Hot Topic

KRI Sriwijaya-100 Disiapkan untuk Dukung Evakuasi dan Bantuan Bencana

Channel9.id – Jakarta. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen Rico Sirait, mengatakan KRI Sriwijaya-100 disiapkan untuk mendukung operasi pertahanan maritim sekaligus penanganan bencana, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kata dia, kapal pangkalan terapung ini dirancang untuk membantu pengiriman logistik, evakuasi korban, dan operasi medis dari laut.

“Kini, Indonesia memiliki kapal yang dapat menjadi pangkalan terapung di laut, bernama KRI Sriwijaya-100,” kata Rico dalam keterangan video yang diterima Channel9.id, Senin (19/10/2026).

Kapal tersebut memiliki panjang sekitar 180 meter dengan bobot mencapai 12.000 ton. Geladaknya dirancang untuk mengoperasikan berbagai jenis helikopter dan pesawat nirawak atau drone dari tengah laut.

Kemampuan itu memungkinkan operasi dilakukan tanpa sepenuhnya bergantung pada pangkalan di darat. Dalam situasi bencana ketika akses darat terputus, kapal dapat mendukung penyaluran bantuan ke wilayah yang terisolasi.

“Kemampuan ini sangat penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut yang luas, ribuan pulau, dan risiko bencana yang tinggi,” kata Rico.

Dalam operasi militer selain perang (OMSP), KRI Sriwijaya-100 juga disiapkan untuk mendukung pengiriman bantuan dalam skala besar, evakuasi korban, pelayanan medis, serta penanganan keadaan darurat. Namun, efektivitas penggunaannya dalam operasi kemanusiaan akan bergantung pada kebutuhan di lapangan dan kesiapan operasional kapal.

Selain untuk mendukung operasi maritim, pemeliharaan dan modifikasi kapal ini melibatkan industri pertahanan dalam negeri. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kemampuan teknologi dan kapasitas industri pertahanan nasional.

Kementerian Pertahanan juga menyatakan awak TNI Angkatan Laut dipersiapkan untuk mengoperasikan kapal tersebut. Kesiapan awak dan dukungan pemeliharaan menjadi bagian penting agar kapal dapat menjalankan fungsi pertahanan maupun kemanusiaan.

Rico mengatakan nama Sriwijaya dipilih untuk mengingatkan kembali sejarah Indonesia sebagai bangsa maritim. Kehadiran kapal ini menjadi bagian dari upaya penguatan armada laut, dengan fungsi yang mencakup pertahanan dan dukungan penanganan bencana.

KRI Sriwijaya-100 sebelumnya diperoleh Indonesia melalui hibah dari Pemerintah Italia dengan nama asli ITS Giuseppe Garibaldi. Kapal ini tiba di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026), dan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya pada 24 September 2026.

Saat memasuki wilayah Indonesia, Giuseppe Garibaldi dikawal dua kapal perang TNI AL, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Setibanya di Tanjung Priok, kapal tersebut disambut pertunjukan marching band TNI dan tabuhan gendang, termasuk lagu khas Betawi “Si Jali Jali”.

Proses serah terima kapal akan dilakukan di Tanjung Priok dan disaksikan sejumlah pejabat tinggi TNI serta pemerintah. Pada saat yang sama, bendera Italia di kapal tersebut akan diganti dengan bendera Indonesia.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6  +  2  =