Connect with us

Ekbis

Efek “Crowding Out” dan Merosotnya Daya Beli

Published

on

Oleh: Gede Sandra*

Channel9.id-Jakarta. Pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2020 mengalami kontraksi minus 0,47 persen. Ini adalah angka pertumbuhan kredit yang terburuk sejak Krisis Ekonomi menerpa Indonesia tahun 1998.

Pemerintah, Bank Indonesia, dan sebagian ekonom berargumen bahwa kontraksi pertumbuhan kredit ini disebabkan oleh kondisi ekonomi yang memburuk dan daya beli masyarakat yang melemah. Sayangnya argumen ini tidak seluruhnya benar.

Ada faktor lain yang lebih dominan yang menyebabkan terjadinya kontraksi pertumbuhan kredit dan semakin merosotnya daya beli, yaitu terjadinya efek “crowding out” dalam perekonomian Indonesia. Apakah yang dimaksud dengan efek “crowding out”?

Efek “crowding out” adalah suatu kondisi ketika pemerintah sangat agresif meminjam dari publik (menerbitkan surat utang) dengan suku bunga tinggi, sehingga sektor bisnis menjadi enggan berinvestasi. Rendahnya investasi ini pada akhirnya menyebabkan perekonomian melambat dan daya beli masyarakat melemah.

Bagaimana efek “crowding out” ini terjadi di Indonesia? Secara sederhana, dana perbankan telah tersedot ke surat utang pemerintah yang berbunga tinggi, sehingga perbankan menjadi kekurangan dana untuk menyalurkan kredit. Seberapa besar dana perbankan yang tersedot ke surat utang pemerintah?

Dalam catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per 23 Oktober 2020 total surat berharga negara negara (SBN) yang dimiliki bank sudah mencapai Rp 1.348 triliun. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, per Oktober 2019 total dana bank di surat berharga negara (SBN) rupiah hanya Rp 670 triliun. Artinya selama setahun telah terjadi kenaikan 100 persen dari dana perbankan di surat utang pemerintah. Apa yang menyebabkan dana perbankan sedemikan besarnya tersedot ke surat utang?

Masyarakat pemilik dana besar di Perbankan lebih memilih untuk membeli surat utang pemerintah karena bunganya yang tinggi dan seluruh nilainya ditanggung oleh negara bila terjadi krisis keuangan. Berbeda bila mereka menyimpan dana di tabungan atau deposito yang hanya ditanggung hingga Rp 2 miliar oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Memangnya seberapa tinggikah tingkat bunga surat utang pemerintah?

Baca juga: Ratio Utang, Efek Crowding Out dan Solusinya 

Berdasarkan publikasi Kementerian Keuangan,  tingkat kupon Savings Bond Ritel untuk seri SBR009 periode 11 Agustus 2020 s.d. 10 November 2020 adalah 6,3 persen. Bandingkan dengan  rata-rata suku bunga deposito (1 tahun) 24 bank nasional yang sebesar 3,7 persen atau rata-rata suku bunga deposito (1 tahun) bank HIMBARA (BNI, BRI, Mandiri, dan BTN) yang sebesar 3,6 persen.

Artinya bila kita menempatkan dana di surat utang pemerintah, ada selisih keuntungan bunga sebesar 2,6 persen dibandingkan dengan hanya menempatkan dana di deposito. Selisih bunga sebesar 2,6 persen inilah yang sebabkan  tersedotnya dana perbankan ke surat utang pemerintah sehingga pertumbuhan kredit perbankan terkontraksi. Bila pertumbuhan kredit mengalami kontraksi, dapat dipastikan bahwa uang yang beredar di masyarakat sangat terbatas, sehingga akhirnya daya beli masyarakat juga akan semakin merosot.

Kunci dari bangkitnya perekonomian adalah pertumbuhan kredit yang positif dan tinggi. Hal ini sudah dibuktikan dari pengalaman negara China dan Vietnam yang berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di era pandemi. Ekonomi China berhasil tumbuh 4,9 persen karena dipacu pertumbuhan kreditnya yang melesat hingga 13 persen, sementara ekonomi Vietnam berhasil tumbuh 2,6 persen karena didorong pertumbuhan kreditnya yang mencapai 7,2 persen.

Tidak usah jauh-jauh dengan China, kita bandingkan situasi Indonesia dengan Vietnam saja. Apakah yang membuat pertumbuhan kredit di Vietnam tetap menggeliat sehingga bertumbuh 7,2 persen?

Ternyata tingkat bunga (yield) surat utang pemerintah Vietnam (10 tahun) hanya 2,3 persen, lebih kecil dari suku bunga deposito (1 tahun) di perbankan Vietnam yang sebesar 4 persen. Bunga surat utang lebih rendah dari bunga deposito, ini kebalikan dari yang terjadi di Indonesia. Artinya dana perbankan Vietnam tidak akan tersedot ke surat utang pemerintahnya, sehingga tetap mampu menyalurkan kredit untuk sektor bisnisnya.

*Analis dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

Akhir Pekan, Emas Antam Turun Rp4.000

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali terkoreksi. Logam mulia Antam dibanderol Rp957.000 per gram atau turun Rp4.000 pada perdagangan di akhir pekan, Sabtu, 23 Januari 2021.

Sebelumnya, emas Antam dijual Rp961.000 per gram pada Jumat (22/01). Sementara itu, harga buy back atau beli kembali juga ikut turun sebesar Rp4.000 menjadi Rp838.000 per gram.

Baca juga: Turun Tipis, Emas Antam DIbanderol Rp961.000 

Berikut daftar harga emas Antam pada Sabtu, 23 Januari 2021:

  1. Emas batangan 1 gram Rp957.000
  2. Emas batangan 2 gram Rp1.854.000
  3. Emas batangan 3 gram Rp2.756.000
  4. Emas batangan 5 gram Rp4.560.000
  5. Emas batangan 10 gram Rp9.065.000
  6. Emas batangan 25 gram Rp22.537.000
  7. Emas batangan 50 gram Rp44.995.000
  8. Emas batangan 100 gram Rp89.912.000
Continue Reading

Ekbis

IHSG Ditutup Melemah 1,66%, Sektor Tambang Terjun Bebas

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (22/01). Indeks turun 1,66 persen atau 106,77 poin ke level 6.307,13.

Sepanjang perdagangan hari ini, indeks bergerak di rentang 6.283,31-6.428,49. Pada penutupan sesi I, IHSG ditutup melemah 1,49 persen atau 96,03 poin ke level 6.317,86. Namun, penurunan IHSG makin dalam pada sesi II.

Seluruh sektor saham anjlok bersama dengan indeks. Sektor tambang terjun paling dalam 4,09%, disusul sektor infrastruktur yang anjlok 2,82%. Kemudian sektor konstruksi dan properti melorot 2,60%, sektor perkebunan amblas 2,15%, dan sektor industri dasar turun 2,06%.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah 0,25%, Sektor Keuangan Turun Terdalam

Selanjutnya, sektor manufaktur merosot 1,58%, sektor aneka industri tergerus 1,38%, dan sektor barang konsumsi turun1,29%.  Tak ketinggalan, sektor keuangan turun 0,99% dan sektor perdagangan dan jasa melemah 0,94%.

Investor asing tercatat paling banyak melepas saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Aksi jual atau net sell asing terhadap saham TLKM mencapai Rp99,3 miliar.

PT PP Tbk (PTPP) menjadi top loser LQ45 hari ini dengan terjun bebas 6,94%. Kemudian PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) amblas hingga 6,80% dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melemah 6,67%.

Di sisi lain, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melaju menjadi top gainer LQ45 dengan menguat 1,31% dan PT Bank Central Asia (BBCA) naik tipis 0,07%.

 

Continue Reading

Ekbis

Usai RUPSLB, BRI Ganti 4 Direktur

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Kamis, 21 Januari 2021. Hasilnya, BRI melakukan perombakan manajemennya.

Berdasarkan usulan keputusan RUPSLB, pemegang saham memberhentikan Haru Koesmahargyo sebagai Direktur Keuangan, Priyastomo sebagai Direktur Bisnis dan Ritel, dan Herdy Rosadi sebagai Direktur Human Capital BRI. Sementara Wisto Prihadi yang sebelumnya diangkat sebagai Direktur Kepatuhan diberhentikan karena tidak lulus fit and proper test di OJK.

Baca juga: Bank Mandiri Siap Gelar RUPSLB, Siapa Calon Pengganti Dirut?

Sebagai pengganti,  Viviana Dyah Ayu Retno diangkat sebagai Direktur Keuangan, Amam Sukriyanto sebagai Direktur Bisnis Kecil dan Menengah, Arga Mahanana Nugraha sebagai Direktur Jaringan dan Layanan, dan Agus Winardono sebagai Direktur Human Capital.

“Anggota dewan direksi dan komisaris yang tidak disetujui dalam penilaian fit and proper tes , maka anggota direksi dan komisaris diberhentikan dengan hormat oleh OJK. Dengan putusan RUPSLB dan perubahan pengurus menegaskan fokus BRI membantu UMKM yang berupaya bangkit di tengah pandemi yang belum berakhir,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso.

Berikut ini adalah susunan lengkap susunan Direksi BRI :

Direktur Utama : Sunarso

Wakil Direktur Utama : Catur Budi Harto

Direktur Keuangan : Viviana Dyah Ayu Retno

Direktur Kelembagaan dan BUMN : Agus Noorsanto

Direktur Bisnis Kecil dan Menengah : Amam Sukriyanto

Direktur Digital dan Teknologi Informasi : Indra Utoyo

Direktur Bisnis Mikro : Supari

Direktur Jaringan dan Layanan : Arga Mahanana Nugraha

Direktur Kepatuhan : Achmad Solichin Lutfiyanto

Direktur Manajemen Risiko : Agus Sudiarto

Direktur Konsumer : Handayani

Direktur Human Capital : Agus Winardono

Selain penggantian Direksi, disebutkan pula jika BRI juga akan melakukan pengalihan saham hasil pembelian kembali saham (buyback) selama masa pandemi. Saat ini saham hasil buyback ini masih disimpan sebagai saham treasuri.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC