Lifestyle & Sport

Usung Tema “Rimpang”, Madani Film Festival 2016 Jaring 108 Film dari 29 Negara

Channel9.id-Jakarta. Madani International Film Festival kembali digelar. Komite Madani International Film Festival 2026 secara resmi mengumumkan jajaran program edisi kesembilan dengan telah menjaring 108 karya terpilih dari 29 negara untuk program “film” serta 15 sesi diskusi dalam program “ideas”.

Keberadaan program “ideas” pada edisi tahun ini menandai adanya perluasan fokus Madani yang tidak lagi hanya berpusat pada pemutaran film internasional, melainkan bertransformasi menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin seni bernafaskan tema utama, yaitu “Rimpang”.

“Waktu Madani kedelapan, kita kan bicaranya soal ‘misykat’, ceruk-ceruk cahaya. Nah, itu kemudian dilanjutkan dengan ceruk cahayanya juga jangan cuma cahaya aja satu, satu, satu, satu gitu, tapi ingin itu kemudian jadi jaring yang besar, berakar besar. Nah, hari ini yang terjadi itu adalah yang sedang muncul ini adalah gerakan Rimpang,” kata Anggota Dewan Madani International Film Festival, Inayah Wahid, dalam konferensi pers di Teater Wahyu Sihombing, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (5/10/2026).

Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 7 hingga 11 Oktober 2026 itu menggunakan jalur pendaftaran terbuka untuk perolehan film pendaftar via platform FilmFreeway yang menghimpun 1.500 karya, serta jalur mandiri (hunting) untuk film kurasi khusus.

Direktur Festival Madani, Achmad Rifki, merinci bahwa jalur kurasi Madani memilih film Mesir perwakilan Oscar 2027 berjudul ‘The Stories’ karya sutradara Abu Bakar Shawky sebagai film pembuka (opening movie) resmi di Metropole XXI.

Sementara itu, jalur pendaftaran terbuka berhasil menyaring film-film yang merepresentasikan keragaman geografis Muslim dunia, mulai dari kawasan Asia Barat seperti Iran, wilayah Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia, hingga kiriman karya dari berbagai negara lain seperti Mauritania, Polandia, Selandia Baru, Irlandia, dan Bangladesh.

Adapun makna gerakan Rimpang pada tema penyelenggaraan festival edisi kali ini diwujudkan dengan menguatkan jalinan kolaborasi bersama inisiatif independen serta sesama platform seni di Jakarta demi menyiasati limitasi ekosistem dan anggaran.

Inayah menjelaskan sifat rimpang (seperti jahe) adalah tidak langsung mati ketika dipotong; jika sisa potongannya ditanam lagi ke tanah, ia akan bertunas kembali ke mana-mana. Ini melambangkan kegigihan dan daya tahan inisiatif warga Jakarta dalam mempertahankan ruang seni independen murni, meskipun menghadapi limitasi komitmen anggaran dan sumber daya.

Salah satu bentuk perwujudan kolaborasi ini, Madani bekerja sama dengan Jakarta Biennale melalui penggunaan ruang bersama secara gotong-royong di lantai 4 Gedung Trisno Soemardjo.

Selain itu, program film diperkuat lewat program penayangan bersama jaringan komunitas seperti agenda pemutaran sinema alternatif oleh Majelis Sayur yang menayangkan film-film hasil kurasi Efek Rumah Kaca (ERK), serta pelibatan Festival Film Jelek yang digerakkan oleh para pemilik lapak kamera analog Pasar Gembrong, Jakarta Timur.

Selain program film, payung program “ideas” mengaktifkan “Rimpang” melalui pertunjukan seni yang meliputi agenda utama pementasan “Pertunjukan Rimpang” oleh ERK dengan membawakan repertoar album penuh teranyar mereka, pementasan tari kontemporer “Kisah Sagu” oleh komunitas Papua untuk mengkritik pergeseran konsumsi pangan lokal, diskusi Madani Talks di Galeri Foto Jurnalistik Antara bersama Eric Sasono untuk membedah pemikiran Islam modernis Asrul Sani, serta pembacaan manuskrip kuno lewat sesi “Ngariksa”.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1  +  3  =