Channel9.id – Jakarta. Presiden Prabowo Subianto menargetkan peningkatan campuran bioetanol dalam bensin hingga 50 persen atau E50 dalam beberapa tahun mendatang. Target tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Hal itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Ia mengatakan, Indonesia telah mencapai penerapan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen bahan bakar nabati dan 50 persen solar, sementara pengembangan bioetanol masih dilakukan secara bertahap.
“Biodiesel kita nanti akan sangat membantu kita. Kita sudah mencapai B50 dan kita sekarang akan berjuang untuk etanol menjadi etanol E50. Mungkin tahun ini kita baru bisa mencapai E10,” kata Prabowo dikutip Channel9.id dari kanal Youtube Sekretariat Presiden.
Prabowo memperkirakan target E20 dapat dicapai dalam dua tahun mendatang, kemudian meningkat menjadi E50 dua tahun setelahnya. Ia menilai kombinasi penggunaan B50 dan E50 berpotensi mengurangi kebutuhan impor BBM dari luar negeri.
“Mungkin dua tahun lagi kita akan berharap mencapai E20 dan dua tahun sesudah itu kita berharap kita akan mencapai E50. Pada saat kita E50 dan B50, kita Insyaallah tidak perlu impor BBM lagi dari luar,” ujarnya.
Selain pengembangan bahan bakar nabati, Prabowo menyebut Indonesia memiliki sumber energi lain yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri. Sumber tersebut antara lain batu bara dan energi panas bumi atau geotermal.
“Harga minyak dunia naik dan akan naik kita bersyukur kita punya sumber-sumber energi lain yang cukup banyak. Batu bara kita masih banyak. Geotermal kita banyak, yang terutama kita bisa buat diesel solar dari tanaman,” lanjut Prabowo.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyoroti swasembada pangan sebagai salah satu modal Indonesia menghadapi ketidakpastian global. Menurut dia, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri penting ketika negara produsen membatasi ekspor di tengah konflik atau krisis.
“Pangan itu menentukan karena sekarang pangan bisa menjadi senjata, dalam keadaan krisis kita punya uang pun mungkin kita tidak bisa beli beras dari negara lain,” terangnya.
Prabowo mengatakan Indonesia mampu mempertahankan swasembada pangan di tengah tantangan cuaca sepanjang 2025–2026, termasuk kekeringan berkepanjangan. Ia juga menyebut pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina.
“Kita bersyukur kita sudah swasembada pangan. Di musim yang sangat sulit, 2025-2026 kekeringan cukup panjang kita bisa swasembada. El Nino kita hadapi nanti ada La Nina kita hadapi. Kita sudah punya kontijensi-kontijensi, dengan swasembada pangan relatif kita punya daya tahan,” jelasnya.
Prabowo menilai ketahanan pangan dan energi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional di tengah gejolak ekonomi, perubahan iklim, dan ketidakpastian geopolitik. Namun, target penghentian impor BBM yang disampaikannya bergantung pada pencapaian pengembangan bahan bakar nabati sesuai tahapan yang direncanakan.
HT




