Channel9.id, Jakarta. Data sementara mencatat 25 orang meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8) pagi.
Guncangan gempa yang berpusat di Kabupaten Nagekeo itu terasa hingga Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Sejumlah bangunan dilaporkan roboh dan menimpa warga.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 14.00 Wita dari kepolisian, Pemerintah Kabupaten Manggarai, dan Palang Merah Indonesia (PMI), korban meninggal tersebar di sejumlah wilayah di dua kabupaten tersebut.
Di Kabupaten Manggarai, delapan korban meninggal dunia tercatat berdasarkan data kepolisian di Kecamatan Reok dan Reok Barat. Sementara Pemkab Manggarai mengidentifikasi enam korban tewas di sejumlah wilayah lainnya.
Kapolsek Reok Ipda Joko Sugiarto mengatakan delapan korban tersebut meninggal setelah tertimpa bangunan yang roboh akibat guncangan gempa.
Lima korban di Kecamatan Reok yakni Resny (21), karyawati Pepen Cell asal Gumbang, Desa Riung, Kecamatan Cibal; Faisal (42), warga Lingkungan Bari, Kelurahan Reo; Habibi (7), pelajar asal Lingkungan Bari, Kelurahan Reo; Ruslin Ahmad (61), petani asal Kampung Batok, Desa Salama; serta Hamide (70), warga Kampung Ojang, Desa Robek.
Sementara tiga korban di Kecamatan Reok Barat adalah Mustamin (65), Rinto Harahap (45), dan Bunga Sari (40). Ketiganya merupakan warga Dusun Langkas, Desa Paralando.
Polisi menyebut masih ada dua korban yang belum dievakuasi karena tertimbun reruntuhan rumah. Masing-masing berada di rumah milik Hubertus Titi dan kediaman mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G Plate.
Rumah Johny G Plate dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga nyaris rata dengan tanah akibat gempa.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada RS Pratama Reok dan Puskesmas Reok. Kedua fasilitas kesehatan mengalami retakan parah sehingga pelayanan medis sementara dipindahkan ke Lapangan Barang Kolo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.
Tim medis dari kedua fasilitas tersebut kini melayani warga di lokasi terbuka untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.
Selain delapan korban di Reok dan Reok Barat, Pemkab Manggarai mencatat enam korban meninggal lainnya, yakni Stefanus Jedaut (Karot), Fabian Evita Jas (Bea Mese), Resny (Riung Gumbang), pasangan suami istri Manus dan Yul (Wae Mulu), serta satu korban dari Golo Lanak yang identitasnya masih belum diketahui.
Sementara itu, Posko PMI Manggarai Timur melaporkan 11 orang meninggal dunia dan dua orang mengalami patah kaki. Para korban tersebar di sejumlah kecamatan.
Di Lambaleda Utara, tercatat dua anak dan satu perempuan dewasa meninggal dunia. Satu korban lainnya meninggal di Dampek, sementara seorang warga mengalami patah kaki.
Di Kotakomba, tepatnya Kisol, satu lansia dilaporkan meninggal. Sementara di Elar, wilayah Golo Linjun, satu anak menjadi korban.
Di Lambaleda Selatan, dua korban meninggal di Bangka Kuleng, masing-masing satu orang dewasa dan satu anak, serta satu anak lainnya meninggal di Rejo.
Kemudian di Sambirampas, Pota, dua anak perempuan dilaporkan meninggal. Salah satunya berusia 13 tahun, sementara ibu korban mengalami patah kaki.
Satu korban laki-laki dewasa juga dilaporkan meninggal di Lambaleda, tepatnya di Wodong.
Seluruh angka korban tersebut masih bersifat sementara. Proses evakuasi, pendataan, dan penanganan warga terdampak masih berlangsung di sejumlah lokasi.
Petugas dan pemerintah daerah masih melakukan pemutakhiran data untuk memastikan jumlah korban serta kondisi kerusakan akibat gempa.




