Connect with us

Ekbis

Gini Ratio Indonesia Naik Menjadi 0,385 Persen  

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk atau Gini Ratio Indonesia pada September 2020 mencapai 0,385 atau naik 0,005 poin dibandingkan September 2019 yang mencapai 0,380. “Peningkatan gini ratio ini terjadi baik di kota dan di desa,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin.

Adapun gini ratio di desa pada September 2020 mencapai 0,319 atau naik dibandingkan September 2019 mencapai 0,315. Sedangkan di kota, kata dia, gini ratio mencapai 0,399 atau naik dibandingkan September 2019 mencapai 0,391.

Menurut Suhariyanto, peningkatan gini ratio tersebut disebabkan karena meningkatnya angka penduduk miskin sebagai dampak pandemi Covid-19. BPS mencatat jumlah penduduk miskin per September lalu mencapai 27,55 juta orang atau naik menjadi 10,19 persen dibandingkan September 2019 mencapai 24,79 juta orang pada posisi 9,22 persen.

Adapun persentase kenaikan penduduk miskin mencapai 0,97 persen atau terjadi kenaikan mencapai 2,76 juta penduduk miskin.

Suhariyanto menjelaskan angka gini ratio berkisar 0-1 atau apabila terjadi peningkatan, maka angka ketimpangan semakin tinggi. Apabila gini ratio mencapai 0, maka ketimpangan pendapatan merata sempurna, artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama dengan yang lain.

Sedangkan apabila gini ratio sama dengan 1, maka ketimpangan pendapatan timpang sempurna atau pendapatan hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok saja. Suhariyanto mengatakan pergerakan gini ratio di setiap provinsi berbeda, ada yang mengalami peningkatan dan ada juga provinsi yang mengalami penurunan gini ratio.

Kondisi itu, kata dia, disebabkan perilaku masyarakat yang berbeda baik 40 persen lapisan ekonomi terbawah, 40 persen lapisan menengah dan 20 persen atas. Sedangkan berdasarkan provinsi, gini ratio tertinggi terjadi di Yogyakarta sebesar 0,437, Gorontalo (0,406), DKI Jakarta (0,400), Jawa Barat (0,398), Papua (0,395), Sulawesi Tenggara (0,388) dan NTB (0,386). Sedangkan gini ratio terendah terjadi di Kepulauan Bangka Belitung mencapai 0,257.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

Turun Lagi, Emas Antam Dijual Rp934.000

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan hari ini, Kamis (25/02) kembali turun. Logam mulia ini dijual Rp934.000 per gram atau turun Rp.4.000.

Sebelumnya, harga emas Antam berada di level Rp938.000 pada Rabu (25/02).

Baca juga: Turun Tipis, Emas Antam Dijual Rp923.000

Sementara itu, harga buy back atau beli kembali juga ikut turun sebesar Rp4.000 menjadi Rp814.000 per gram.

Berikut daftar harga emas Antam pada Kamis, 25 Februari 2021:

  1. Emas batangan 1 gram Rp934.000
  2. Emas batangan 2 gram Rp1.808.000
  3. Emas batangan 3 gram Rp2.687.000
  4. Emas batangan 5 gram Rp4.445.000
  5. Emas batangan 10 gram Rp8.835.000
  6. Emas batangan 25 gram Rp21.962.000
  7. Emas batangan 50 gram Rp43.485.000
  8. Emas batangan 100 gram Rp87.612.000
Continue Reading

Ekbis

Lintasi Karier dan Disiplin Ilmu, Penggiat UMKM Ini Bagikan Pengalaman Melalui Buku

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta.  Ary Zulfikar, Ketua Perkumpulan Bumi Alumni (PBA), organisasi yang menaungi para pelaku bisnis UMKM  merilis buku terbarunya yang berjudul “Hukum Bisnis, Keuangan Negara  dan Pasar Modal”, buku tersebut merupakan refleksi pemikiran yang selama ini ia geluti dalam hukum bisnis, keuangan dan pasar modal.

Ary yang akrab dipanggil Azoo, saat ini menjabat menjadi Direktur Hukum Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sebelumnya ia sudah berkarir dan malang melintang dalam bidang hukum bisnis, hukum pasar modal. Ia  pernah bergabung dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)  dengan jabatan terakhir adalah Kepala Divisi Aset Manajemen Investasi.

Alumnus Fakultas Hukum Unpad, ini  juga mendalami  pasar modal di kantor hukum Kartini Muljadi & Rekan serta bergabung dengan PT Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada tahun 1997/1998. Lalu bergabung dengan BPPN dan menjadi Tim Hukum Persiapan Pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Selesai berkarir di berbagai lembaga , penggiat UMKM ini juga mendirikan kantor hukum  AZP Legal Consultant dengan spesialisasi hukum pada bidang pasar modal, perbankan dan keuangan, restrukturisasi perusahaan,investasi dan infrastruktur.

Kantor hukum yang ia dirikan menyabet berbagai penghargaan bergengsi, antara lain  Indonesia’s Top Lawyer 2018, 2019,2020. Serta sederet  prestasi lainnya sebagai bentuk pengakuan atas profesionalisme selama menjadi legal consultant.

Buku yang ia terbitkan, merupakan hasil pergulatan pemikiran atas berbagai persoalan-persoalan yang ia geluti selama berpuluh-puluh tahun  melintasi pekerjaan dan profesi.  Mentornya  Prof (emeritus) Dr. Eddy Damian  di Universitas Padjajaran menyebut  Ary Zulfikar sebagai ilmuwan. “ Saya sangat kagum dengan kecerdasan  Ary, dia sudah menjadi ilmuwan,” jelasnya.

Sebagai akademisi  Prof. Eddy melihat kelebihan Ary adalah ia juga menjadi praktisi  yang terlibat  dalam berbagai persoalan baik keuangan, restrukturisasi perbankan yang mengasah kemampuannya secara teoritik dan praktik.

Tak heran jika buku karya Azoo ini, sangat  kaya dengan analisis kasus terhadap fakta-fakta, dari mulai masalah restrukturisasi perbankan, penerbitan sukuk, sengketa transaksi keuangan, perlindungan investor terhadap penerbitan surat berharga, Pengaruh PMA terhadap UMKM  dan sebagainya.

Ia juga sejak awal  sangat memperhatikan geliat UMKM.  Dalam salah satu tulisannya menyoroti kebijakan penanaman modal asing agar bisa memberdayakan UMKM. “Saya melakukan kajian terhadap dampak PMA ini terhadap ekonomi kerakyatan,” jelasnya.

Keberpihakannya terhadap perkembangan UMKM, mendapatkan apresiasi dari Lina Marlina, Istri Wakil Gubernur Jawa Barat, UU Ruhzanul Ulum yang hadir dalam acara tersebut. “Saya  mengapresiasi buku ini karena  salah satunya ada kajian mengenai UMKM, saya tiap hari berurusan dengan UMKM, jadi nanti saya sempatkan waktu untuk membaca,” jelasnya.

Ia berharap penerbitan buku yang juga sekaligus berbarengan dengan pameran produk-produk UMKM  bisa mendorong, perkembangan UMKM di Jawa Barat semakin maju. “ UMKM butuh sentuhan, butuh bimbingan, apa yang dilakukan Pak Ary dengan komunitas PBA nya sangat membantu para pelaku bisnis UMKM untuk naik kelas,” ujar Lina Marlina.

Prof.  An  An Chandra Wulan, SH, LLM, Guru Besar Hukum Universitas Padjajaran, melihat buku Ary Zulfikar sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Meskipun analisis kasus nya terjadi pada masa lalu, namun masih sangat aktual dengan kondisi saat ini, dimana kita juga terdampak krisis akibat pandemi,” jelasnya.

Ia menilai buku ini sangat bagus , terutama untuk bab pertama dan terakhir, bukan tidak mungkin dengan kondisi pandemi ini akan berdampak kepada perbankan.

“Bagaimana peran LPS yang ditulis dalam buku ini, dalam menyehatkan perbankan bisa menjadi acuan bagi siapapun yang membacanya,” jelas Prof An An. Ia  mengaku bangga dengan karier dan ketekunan anak didiknya dalam menjalani profesi yang ia geluti. Selain sukses dalam menapaki karirnya, namun juga melahirkan karya intelektual.

Prof. An-An Chandrawulan adalah pembimbingnya, ketika  Ary Zulfikar menempuh pendidikan S 3 nya di Universitas Padjajaran. “Kalau masih punya waktu barangkali Ary bisa membuat tulisan lagi  yang terkait dengan penerapan Undang Undang Cipta Kerja,” ujarnya.

Azoo sendiri menjelaskan  tulisan-tulisan yang buat merupakan buah keterlibatannya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang praktisi.  Baik ketika ia diminta untuk membuat analisis kasus maupun pendapat keahlian dari berbagai lembaga.

“ Tulisan saya mengenai  resolusi bank dalam  penyelesaian bank bermasalah, saya tulis jauh sebelum menjadi Direktur eksekutif LPS,” jelasnya. Ia berharap mudah-mudahan kumpulan tulisan yang dikompilasi dalam bukunya tersebut bisa bermanfaat.

Acara peluncuran buku yang dihadiri oleh para pelaku UMKM, juga sekalian meluncurkan produk baru dari merek kolektif yang digagas oleh Perkumpulan Bumi Alumni, yaitu Lupba. Pada kesempatan itu juga hadir  Ibu Lina Marlina, yang mewakili Bp. UU Ruzhanul Ulum, wakil gunernur Jawa Barat, sekaligus membuka acara peluncuran buku dan launching produk UMKM Alumni.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Dewi Tenty Septi Artiany atau yang dikenal teh  dete, menjelaskan merek kolektif yang dikembangkan oleh Perkumpulan Bumi alumni adalah produk yang zero waste dengan memanfaatkan limbah kulit pisang menjadi pupuk. Selain itu dalam acara tersebut juga disajikan, berbagai produk terbaru yang bernaung dengan merek Lupba.

Umumnya produk UMKM yang disajikan adalah makanan ringan, makanan olahan yang sudah bisa diperoleh di berbagai market place, seperti shopee dan tokopedia. Produk dengan merek Lupba juga berencana akan menembus pasar ekspor ke luar negeri.

 

 

Continue Reading

Ekbis

Perkumpulan Bumi Alumni Luncurkan Merek Kolektif Lupba

Published

on

By

Channel9.id – Bandung. PERKUMPULAN Perkumpulan Bumi Alumni (PBA) Unpad meluncurkan brand ‘Lupba’ yang merupakan merek kolektif produk UMKM alumni Unpad, Bandung, Jawa Barat.

Acara peluncuran berlangsung di sela acara peluncuran buku Hukum Bisnis, Keuangan Negara dan Pasar Modal karya Dr Ary Zulfikar, SH, MH yang juga PBA di Hotel Universal, Bandung, Sabtu (20/2). Acara ini sekaligus perayaan HUT Ary yang akrab disapa Kang Azoo yang ke-50 tersebut.

Acara ini diantaranya dihadiri Lina Marlina, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan, serta Prof Dr Eddy Damian.

“Merek kolektif sebetulnya undang-undangnya sudah lama ada, tapi belum ada yang sukses menjalankannya karena sulit mengumpulkan beberapa brand pelaku UMKM dalam satu bendera yang sama,” kata Ary.

Lupba, jelas Ary, adalah plesetan dari kata lupa. “Ketika kita masuk supermarket, cari produk kripik misalnya. Pas ditanya kripik apa? Kita jawab lupa (Lupba),” jelas Ary.

Sementara itu, penggagas merek Lupba yang juga Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga PBA Dewi Tenty Septi Artiany mengatakan penggunaan merek kolektif sudah lazim di luar negeri. Menurutnya Penggunaan merek secara bersama bisa memecahkan masalah kuota dan kontinuitas produksi.

“Dengan bergabung bisa saling backup. Kuota produksi kadang tidak bisa memenuhi permintaan karena main sendiri-sendiri,” kata Dewi.

Saat ini produk UMKM yang bergabung dengan merek kolektif Lupba adalah kopi, bawang merah goreng, kripik pisang, kripik dari gedebok pisang, dan pupuk organik cair.

Salah satu produk yang dijajaki adalah makanan olahan berbahan pisang kepok dari Cianjur. Bukan hanya pisangnya saja yang dibuat keripik, tapi juga batang pisang bisa diolah menjadi keripik sementara kulit pisangnya digunakan untuk pupuk organik cair.

“UMKM saatnya tidak bermain di pinggiran. Kita akan mendobrak kelas menengah atas serta anak milenial,” ungkap Dewi. (*)

Continue Reading

HOT TOPIC