak kasat mata. Dialog dengan Eribon menegaskan bahwa ketimpangan sosial tidak hanya dipertahankan melalui distribusi sumber daya ekonomi, tetapi juga melalui institusi pendidikan, praktik budaya, dan sistem klasifikasi simbolik. Perspektif ini memberikan perangkat analitis yang sangat penting untuk memahami mengapa ketimpangan sosial dapat bertahan bahkan dalam masyarakat yang mengklaim menjunjung kesetaraan kesempatan.

Relevansi Terhadap Isu Marginalisasi Budaya Lokal di Indonesia 

Gagasan Pierre Bourdieu ini memiliki relevansi yang sangat kuat untuk memahami berbagai persoalan sosial di Indonesia saat ini, khususnya yang berkaitan dengan ketimpangan sosial, marginalisasi budaya politik lokal, dan relasi kekuasaan. Dalam perspektif Bourdieu, dominasi tidak hanya berlangsung melalui penguasaan sumber daya ekonomi, tetapi juga melalui penguasaan modal budaya dan modal simbolik. Fenomena ini dapat ditemukan dalam berbagai kebijakan pembangunan yang cenderung mengutamakan budaya, pengetahuan, dan nilai-nilai yang dianggap modern, nasional, atau global, sementara budaya lokal sering ditempatkan pada posisi anak tiri (subordinat). Akibatnya, kelompok masyarakat yang memiliki akses lebih besar terhadap pendidikan formal, bahasa resmi, teknologi, dan jaringan kekuasaan memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan komunitas-komunitas lokal yang memiliki modal budaya berbeda.

Dalam konteks budaya politik, domanasi simbolik sebagaimana dijelaskan Bourdieu tampak ketika kebijakan publik lebih banyak disusun berdasarkan perspektif elite politik dan birokrasi daripada aspirasi masyarakat akar rumput. Banyak komunitas adat dan masyarakat lokal mengalami kesulitan mempertahankan ruang hidup, tradisi, bahasa, maupun sistem pengetahuan mereka karena dianggap kurang relevan dengan agenda pembangunan nasional. Dalam kondisi demikian, budaya lokal tidak hanya mengalami marginalisasi secara kultural, tetapi juga kehilangan legitimasi sosial dan politik. Proses ini menunjukkan bagaimana kekuasaan simbolik bekerja dengan menjadikan nilai-nilai tertentu sebagai standar resmi, sementara nilai-nilai lain dipandang kurang penting atau kurang modern.

Lebih jauh, Bourdieu membantu menjelaskan mengapa ketimpangan sosial di Indonesia tetap menjadi salah satu masalah sosial. Ketimpangan tersebut bukan hanya persoalan distribusi ekonomi, melainkan juga persoalan distribusi modal budaya, akses pendidikan berkualitas, pengakuan sosial, dan representasi politik. Kelompok yang memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan cenderung lebih mudah memperoleh legitimasi dan peluang mobilitas social. Sedangkan kelompok masyarakat lokal, adat, atau wilayah pinggiran terus menghadapi hambatan struktural yang berlapis. Karena itu, pemikiran Bourdieu memberikan pelajaran penting bahwa upaya mengatasi ketimpangan tidak cukup dilakukan melalui kebijakan ekonomi semata, tetapi juga memerlukan pengakuan terhadap keragaman budaya, demokratisasi akses terhadap modal budaya, akomodasi hak-hak lokal malalui keberpihakan kebijakan publik pada perlindungan dan pemberdayaan budaya-budaya lokal sebagai bagian dari keadilan sosial yang lebih luas.

Penutup 

Dialog antara Didier Eribon dan Piere Bourdieu mengenai La Distinction memperlihatkan selera budaya merupakan fenomena sosial yang berkaitan erat dengan struktur kekuasaan.

Melalui konsep habitus, modal budaya, dan distingsi, Bourdieu menunjukkan bahwa preferensi budaya tidak lahir secara bebas dari individu, melainkan dibentuk oleh pengalaman sosial yang terkait dengan posisi kelas. Budaya dengan demikian menjadi arena tempat berbagai kelompok sosial mempertahankan, menegosiasikan, dan melegitimasi kedudukannya dalam masyarakat.

Dari perspektif sosiologis, signifikansi utama La Distinction terletak pada kemampuannya menjelaskan hubungan antara budaya, pendidikan, dan reproduksi ketimpangan sosial. Karya ini mengingatkan bahwa dominasi sosial sering berlangsung melalui mekanisme simbolik yang tampak alami dan netral. Oleh karena itu, analisis terhadap praktik budaya tidak dapat dipisahkan dari analisis mengenai kekuasaan dan struktur sosial. Hingga saat ini, gagasan-gagasan Bourdieu tetap relevan sebagai landasan teoritis untuk memahami dinamika kelas, identitas, dan ketimpangan dalam masyarakat modern.

Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Mercu Buana, Peneliti dan Analis Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

60  +    =  67