Connect with us

Lifestyle & Sport

BPOM Beri Izin Lansia Untuk Vaksinasi Covid-19

Published

on

Epidemiolog Tolak Vaksin Mandiri, Kemenkes: Beda Sudut Pandang Saja

Channel9.id-Jakarta. Orang berusia 18 tahun ke atas, termasuk lansia di atas 60 tahun, diizinkan menggunakan vaksin Covid-19. Hal ini sebagaimana aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Badan POM memberi izin penggunaan emergensi CoronaVac untuk pencegahan Covid-19 pada dewasa usia 18 tahun atau lebih,” tulis BPOM di situs resminya, Minggu (7/2). Sementara, lansia di atas 60 tahun bisa menggunakan vaksin Sinovac.

Baca juga : Vaksinasi Nakes, dr Reisa: Untuk Melindungi Diri dan Keluarga

Penyuntikan vaksin dosisi pertama dan kedua diberi jeda 14 hari. Namun, khusus untuk kelompok lansia usia 60 tahun dan ke atas, diberi jeda 28 hari.

“Pada lansia usia 60 tahun atau lebih, vaksin ini akan disuntikkan ke dalam otot sebanyak 0,5 mL dalam dua dosis dengan selang waktu 28 hari,” lanjut keterangan tersebut.

Perihal vaksin untuk lansia sudah dimuat di situs Pusat Informasi Obat Nasional (pionas.pom.go.id) BPOM.

Lebih lanjut, BPOM tak menyarankan orang yang punya riwayat reaksi alergi dan hipersensitif terhadap vaksin, serta punya gangguan sistem imun sejak lahir untuk divaksin.

Diketahui, Sinovac menyebut vaksin Coronovac aman digunakan lansia yang sehat dalam hasil uji klinis tahap I dan II yang dipublikasikan melalui jurnal medis The Lancet. Uji klinis telah dilakukan terhadap 422 orang berusia di atas 60 tahun.

Sementara itu, Indonesia sendiri belum memvaksinasi lansia. Penyuntikan baru dilakukan terhadap setengah juta tenaga kesehatan (nakes) berusia 18-59 tahun. Adapun pemerintah menargetkan vaksinasi terhadap 1,4 juta nakes rampun bulan ini.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Bahaya, Menyimpan Struk Belanja Berisiko Memicu Kanker

Published

on

By

Bahaya, Menyimpan Struk Belanja Berisiko Memicu Kanker

Channel9.id-Jakarta. Sebagian orang punya kebiasaan menyimpan struk belanja. Alasan umumnya karena ingin mencatat pengeluaran dan sekadar jaga-jaga jika suatu hari nanti dibutuhkan. Apakah Kamu juga punya kebiasaan ini?

Perlu Kamu ketahui, mengoleksi struk belanjaan ternyata tak baik bagi kesehatan tubuh karena mengandung zat yang beracun. Zat ini ialah BPA atau Bisphenol A, yakni senyawa kimia yang biasa digunakan untuk mengeraskan plastik. Bahan ini biasa ditemui di plastik wadah makanan, botol plastik, hingga struk kertas belanja.

Plastic Pollution Coalition menyebutkan bahwa BPA pada kertas struk bisa mengganggu sistem reproduksi pada pria dan perempuan. Hal ini terjadi akibat menyerapnya senyawa kimia—yang menyerupai estrogen—ke kulitmu.

Hal tersebut diperkuat oleh studi dari Brazil, Spanyol, dan Perancis. Ternyata, meski dosis sangat sedikit, BPA pada struk belanja bisa memicu kanker. Jika Kamu terbiasa menyimpan kertas struk belanja di dompet atau kantong celana, maka risiko terkena kanker payudara, kanker prostat, diabetes, hingga obesitas bisa meningkat.

Racun tersebut sangat mudah membikin seseorang terpapar, menimbang BPA tak terikat secara kimiawi. Entah dengan menyentuhnya langsung, dari uang yang ada di dompet—yang disimpan bersama dengan struk belanja, hingga belanjaan.

Kebersihan tangan seseorang sangat memengaruhi kadar paparan BPA. Pada tangan kasir yang bekerja lebih dari sepuluh jam ditemukan 71 mg BPA. Angka ini jauh lebih tinggi dari orang biasa yang hanya terpapar 7.1 – 42.6 mg per hari. Sejumlah studi bahkan memperkuat bahwa orang yang sering menyentuh struk belanja itu memiliki kadar BPA yang lebih tinggi pada urin mereka, dibandingkan orang biasa.

Namun, terpapar sedikit BPA juga tetap membikin seseorang berisiko terkena kanker payudara dan penyakit lainnya. Penelitian terhadap 4.000 tikus yang dilakukan selama 2 tahun membuktikan hal ini. Didapati bahwa tikus yang diberi dosis rendah (2,5 mikrogram) berpotensi besar menderita kanker payudara dan prostat, pun berisiko pada kesehatan hati dan ginjal mereka.

Jadi, berdasarkan penelitian itu, serendah apa pun BPA, tetap bisa memengaruhi kesehatanmu. Namun, masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut, apakah BPA harus benar-benar tidak boleh dipakai lagi atau ada alternatif lainnya.

Lebih lanjut, BPA bukan cuma ada di struk belanja, lo. Ada juga di tiket konser dan pesawat. Kiranya sulit untuk menghindari bahan kimia yang berbahaya ini karena bisa ditemukan di mana-mana.

Ada cara mudah untuk mengetahui apakah struk belanja apakah mengandung BPA atau tidak. Cobalah menggores sisi pada struk belanja atau tiket tersebut. Jika ada tanda gelap, maka ada kemungkinan struk mengandung BPA.

Nah, menimbang risikonya, Kamu disarankan untuk langsung membuang struk belanja. Namun, jika Kamu terpaksa menyimpannya, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan untuk mengurangi risiko terpapar BPA, di antaranya cobalah untuk menyentuh bagian belakangnya karena biasanya mengandung lebih sedikit BPA. Lalu jangan letakkan di dompet, namun di amplop khusus. Terakhir, jangan lupa untuk selalu cuci tangan setelah menerima struk belanja.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Malas Gerak Bisa Meningkatkan Risiko Kematian

Published

on

By

Malas Gerak Bisa Meningkatkan Risiko Kematian

Channel9.id-Jakarta. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa gaya hidup sedentari menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Adapun gaya hidup sedentari sendiri ialah pola perilaku manusia yang minim aktivitas fisik.

Umumnya, gaya hidup ini dijalani oleh pekerja kantoran yang harus lama duduk di depan layar komputer atau di baik meja. Saat perjalanan dari dan ke kantor, mereka juga biasanya duduk atau berdiri—menetap di posisi yang sama dalam waktu cukup lama. Setelah bekerja, mereka cenderung istirahat dengan duduk di sofa atau tiduran untuk melepas beristirahat.

Di masa pandemi Covid-19, meski banyak yang sistem bekerja dari rumah, gaya hidup itu masih dijalani sebagian orang—meski sudah ada yang sadar untuk meningkatkan kesehatan dengan berolahraga.

Namun, ada pula orang yang memang sudah terbiasa dan nyaman dengan gaya hidup itu, sehingga malas gerak (mager). Bahkan di masa pandemi ini ada yang semakin mager. Mereka banyak menetap di posisi yang sama dalam waktu lama, seperti duduk, sambil menonton film secara marathon atau main gim. Belum lagi teknologi digital, seperti layanan jasa pembelian barang hingga kirim uang—yang mempermudah seseorang menyelesaikan beragam urusan hanya dengan sentuhan di layar ponsel, cenderung membikin orang malas gerak.

Baca juga : Bukan Bikin Cepat Kurus, Berlebihan Olahraga Kardio Justru Bahaya

Perlu Kamu ketahui, jika gaya hidup ini dibarengi dengan pola makan tak seimbang dan kebiasaan tak sehat, seperti merokok dan minum alkohol, Kamu berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan. Nah, berikut ini sejumlah risikonya, yang mestinya juga jadi pertimbanganmu apakah masih mau mempertahankan gaya hidup tersebut.

1. Konsentrasi menurun
Dalam jangka panjang, Kamu yang banyak duduk saat bekerja, bisa menyebakan tulang belakang menegang lantaran kelamaan membungkuk. Kondisi ini membikin paru-paru tak mendapat cukup ruang untuk mengembang lebih besar alias terhimpit. Sehingga Kamu akan menerima lebih sedikit oksigen.

Kondisi tersebut tentu semakin tak nyaman jika Kamu tak mengiringinya dengan gerakan fisik lain. Pasalnya, sirkulasi oksigen tentu terganggu. Minimnya oksigen yang diterima otak bisa menurunkan konsentrasi, alhasil kerjamu jadi tak fokus.

2. Meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung
Sebuah studi dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa aktivitas fisik bisa mengurangi risiko stroke pada pria hingga sebesar 60%. Selain itu, studi lainnya menunjukkan bahwa perempuan yang beraktivitas fisik bisa terhindar dari stroke dan serangan jantung hingga 50%.

Jadi, jika Kamu lebih lama duduk atau berada di posisi yang sama dalam waktu, serta bermalas-maslasan, maka risiko terkena penyakit jantung dan stroke lebih besar.

3. Penurunan kognitif
Selain itu, lama-kelamaan, kurang aktivitas fisik bisa menurunkan fungsi otak. Untuk diketahui, melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga bisa merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak, serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak. Hal ini bisa mempertajam otak dan daya ingat.

4. Memicu resistensi insulin
Jika dalam sehari Kamu menghabiskan 70% waktumu untuk duduk dan tiduran, Kamu bisa berisiko terkena mengalami resistensi insulin, lo. Pasalnya, kebiasaan ini bisa meningkatkan kadar gula dalam darah sehingga risiko terkena diabetes pun meningkat.

Belum lagi, kebiasaan malas gerak itu dibarengi sengan mengonsumsi camilan kurang sehatyang mengandung gula tinggi, seperti es krim, permen, cokelat, atau minuman kemasan.

5. Meningkatkan risiko osteoporosis
Perlu Kamu sadari, tubuh mausia dirancang untuk bisa bergerak aktif sehingga bisa bertahan diri. Maka dari itu, otot dan tulang harus terus dilatih agar tetap sehat dan kuat.

Sementara, kebiasaan malas gerak bisa membuatmu kehilangan massa otot. Kepadatan tulang pun akan berkurang. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko osteoporosis, yang membikin Kamu lebih cepat lemas dan lelah.

Nah, itu dia segelintir risiko yang bisa muncul bila Kamu malas gerak. Tentu saja Kamu bisa mencegahnya dengan lebih banyak melakukan aktivitas fisik. Menimbang Covid-19 masih melanda, Kamu bisa memulainya dari rumah. Kamu bisa bersih-bersih hingga olahraga untuk sekadar menggerakkan otot dan tulangmu, yang kemudian juga bermanfaat untuk seluruh tubuhmu.

Sekali waktu, Kamu juga bisa jalan-jalan untuk sekadar ke warung atau mengelilingi kompleks. Namun, jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehaan, dari menggunakan masker, menjaga jarak, hingga cuci tangan.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Sempat Positif Covid-19, Guru Ini Bikin Wayang Untuk Semangati Siswa dan Nakes

Published

on

By

Sempat Positif Covid-19, Guru Ini Bikin Wayang Untuk Semangati Siswa dan Nakes

Channel9.id-Jakarta. Pasien pengidap Covid-19 harus diisolasi guna memutus rantai penularannya. Selama diisolasi, mereka harus absen dari kebiasaan sehari-hari, terutama aktivitas fisik yang berat. Mereka harus lebih banyak beristirahat agar segera pulih.

Tak jarang para pasien itu membagikan kisahnya melalui media sosial dalam memerangi Covid-19. Di antara kisah-kisah tersebut, ada satu yang unik, yaitu kisah pasien Covid-19 di RS Pertamina yang menyulap kotak makan bekasnya menjadi wayang.

Pada Selasa (23/2) lalu, kisah unik itu diunggah oleh akun TikTok @itsnatsir dan sempat viral di jagat maya. Video ini disukai lebih dari 75 ribu orang dan dikomentari ratusan orang per Senin (1/3) ini.

Melalui video tersebut, seorang petugas kesehatan berbagi cerita tentang pasien tersebut. “Jadi ini cerita seorang pasien yang bikin kita semakin semangat. Meski dirawat, bapak ini sangat kreatif. Dia bikin wayang dari bekas kotak makan tiap harinya,” tulis dalam video tersebut.

Selain itu, nampak pula tokoh pewayangan Pandawa Lima dalam wujud kertas tengah berjejer. Ada pula anggota Punakawan seperti Gareng, Semar, Bagong, dan Petruk. Selain karya itu, ada kertas bertuliskan “terima kasih” dari pasien kepada para tenaga kesehatan.

Setelah ditelusuri, diketahui bahwa si pasien adalah guru mata pelajaran Antropologi, Sosiologi, dan Teater di HighScope Indonesia. Ia adalah Ahmad Zayad.

Zayad mengatakan bahwa dirinya memang selalu terpikirkan untuk membuat suatu karya ketika melihat barang bekas.

“Ini hal yang selalu saya kembangkan dan selalu saya jaga, saya selalu memanfaatkan barang-barang bekas di sekolah, di kelas,” tuturnya saat dihubungi Channel9, Jumat (26/2).

Prinsip itu pun berlaku saat ia melihat tutup kotak makan di tempat isolasi. “Karenanya, saya minta dibawakan beberapa alat dari rumah, seperti spidol, gunting, solatip, sumpit kayu, dan sebagainya,” sambung Zayad.

Dengan menggunakan alat yang tersedia, Zayad kemudian membikin wayang. Ia sendiri mengaku bahwa membikin wayang adalah salah satu cara ia mengajar.

“Sebelumnya, saya minta anak-anak untuk membuat wayang kertas. Saat saya membuatnya di tempat isolasi, itu menjadi sarana untuk pendekatan kepada anak-anak. Saya juga mencontohkan jalan ceritanya (wayang),” kata dia.

Hasil pelatihan dan pengalaman mengajar belasan tahun, membikin pria lulusan Universitas Negeri Jakarta ini sadar bahwa menjadi guru harus mampu mengatur waktu, alur, hingga kelas. Berangkat dari semangat ini, meski ia sedang tak mengajar karena sakit, ia ingin memotivasi siswa-siswanya agar tetap semangat.

“Saya ingin memberi contoh kepada anak-anak, meski saya sakit, saya bisa mengerjakan apa yang mereka kerjakan (wayang)—tetap bisa melakukan sesuatu. Saya ingin membuat mereka semangat,” tutur Zayad.

Selain itu, ia ingin pembuatan dan hasil karyanya bisa menyenangkan hati para relawan dan tenaga kesehatan di RS.

“Mungkin mereka juga jenuh dan sebagai macamnya. Saya mau coba lakukan hal kecil saja untuk mereka. Waktu itu orang pantry, saya dibawakan kotak kertas nasi. Saya mengaku senang. Itu memang hal simpel, namun mereka bisa saja senang karena sadar bahwa dirinya dinanti-nanti oleh pasien. Lalu saya tuliskan terima kasih kepada seluruh tim dokter dan kawan-kawan melalui kotak nasi,” tutur Pria dengan tiga anak ini.

Perihal bagaimana ia tertular, ia tak tahu pasti. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dirinya baru keluar dari RS pada 17 Februari.

“Saya di RSPP Modular Simprug. Hari ke satu di ruang perawatan. Hari ke satu, malam ke ruang ICU selama 11 hari. Kembali ke ruang perawatan 5 hari. Total 16 hari di RSPP Modular Simprug,” terangnya.

Sepulangnya dari RS, Zayad harus melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Saat ini, ia telah dinyatakan negatif dari Covid-19 dan masa isolasinya berakhir. Mulai Senin (1/3) ini, ia sudah mengajar dan tentunya secara daring. “Walaupun belum fit 100%,” imbuh Zayad.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada publik untuk terus mematuhi protokol kesehatan Covid-19. “Kita ikuti saja apa yang menjadi anjuran dari pemerintah, seperti 3M dan 5M. Itu saja simpel,” katanya.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC