Channel9.id, Jakarta – Kementerian Keuangan mencatat penerimaan negara hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2 persen dari target APBN 2026. Realisasi ini tercatat tumbuh 25,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Sementara, belanja negara hingga Agustus mencapai Rp2.295,7 triliun, sehingga defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, kondisi APBN hingga akhir Agustus itu membuktikan bahwa pengelolaan keuangan negara dilakukan dengan sangat hati-hati, terkendali dan berada dalam jalur yang sesuai dengan target fiskal hingga akhir tahun.
“APBN sampai dengan akhir Agustus ini masih menunjukkan kinerja yang kuat. Keseimbangan primer kita masih positif dan defisit kita masih terkendali,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN, Jumat (18/9).
Suahasil menjelaskan, pertumbuhan pendapatan negara ditopang oleh sejumlah komponen penerimaan. Penerimaan perpajakan tumbuh 24,1 persen secara tahunan menjadi Rp1.619,3 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) melesat 41,7 persen menjadi Rp435,1 triliun.
Secara rinci, penerimaan perpajakan terdiri dari penerimaan kepabeanan dan cukai yang tercatat Rp210,2 triliun atau tumbuh 7,8 persen secara tahunan. Kemudian, penerimaan pajak sebesar Rp1.409 triliun atau tumbuh 24,1 persen.
Kinerja positif penerimaan pajak, antara lain tercermin dari pertumbuhan PPh nonmigas sebesar 16,6 persen dan PPN serta PPnBM sebesar 38,9 persen.
Dari sisi belanja, realisasi belanja pemerintah pusat hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp1.791,5 triliun. Belanja kementerian/lembaga tercatat Rp912,4 triliun, sedangkan belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp879,1 triliun.
Suahasil mengatakan bahwa pemerintah tetap menjaga belanja negara untuk menopang aktivitas ekonomi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Pembayaran subsidi dan kompensasi kepada PLN serta Pertamina hingga Agustus mencapai Rp331,4 triliun, meningkat dibandingkan Rp218 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dengan perkembangan tersebut, Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit fiskal hingga akhir 2026 tetap berada di sekitar target yang ditetapkan dalam APBN, yakni 2,85 persen terhadap PDB.
“Kita juga sudah memproyeksikan di Laporan Semester I bahwa defisit APBN akan menuju 2,85 persen dari PDB,” pungkasnya.




