mbg
Ekbis

Kemendag: Penyerapan untuk MBG Ikut Dorong Harga Ayam dan Telur

Channel9.id, Jakarta. Kenaikan harga telur dan daging ayam di sejumlah wilayah mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga tersebut adalah meningkatnya penyerapan kedua komoditas untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan harga telur ayam secara rata-rata nasional masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET). Berdasarkan pemantauan pemerintah, harga telur berada di kisaran Rp26.000 per kilogram, sedangkan HET ditetapkan Rp30.000 per kilogram.

Namun, kondisi berbeda terjadi di sejumlah daerah dengan tantangan distribusi. Budi mencontohkan Papua Pegunungan yang mencatat harga relatif tinggi karena distribusi pangan ke wilayah tersebut tidak semudah daerah lain.

“Telur itu sekarang harga rata-rata nasional itu Rp26.000 [per kilogram]. Memang ada yang tinggi, kemarin kami cek di SP2KP [Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok] di Papua Pegunungan,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga pasokan dengan mengarahkan distribusi dari wilayah yang memiliki surplus komoditas. Dengan langkah tersebut, harga secara nasional dinilai masih berada dalam rentang yang relatif terkendali.

Untuk daging ayam, harga rata-rata nasional kini berada di sekitar Rp38.000 per kilogram. Angka itu masih di bawah HET Rp40.000 per kilogram, tetapi lebih tinggi dibandingkan kisaran sebelumnya yang berada di level Rp34.000-Rp36.000 per kilogram.

Budi menjelaskan bahwa peningkatan permintaan dari program MBG turut memengaruhi harga ayam dan telur. Pemerintah sebelumnya menetapkan agar pengadaan bahan pangan untuk MBG dilakukan berdasarkan harga acuan sehingga penyerapan program tidak menekan harga komoditas di tingkat peternak.

“Memang naik dari sebelum itu Rp34.000–Rp36.000 [per kilogram], harga ayam sekarang Rp36.000 [per kilogram] ini sebenarnya setelah kemarin ada kebijakan dari MBG, penyerapan MBG untuk telur dan daging ayam,” ujarnya.

Dia menilai peningkatan penyerapan tersebut justru memberikan dampak positif bagi pasar karena komoditas yang sebelumnya memiliki harga rendah mendapatkan permintaan tambahan. Menurutnya, kenaikan harga perlu dilihat dalam konteks normalisasi harga, selama masih berada di sekitar batas yang ditetapkan pemerintah.

Budi menambahkan, pemerintah tetap memberi perhatian terhadap daerah yang mencatat harga jauh lebih tinggi dari HET. Selain menjaga pasokan domestik, Kemendag berupaya mempertemukan wilayah yang membutuhkan komoditas dengan daerah yang memiliki produksi berlebih.

Pasokan ke NTT

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, Kemendag memastikan distribusi telur dan ayam ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap menjadi perhatian, terutama setelah gempa yang mengguncang wilayah tersebut.

Budi mengatakan koordinasi dengan daerah pemasok terus dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan pasokan. Sejumlah wilayah yang menjadi sumber pasokan antara lain Nusa Tenggara Barat (NTB) dan berbagai daerah di Pulau Jawa.

Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang memiliki pasokan telur cukup besar. Karena itu, pemerintah mendorong kerja sama antardaerah agar kebutuhan pangan di wilayah yang mengalami tekanan harga dapat dipenuhi dari daerah surplus.

Salah satu mekanisme yang digunakan adalah business matching. Melalui skema tersebut, pemerintah mempertemukan pemasok dengan pembeli dari wilayah yang membutuhkan komoditas dalam jumlah besar.

“Ketika daerah-daerah lain itu harganya naik kita membuat namanya business matching antarwilayah. Jadi mau nggak mau kita fasilitasi dengan dinas dan pelaku usahanya agar ketemu antara supplier dan pembeli yang ada di wilayah timur yang harganya mahal,” jelas Budi.

Upaya menjaga distribusi tersebut menjadi penting setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026). BMKG mencatat gempa terjadi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Gempa sempat memunculkan peringatan dini tsunami sebelum kemudian dinyatakan berakhir. BMKG menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar naik busur belakang Flores yang secara teori dapat menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimum sekitar 7,8-7,9.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih melakukan pendataan dampak bencana. Berdasarkan data sementara hingga Minggu (16/8/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada ribuan rumah serta sejumlah fasilitas publik. BNPB mencatat 1.543 rumah mengalami rusak berat, 328 rusak sedang, dan 532 rusak ringan. Selain itu, terdapat kerusakan pada 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, dan 76 kantor pemerintahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3  +  7  =