Channel9.id – Jakarta. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat strategi antisipasi, adaptasi, dan mitigasi menghadapi musim kemarau 2026 guna menjaga produksi pangan nasional. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul, modernisasi pertanian, serta koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempertahankan target swasembada pangan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementan Suwandi mengatakan pemerintah memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Berbagai program penguatan produksi telah dijalankan, mulai dari optimalisasi lahan, cetak sawah, pembangunan irigasi perpompaan, hingga penyediaan benih unggul dan penguatan koordinasi pusat-daerah.
“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” ujar Suwandi dalam Konferensi Pers Pemerintah bertajuk Update Program Prioritas Pemerintah di Aula Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Suwandi, sektor pertanian menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional lima tahun ke depan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Sektor tersebut diarahkan untuk mendukung swasembada pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan biofuel, dan hilirisasi pertanian.
Kementan juga menilai kondisi iklim pada 2026 tidak dapat disamakan dengan fenomena El Nino kuat yang terjadi pada 2015 maupun 2023. Berdasarkan pemantauan data iklim dari BMKG dan satelit NOAA, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung dalam kondisi yang lebih terkendali.
“Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” katanya.
Meski demikian, Kementan tetap meningkatkan kewaspadaan karena periode Juli hingga September merupakan puncak musim kemarau di Indonesia. Sejak awal 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menginstruksikan pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan.
Melalui surat yang dikirim kepada gubernur dan bupati pada 9 Maret 2026, pemerintah daerah diminta memetakan wilayah rawan kekeringan dan memperkuat sistem peringatan dini. Daerah juga diminta memperbaiki jaringan irigasi, melakukan normalisasi saluran air, serta mengoptimalkan pemanfaatan embung dan waduk.
“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” jelas Suwandi.
Selain memperkuat kesiapsiagaan daerah, Kementan terus memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui pemantauan BMKG dan satelit NOAA. Informasi tersebut digunakan agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi lapangan.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan, seperti Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan varietas genjah lainnya. Penyediaan benih tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung.
HT





