Channel9.id, Jakarta. Musim kemarau ekstrem meluas hingga menggerus wilayah-wilayah yang secara klimatologis biasa mengalami hujan sepanjang tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 98 dari total 110 Zona Musim (ZOM) bertipe hujan sepanjang tahun kini justru terpapar dampak kekeringan akibat anomali El Niño 2026.
Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik (wilayah Niño 3.4) yang menembus angka 2,83 hingga akhir Agustus menjadi pemicu utama pergeseran pola iklim ini, mengondisikan sekitar 33% daratan Indonesia berada dalam tekanan musim kering yang lebih panjang.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa intensitas fenomena Pasifik kali ini diproyeksikan bakal bertahan setidaknya hingga kuartal I/2027.
“Fenomena El Niño yang saat ini terjadi berlangsung di Pasifik dan selalu bertahan hingga paling tidak akhir kuartal pertama tahun berikutnya. Jadi untuk yang sekarang ini bertahan paling tidak hingga akhir kuartal I/2027,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers, Selasa (22/9/2026).
Tekanan kekeringan makin tajam seiring dengan teridentifikasinya periode Hari Tanpa Hujan (HTH) berurutan selama lebih dari 60 hari di 25 provinsi. Rekor durasi HTH terpanjang saat ini terdeteksi di wilayah Bantul, D.I. Yogyakarta, yang telah mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan tanpa curah hujan.
Selain faktor Pasifik, BMKG turut mengawasi pergerakan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia yang berada pada level plus 0,376. Kendati masih berstatus netral, IOD berpeluang bergeser ke fase positif hingga akhir 2026, yang berisiko memperparah penekanan curah hujan di kawasan selatan khatulistiwa.
Meski anomali El Niño bertahan hingga awal tahun depan, BMKG memperkirakan ancaman kekeringan ekstrem di wilayah Indonesia bakal berangsur mereda seiring masuknya awal musim hujan baru secara bertahap.




