Connect with us

Lifestyle & Sport

Ashanty dan Ketiga Anaknya Terpapar Covid-19

Published

on

Channel9.id – Jakarta. Pandemi Covid-19 belum juga berakhir, hal ini membuat siapapun masih harus waspada. Terbaru, artis Ahanty dan tiga orang anaknya terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal itu diketahui dari story Instagramnya pada Senin (15/2). Vyndika, asistennya mengumumkan kabar tersebut. Menurutnya, Ashanty terbilang rutin lakukan PCR, bahkan setiap minggu.

“Setiap Minggu bunda pasti PCR karena ada sakit bawaan. Terakhir swab tanggal 8 Februari negatif. Sabtu kemarin antigen negatif,” terang Vyndika.

Hingga akhirnya, Minggu (14/2) malam, istri Anang Hermansyah itu tiba-tiba meriang sampai sesak napas. Ia pun lakukan test.

“Semalem tiba-tiba meriang, flu, batuk, panas tinggi, sesak napas. Tadi malam juga di-(test) PCR, dan subuh tadi hasilnya positif Covid,” lanjut Vyndika.

Rupanya, yang terpapar virus ini tak hanya Ashanty tapi juga Aurel, Azriel, dan si kecil Arsy.

“Akhirnya semua di rumah check juga, dan yang positif juga kakak Loly, Arsy, dan Jiel. Tolong doanya ya teman-teman semua,” ujar Vyndika.

Virus Covid-19 terus mengintai siapapun, maka dari itu rajin cuci tangan, selalu pakai masker, dan jangan lupa jaga jarak.

IG

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Malas Gerak Bisa Meningkatkan Risiko Kematian

Published

on

By

Malas Gerak Bisa Meningkatkan Risiko Kematian

Channel9.id-Jakarta. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa gaya hidup sedentari menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Adapun gaya hidup sedentari sendiri ialah pola perilaku manusia yang minim aktivitas fisik.

Umumnya, gaya hidup ini dijalani oleh pekerja kantoran yang harus lama duduk di depan layar komputer atau di baik meja. Saat perjalanan dari dan ke kantor, mereka juga biasanya duduk atau berdiri—menetap di posisi yang sama dalam waktu cukup lama. Setelah bekerja, mereka cenderung istirahat dengan duduk di sofa atau tiduran untuk melepas beristirahat.

Di masa pandemi Covid-19, meski banyak yang sistem bekerja dari rumah, gaya hidup itu masih dijalani sebagian orang—meski sudah ada yang sadar untuk meningkatkan kesehatan dengan berolahraga.

Namun, ada pula orang yang memang sudah terbiasa dan nyaman dengan gaya hidup itu, sehingga malas gerak (mager). Bahkan di masa pandemi ini ada yang semakin mager. Mereka banyak menetap di posisi yang sama dalam waktu lama, seperti duduk, sambil menonton film secara marathon atau main gim. Belum lagi teknologi digital, seperti layanan jasa pembelian barang hingga kirim uang—yang mempermudah seseorang menyelesaikan beragam urusan hanya dengan sentuhan di layar ponsel, cenderung membikin orang malas gerak.

Baca juga : Bukan Bikin Cepat Kurus, Berlebihan Olahraga Kardio Justru Bahaya

Perlu Kamu ketahui, jika gaya hidup ini dibarengi dengan pola makan tak seimbang dan kebiasaan tak sehat, seperti merokok dan minum alkohol, Kamu berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan. Nah, berikut ini sejumlah risikonya, yang mestinya juga jadi pertimbanganmu apakah masih mau mempertahankan gaya hidup tersebut.

1. Konsentrasi menurun
Dalam jangka panjang, Kamu yang banyak duduk saat bekerja, bisa menyebakan tulang belakang menegang lantaran kelamaan membungkuk. Kondisi ini membikin paru-paru tak mendapat cukup ruang untuk mengembang lebih besar alias terhimpit. Sehingga Kamu akan menerima lebih sedikit oksigen.

Kondisi tersebut tentu semakin tak nyaman jika Kamu tak mengiringinya dengan gerakan fisik lain. Pasalnya, sirkulasi oksigen tentu terganggu. Minimnya oksigen yang diterima otak bisa menurunkan konsentrasi, alhasil kerjamu jadi tak fokus.

2. Meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung
Sebuah studi dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa aktivitas fisik bisa mengurangi risiko stroke pada pria hingga sebesar 60%. Selain itu, studi lainnya menunjukkan bahwa perempuan yang beraktivitas fisik bisa terhindar dari stroke dan serangan jantung hingga 50%.

Jadi, jika Kamu lebih lama duduk atau berada di posisi yang sama dalam waktu, serta bermalas-maslasan, maka risiko terkena penyakit jantung dan stroke lebih besar.

3. Penurunan kognitif
Selain itu, lama-kelamaan, kurang aktivitas fisik bisa menurunkan fungsi otak. Untuk diketahui, melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga bisa merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak, serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak. Hal ini bisa mempertajam otak dan daya ingat.

4. Memicu resistensi insulin
Jika dalam sehari Kamu menghabiskan 70% waktumu untuk duduk dan tiduran, Kamu bisa berisiko terkena mengalami resistensi insulin, lo. Pasalnya, kebiasaan ini bisa meningkatkan kadar gula dalam darah sehingga risiko terkena diabetes pun meningkat.

Belum lagi, kebiasaan malas gerak itu dibarengi sengan mengonsumsi camilan kurang sehatyang mengandung gula tinggi, seperti es krim, permen, cokelat, atau minuman kemasan.

5. Meningkatkan risiko osteoporosis
Perlu Kamu sadari, tubuh mausia dirancang untuk bisa bergerak aktif sehingga bisa bertahan diri. Maka dari itu, otot dan tulang harus terus dilatih agar tetap sehat dan kuat.

Sementara, kebiasaan malas gerak bisa membuatmu kehilangan massa otot. Kepadatan tulang pun akan berkurang. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko osteoporosis, yang membikin Kamu lebih cepat lemas dan lelah.

Nah, itu dia segelintir risiko yang bisa muncul bila Kamu malas gerak. Tentu saja Kamu bisa mencegahnya dengan lebih banyak melakukan aktivitas fisik. Menimbang Covid-19 masih melanda, Kamu bisa memulainya dari rumah. Kamu bisa bersih-bersih hingga olahraga untuk sekadar menggerakkan otot dan tulangmu, yang kemudian juga bermanfaat untuk seluruh tubuhmu.

Sekali waktu, Kamu juga bisa jalan-jalan untuk sekadar ke warung atau mengelilingi kompleks. Namun, jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehaan, dari menggunakan masker, menjaga jarak, hingga cuci tangan.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Sempat Positif Covid-19, Guru Ini Bikin Wayang Untuk Semangati Siswa dan Nakes

Published

on

By

Sempat Positif Covid-19, Guru Ini Bikin Wayang Untuk Semangati Siswa dan Nakes

Channel9.id-Jakarta. Pasien pengidap Covid-19 harus diisolasi guna memutus rantai penularannya. Selama diisolasi, mereka harus absen dari kebiasaan sehari-hari, terutama aktivitas fisik yang berat. Mereka harus lebih banyak beristirahat agar segera pulih.

Tak jarang para pasien itu membagikan kisahnya melalui media sosial dalam memerangi Covid-19. Di antara kisah-kisah tersebut, ada satu yang unik, yaitu kisah pasien Covid-19 di RS Pertamina yang menyulap kotak makan bekasnya menjadi wayang.

Pada Selasa (23/2) lalu, kisah unik itu diunggah oleh akun TikTok @itsnatsir dan sempat viral di jagat maya. Video ini disukai lebih dari 75 ribu orang dan dikomentari ratusan orang per Senin (1/3) ini.

Melalui video tersebut, seorang petugas kesehatan berbagi cerita tentang pasien tersebut. “Jadi ini cerita seorang pasien yang bikin kita semakin semangat. Meski dirawat, bapak ini sangat kreatif. Dia bikin wayang dari bekas kotak makan tiap harinya,” tulis dalam video tersebut.

Selain itu, nampak pula tokoh pewayangan Pandawa Lima dalam wujud kertas tengah berjejer. Ada pula anggota Punakawan seperti Gareng, Semar, Bagong, dan Petruk. Selain karya itu, ada kertas bertuliskan “terima kasih” dari pasien kepada para tenaga kesehatan.

Setelah ditelusuri, diketahui bahwa si pasien adalah guru mata pelajaran Antropologi, Sosiologi, dan Teater di HighScope Indonesia. Ia adalah Ahmad Zayad.

Zayad mengatakan bahwa dirinya memang selalu terpikirkan untuk membuat suatu karya ketika melihat barang bekas.

“Ini hal yang selalu saya kembangkan dan selalu saya jaga, saya selalu memanfaatkan barang-barang bekas di sekolah, di kelas,” tuturnya saat dihubungi Channel9, Jumat (26/2).

Prinsip itu pun berlaku saat ia melihat tutup kotak makan di tempat isolasi. “Karenanya, saya minta dibawakan beberapa alat dari rumah, seperti spidol, gunting, solatip, sumpit kayu, dan sebagainya,” sambung Zayad.

Dengan menggunakan alat yang tersedia, Zayad kemudian membikin wayang. Ia sendiri mengaku bahwa membikin wayang adalah salah satu cara ia mengajar.

“Sebelumnya, saya minta anak-anak untuk membuat wayang kertas. Saat saya membuatnya di tempat isolasi, itu menjadi sarana untuk pendekatan kepada anak-anak. Saya juga mencontohkan jalan ceritanya (wayang),” kata dia.

Hasil pelatihan dan pengalaman mengajar belasan tahun, membikin pria lulusan Universitas Negeri Jakarta ini sadar bahwa menjadi guru harus mampu mengatur waktu, alur, hingga kelas. Berangkat dari semangat ini, meski ia sedang tak mengajar karena sakit, ia ingin memotivasi siswa-siswanya agar tetap semangat.

“Saya ingin memberi contoh kepada anak-anak, meski saya sakit, saya bisa mengerjakan apa yang mereka kerjakan (wayang)—tetap bisa melakukan sesuatu. Saya ingin membuat mereka semangat,” tutur Zayad.

Selain itu, ia ingin pembuatan dan hasil karyanya bisa menyenangkan hati para relawan dan tenaga kesehatan di RS.

“Mungkin mereka juga jenuh dan sebagai macamnya. Saya mau coba lakukan hal kecil saja untuk mereka. Waktu itu orang pantry, saya dibawakan kotak kertas nasi. Saya mengaku senang. Itu memang hal simpel, namun mereka bisa saja senang karena sadar bahwa dirinya dinanti-nanti oleh pasien. Lalu saya tuliskan terima kasih kepada seluruh tim dokter dan kawan-kawan melalui kotak nasi,” tutur Pria dengan tiga anak ini.

Perihal bagaimana ia tertular, ia tak tahu pasti. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dirinya baru keluar dari RS pada 17 Februari.

“Saya di RSPP Modular Simprug. Hari ke satu di ruang perawatan. Hari ke satu, malam ke ruang ICU selama 11 hari. Kembali ke ruang perawatan 5 hari. Total 16 hari di RSPP Modular Simprug,” terangnya.

Sepulangnya dari RS, Zayad harus melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Saat ini, ia telah dinyatakan negatif dari Covid-19 dan masa isolasinya berakhir. Mulai Senin (1/3) ini, ia sudah mengajar dan tentunya secara daring. “Walaupun belum fit 100%,” imbuh Zayad.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada publik untuk terus mematuhi protokol kesehatan Covid-19. “Kita ikuti saja apa yang menjadi anjuran dari pemerintah, seperti 3M dan 5M. Itu saja simpel,” katanya.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Beternak Burung Perkutut Saat Pandemi

Published

on

By

Di Tengah Pandemi Covid-19, Suami dan Istri Berhasil Budidaya Burung Perkutut

Channel9.id-Pasuruan. Pasuruan, Di tangan Harjono Utojo, beternak perkutut menjadi lebih mudah dan praktis. Meski demikian, anakan yang dihasilkan memiliki kualitas unggul dengan bukti banyak yang jadi juara.

Beternak perkutut pada prinsipnya tidak serumit beternak burung ocehan macam kacer, murai batu, kenari atau pun love bird. Setidaknya hal ini dibenarkan Harjono Utojo, selaku peternak perkutut “kawakan” asal Pasuruan Jawa Timur. Menurutnya, beternak perkutut tidak membutuhakan berbagai macam tahapan baku, trik, pakan khusus dan lainnya. Ditemani istri tercinta selama menekuni ternak perkutut.

“Yang penting, kita mengetahui betul karakter perkutut yang diternakkan termasuk kesukaan-kesuakaannya, maka kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan karakter itu terutama selama proses penjodohan,” kata Harjono Utojo kepada Kontes Burung di, farmnya Jl Sultan Agung No 38 Kota Pasuruan beberapa waktu lalu. Hanya dengan begitu, kata ia, sepasang perkutut akan mudah berjodoh untuk kemudian melahirkan generasi-generasinya.

“Jadi nggak sulitlah. Saya bergelut dengan peternakan perkutut ini sejak tahun 1998 hingga sekarang. Kuncinya ya itu tadi, mengetahui karakter sepasang perkutut yang dijodohkan,” tandas pria yang akrab disapa H. Ony itu.

Bagaimana sih prinsip beternak perkutut yang dilakukan H. Ony? Selidik punya selidik, calon indukan yang akan dijodohkan ternyata tidak harus berumur matang alias sudah birahi. “Idealnya, saya menggunakan calon indukan jantan maupun betina yang sudah berumur 2-3 bulan. Jadi tidak harus berumur lebih dari 6-7 bulan atau bahkan lebih dari 1 tahun,” papar H. Ony sembari berkelekar.

Meski calon indukan berumur belia, tapi membuat sepasang perkutut itu berjodoh lebih awal. Hal ini dikarenakan keduanya saling mengenal agak lebih lama sehingga ketika birahi, langsung keduanya cocok seraya melakukan perkawinan,” terangnya kepada Cahnnel9.id.

Ketika dijodohkan di dalam kandang, H. Ony juga serta merta memberikan pakan seperti pada umumnya pada perkutut. “Pakan yang saya berikikan merupakan pakan umum perkutut yang tentu di dalamnya mengandung gizi dan zat mineral yang tinggi,” paparnya.

Pakan yang dimaksudkan berupa oplosan antara millet merah, canary seed, jewawut dan gabah padi. Awalnya seluruh bahan pakan ini disiapkan dalam porsi yang sama. Kemudian dicampur jadi satu dalam satu wadah hingga benar-benar homogen. Seteah itu, pakan diberikan pada unit-unit kandang yang di dalamnya terdapat sepasang perkutut yang dijodohkan. Tidak lupa, di setiap kandang juga disajikan air minum bersih di wadah terpisah.

Pemberian pakan semacam ini dilakukan hampir setiap hari. Bahkan ketika pakan di wadah sudah habis, maka H. Ony memberikannya lagi. Demikian pula air minum yang selalu diganti setiap pagi dan sore.

Sebagai pakan tambahan, di dalam kandang juga diberikan tulang ikan sotong sebagai asinan. Menurutnya, tulang ikan sotong mengandung banyak zat calsium yang sangat berfungsi untuk meningkatkan kualitas cangkang telur.

Hanya dengan pakan begitu saja, sepasang perkutut akan cepat melakukan perkawinan ketika birahnya datang. “Jadi tidak sampai terjadi pertengkaran hebat antara jantan dan betina yang dijodohkan karena sudah mengenal lebih awal,” papar H. Ony.

Ketika perkutut betina bertelur, induk jantan dibiarkan di dalam kandang breeding. Demikian pula ketika anakan sudah menetas, induk jantan tetap dipertahankan di dalamnya. Pejantan malah turut berperan dalam membesarkan anak-anaknya karena juga berupaya melolohkan pakan pada si anaknya atau dalam artian ia bergantian dengan induk betina untuk melolohkan pakan pada anaknya.

Jikalau piyik perkutut sudah umur 1,5 bulan di dalam kandang breeding, baru ada langkah pemindahan. “Saat itu kami memindahkan piyik-piyik itu di tempat isolasi atau kandang khusus anakan ya. Dalam satu unit kandang yang berukuran 1 x 1 x 1.5 m, bisa diisi 10 – 15 anakan perkutut,” jelas H.Ony sembari menunjuk kandang anakan yang dimaksudkan.

Sampai kapan anakan berada di kandang isolasi itu? Selidik punya selidik, tergantung kondisi. “Kalau dipinang orang, ya kita lepas pada orang tersebut. Kalau akan diternakkan lagi, maka umur 2-3 bulan siap-siap dimasukkan ke dalam kandang breeding,” terang H. Ony. Tapi dalam kenyataannya, seluruh anakan yang berada di kandang isolasi, “ludes” terjual alias dipinang para penghobi dari berbagai kota di Indonesia.

Continue Reading

HOT TOPIC