Connect with us

Techno

Cara Hadapi Cyberbullying

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Peningkatan penggunaan internet di masa pandemi Covid-19 ini menjadi salah satu faktor terjadinya peningkatan kekerasan di internet atau cyberbullying.

Hal tersebut disampaikan oleh Agita Pasaribu, pendiri aplikasi yang berfokus pada konseling hukum dan psikologi cyberbullying, Bully.id, pada beberapa waktu lalu.

“Perundungan di masa Covid-19 semakin meningkat karena sehari-hari berhubungan langsung dengan internet dan media sosial. Maka butuh psychology first aid (pertolongan pertama untuk psikologis),” jelas Agita.

Agita menuturkan bahwa cyberbullying bisa dialami siapa saja dan kapan saja. Ia berpesan, bila mengalaminya, jangan panik, takut, stres atau depresi.

Berikut ini sejumlah langkah yang bisa dilakukan jika mengalami cyberbullying.

1. Abaikan
Abaikan dan hindari membalas segala bentuk cyberbullying. Bersikaplah tenang, abaikan, dan alihkan pikiran pada hal lain.

2. Laporkan dan blok akun pelaku
Segera lapor, blok, dan hapus pertemanan dengan akun pelaku tindakan kekerasan tersebut.

Dengan melapor, platform media sosial nantinya akan menindaklanjuti laporan tersebut. Sementara dengan memblok, pelaku tidak punya akses ke akun Anda.

3. Bercerita pada orang lain
Dengan bercerita pada orang lain, Anda bisa meminta pendapat, bantuan, dan perlindungan untuk menghadapi kekerasan tersebut. Juga, dukungan emosional.

Selain itu, Anda bisa menghubungi psikolog untuk meminta bantuan dan menjaga kesehatan mental.

4. Ambil bukti kekerasan
Screenshoot atau tangkap layar kekerasan di media sosial sebagai barang bukti. Simpan hasil tangkapan tersebut.

5. Lapor ke polisi
Kemudian laporkan ke polisi terkait tindakan kekerasan tersebut dan sertakan buktinya. Polisi akan menelusuri kasus tersebut.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Strain Baru Virus Corona Mendominasi

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Sebuah studi menemukan bahwa jenis strain virus corona SARS-CoV-2 D614G–yang diketahui lebih menular, saat ini mendominasi. Temuan ini didapat oleh para peneliti di Houston Methodist Hospital, yang menganalisis struktur virus SARS-CoV-2 di dua gelombang.

Pada penelitian itu, mereka meneliti lebih dari 5.000 genom dari virus sejak fase paling awal pandemi di Houston, Amerika Serikat, dengan 7 juta etnis yang beragam, dan dari gelombang infeksi yang lebih baru.

Hasilnya, ditemukan bahwa hampir semua strain di gelombang kedua rupanya mutasi D614G, di mana strain ini meningkatkan jumlah protein spike atau S pada virus. Protein ini memungkinkan virus mengikat dan menginfeksi sel. Kondisi ini meningkatkan kemampuan virus yang bermutasi untuk menginfeksi sel tubuh manusia.

Baca juga : Kemungkinan Corona Berkembang Seperti HIV

Para peneliti mengungkapkan, banyak pasien yang terinfeksi strain ini pada diagnosis awal. Namun, mereka belum melihat mutasi ini berdampak pada tingkat kematian.

Diketahui, beberapa protein yang menjadi target utama vaksin Covid-19 saat ini menunjukkan beberapa mutasi. Di antaranya ada mengindikasikan bahwa virus berubah untuk menghindari respons kekebalan tubuh.

(LH)

Continue Reading

Techno

Soal SMS Spam, BRTI: Harusnya Pelanggan Punya Opsi Tak Dikirimi SMS

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akhirnya membuka suara perihal SMS penawaran atau iklan, yang kerap spamming kepada para pelanggan seluler.

BRTI I Ketut Prihadi Kresna menerangkan bahwa SMS spam bermacam rupanya, dari penawaran modal usaha, investasi, hingga penipuan.

Ia menambahkan, SMS yang dikirimkan oleh operator bisa terdiri atas, SMS yang tak terkait langsung dan yang terkait langsung dengan layanan yang dimiliki pelanggan. “Misalnya menawarkan paket data, kuota baru, top up, dan sebagainya. Untuk SMS sejenis ini, semestinya pengirimannya memperhatikan kenyamanan pelanggan, apakah mau menerima seperti ini,” tutut Ketut, Selasa (22/9).

“Operator seluler semestinya menyediakan opsi bagi pelanggan untuk tidak lagi menerima SMS, seperti yang biasa kita sebut opt-in dan opt-out,” ujarnya lagi.

“Jika pelanggan sudah memilih opsi opt-out, operator seluler tidak boleh lagi mengirimkan SMS sejenis,” tambahnya.

Baca juga : Konflik Netflix dan Telkom Kembali Mencuat

Diketahui, yang dimaksud opt-in ialah jika pelanggan tetap ingin dikirimkan SMS sejenis. Sementara itu, opt-out ialah pelanggan tidak lagi menginginkan SMS sejenis.

Sementara itu, SMS yang terkait langsung dengan layanan yang dimiliki pelanggan, contohnya yakni SMS yang mengingatkan bahwa masa berlaku kartu prabayar atau kuota paket data sudah hampir jatuh tempo. Mengenai pesan singkat ini, Ketut menilai, tujuannya untuk melindungi kepentingan pelanggan.

(LH)

Continue Reading

Techno

Konflik Netflix dan Telkom Kembali Mencuat

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Hubungan Telkom dan Netflix kembali menjadi sorotan lantaran belum adanya perjanjian kerja antar keduanya. Padahal pada Juli lalu, blokiran Netflix baru dibuka oleh Telkom.

Berdasarkan keterangan Dian Rachmawan, Direktur Wholesale & International Service Telkom, hingga kini i belum ada kesepakatan komersial dan teknis antara dua belah pihak.

Adapun kesepakatan yang dimaksud ialah direct-peering untuk menyalurkan konten Netflix. Menurut Dian, Netflix begitu rakus menggunakan bandwidth.

“Jika kondisi ini dibiarkan, belanja modal dan beban operasi hanya habis untuk peningkatan kapasitas jaringan demi Netflix saja. Ini semua kami tanggung, sementara dari Netflix tak ada “pengorbanan” apapun, monopoli penggunaan bandwidth oleh Netfilx saat ini sudah sangat besar dan diskriminatif,” pungkasnya.

Dian pun menjelaskan, Netflix harusnya meletakkan servernya di Indonesia, jadi tak hanya di Singapura. Pihaknya, lanjut diaz meminta agar konten video resolusi tinggi ini harus terdistribusi ke jaringan CDN Telkom di Indonesia.

“Artinya, Netflix wajib interkoneksi (direct-peering) dengan CDN Telkom,” tandasnya.

Kendati belum ada kesepakatan yang seimbang, Telkom tetap memberi kesempatan pelanggannya menikmati Netflix. Perusahaan menyarankan para pelanggan Indihome untuk meningkatkan bandwidth-nya minimal 50Mbps agar pelanggan tetap mendapat kualitas layanan yang lebih stabil.

Menurut Pengamat
Pengamat TIK dari ICT Institute Heru Sutadi turut menanggapi konflik antara dua perusahaan itu.

“Layanan video itu memang makan bandwidth alias kuota yang besar. Apalagi jika kategori high definition atau HD. Dengan jumlah pengguna makin besar, maka kebutuhan kapasitas jaringan juga makin besar,” aku Heru, Selasa (22/9).

Dalam konteks ini, Heru sepakat dengan Telkom. Sebab apabila server Netflix tidak ada di Indonesia, maka akan ada devisa negara yang akan ke luar negeri. “Jika server di luar negeri, maka perlu ada koneksi jaringan ke sana tentu ada devisa kita yang keluar,” lanjutnya.

Baca juga : Telkom Group Resmi Buka Blokir Netflix

Heru juga menuturkan, bahwa operator berhak bekerja sama dengan berbagai layanan video streaming karena termasuk model business to business (B2B). Jadi, adalah hal yang wajar bila perusahaan memutuskan kerja sama yang tidak menguntungkan.

“Operator sebenarnya berhak kerja sama dengan siapa saja untuk layanan video streaming. Dan yang tidak menguntungkan tentu bisa dihentikan,” ucap Heru.

Namun, di lain sisi, Heru menyangsikan jika Telkom berupaya kembali memblokir lagi layanan Netflix yang memiliki basis pengguna yang besar. Sehingga, ada kemungkinan Telkom kehilangan pelanggannya.

“Cuma persoalannya apakah berani? Sebab Netflix itu sudah jadi bahan kompetisi dengan operator lain. Sehingga sebelum menghentikan layanan dan fokus pada penyedia lainnya, tentu akan dihitung dampaknya,” pungkas Heru.

Sebelumnya, kasus yang sama terjadi di Amerika Serikat. Netflix pada akhirnya membayar kepada Comcast, perusahaan telekomunikasi di AS. Biaya itu diperuntukkan pengguna Comcast yang menggunakan layanan Netflix bisa mendapat koneksi yang lebih stabil. Diketahui di AS, Netflix menghabiskan 30% trafik internet pada jam sibuk.

(LH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC