Channel9.id-Jakarta. Film Indonesia berjudul Surat untuk Masa Mudaku dijadwalkan tayang di platform streaming Netflix pada 2026. Film ini disutradarai oleh Sim F. dan terinspirasi dari pengalaman personal sang sutradara, yang kemudian dikembangkan menjadi cerita fiksi bertema kehilangan dan penerimaan diri.
Sim F. menyampaikan bahwa film tersebut bukan merupakan film biografi, melainkan karya fiksi yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya semasa kecil, khususnya saat tumbuh di lingkungan panti asuhan. Pengalaman tersebut menjadi latar emosional yang membentuk cerita dalam film ini.
Film Surat untuk Masa Mudaku menjadi proyek kerja sama pertama Sim F. dengan Netflix setelah terakhir merilis film Susi Susanti: Love All pada 2019. Menurut Sim, kerja sama dengan platform streaming dipilih seiring perubahan pola produksi dan distribusi film pascapandemi COVID-19.
“Awalnya saya membagikan cerita masa kecil saya di media sosial. Dari situ Netflix membaca dan mengajak untuk mengembangkan cerita tersebut menjadi film,” kata Sim F. dalam acara Next on Netflix Indonesia 2026 yang digelar di The Kasablanka Hall, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, tema utama dalam Surat untuk Masa Mudaku berfokus pada rasa kehilangan yang dialami seseorang sejak usia dini dan dampaknya hingga dewasa. Tema tersebut, menurutnya, merupakan isu yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
“Tema utamanya tentang kehilangan. Ketika seseorang mengalami kehilangan sejak kecil, perasaan itu sering terbawa sampai dewasa,” ujarnya.
Netflix sebelumnya juga menyatakan komitmennya untuk menghadirkan cerita-cerita Indonesia yang berangkat dari pengalaman personal dan dinamika keluarga, dengan pendekatan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Terkait judul film, Sim mengungkapkan bahwa Surat untuk Masa Mudaku terinspirasi dari kebiasaannya menulis surat sebagai bentuk refleksi dan penguatan diri. Surat tersebut dimaknai sebagai pesan untuk diri sendiri di masa kecil.
“Surat itu seperti berbicara kepada diri sendiri. Tentang bertahan dan menghargai proses yang telah dilalui,” tuturnya.
Film ini menampilkan gambaran kehidupan anak-anak di panti asuhan serta relasi mereka dengan lingkungan sekitar. Melalui cerita tersebut, Sim berharap penonton dapat memahami dinamika emosional yang dialami anak-anak dalam kondisi keterbatasan.
Proses produksi Surat untuk Masa Mudaku berlangsung selama sekitar dua tahun, dimulai dari pengembangan naskah hingga tahap penyelesaian akhir. Proses syuting dilakukan selama kurang lebih 28 hari di wilayah Sukabumi dan melibatkan sejumlah pemeran anak-anak.
Sim menambahkan bahwa proses penyutradaraan pemeran anak memerlukan pendekatan yang berbeda, termasuk pendampingan intensif agar mereka dapat beradaptasi selama proses syuting.
“Pendekatannya berbeda dengan orang dewasa. Kami berupaya membangun kedekatan agar anak-anak merasa nyaman selama proses produksi,” katanya.
Terkait distribusi global melalui Netflix, Sim menyebut tidak ada penyesuaian khusus yang dilakukan untuk pasar internasional.
“Tema keluarga dan kehilangan bersifat universal, sehingga kami tidak melakukan penyesuaian khusus untuk penonton global,” ujarnya.
Melalui film ini, Sim berharap pesan yang disampaikan dapat memberikan perspektif dan harapan bagi penonton, khususnya mereka yang tumbuh dalam keterbatasan, bahwa latar belakang kehidupan tidak selalu menentukan masa depan seseorang.
Kontributor: Akhmad Sekhu





