Channel9.id – Jakarta. Indonesia dan Jepang membahas penguatan kerja sama sosial budaya melalui berbagai program pertukaran dan pengembangan kawasan bersejarah Museum Konferensi Asia Afrika (KAA).
Pembahasan itu dilakukan dalam rangkaian kunjungan kerja Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI ke Tokyo, Jepang, pada 17-19 Juni 2026.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Heru Subolo mengatakan pembahasan dilakukan dengan sejumlah lembaga Jepang, antara lain Kementerian Luar Negeri Jepang, Japan Foundation, National Archives of Japan, Japan Center for Asian Historical Records, Japan International Cooperation Agency, dan Tokyo National Museum.
Salah satu fokus pembicaraan ialah penguatan diplomasi budaya dan pengembangan Kawasan Bersejarah Museum KAA di Bandung.
“Kami melakukan sejumlah pertemuan dengan pihak Jepang, mulai dari Ministry of Foreign Affairs (MoFA), Japan Foundation (JF), National Archives of Japan (NAJ), dan Japan Center for Asian Historical Records (JACAR),” kata Heru Subolo dalam keterangan yang diterima dari KBRI Tokyo.
“Dengan MoFA kami bertukar pandangan seputar pengelolaan informasi dan komunikasi publik di era digital, dan penguatan kerja sama diplomasi budaya Indonesia-Jepang sebagai bagian dari Comprehensive Strategic Partnership,” lanjutnya.
Heru mengatakan pembahasan dengan Japan Foundation mencakup penguatan hubungan masyarakat kedua negara melalui program pertukaran budaya dan pendidikan. Menurut dia, pengembangan Kawasan Bersejarah Konferensi Asia Afrika juga menjadi salah satu topik yang dibicarakan.
“Dengan JF kami lakukan diskusi seputar penguatan hubungan masyarakat kedua negara melalui program pertukaran budaya, pendidikan bahasa Jepang, studi Jepang, dan kemitraan global. Termasuk pula dibahas upaya pengembangan Kawasan Bersejarah Konferensi Asia Afrika di Bandung,” ujarnya.
Selain itu, National Archives of Japan dan Japan Center for Asian Historical Records menyatakan terbuka terhadap peluang kerja sama dengan Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan pada preservasi, digitalisasi, serta pemanfaatan arsip Konferensi Asia Afrika untuk penelitian, pendidikan, dan diplomasi publik.
“Pihak NAJ dan JACAR menyambut baik peluang kerja sama dengan Indonesia, khususnya terkait preservasi, digitalisasi, dan pemanfaatan arsip KAA untuk kepentingan penelitian, edukasi, dan diplomasi publik,” kata Heru.
Kepala Museum KAA Noviasari Rustam mengatakan pihak Jepang memberikan respons positif terhadap rencana pengembangan museum tersebut. Dukungan yang ditawarkan antara lain peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguatan jejaring dengan museum-museum di Jepang.
“Pengembangan Museum KAA mendapat respons yang positif dari pihak Jepang. Mereka mendukung rencana pengembangan kapasitas Museum KAA dari perspektif sumber daya manusia dan akan menghubungkan Museum KAA dengan jaringan museum yang ada di Jepang,” kata Noviasari.
Menurut Noviasari, Museum KAA juga akan menjalin kerja sama dengan National Archives of Japan dan Japan Center for Asian Historical Records terkait digitalisasi arsip. Ia menyebut kerja sama itu ditujukan untuk mendukung kegiatan edukasi dan diplomasi publik.
“Museum KAA juga akan menjalin kerja sama dengan NAJ dan JACAR terkait digitalisasi dan pemanfaatan arsip KAA untuk kepentingan edukasi dan diplomasi publik,” ujarnya.
Noviasari mengatakan Museum KAA masih menghadapi tantangan pada aspek infrastruktur, sarana prasarana, dan sumber daya manusia. Museum tersebut juga berupaya memperluas akses informasi yang akurat bagi masyarakat Indonesia maupun wisatawan asing.
Dalam rangkaian kunjungan itu, Heru juga berdiskusi dengan pelaku usaha restoran Indonesia di Tokyo mengenai gastrodiplomasi. Menurut dia, keberadaan restoran Indonesia dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang.
“Kuliner Indonesia adalah salah satu pintu masuk pengenalan Indonesia di Jepang. Keberadaan restoran Indonesia di Jepang menjadi jembatan diplomasi budaya kedua negara yang efektif,” kata Heru.
HT





