Nasional

IKA UNJ Dorong Kurikulum Pendidikan Lebih Responsif terhadap Ancaman Digital

Channel9.id, Jakarta. Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membuat dunia pendidikan menghadapi tantangan baru, mulai dari paparan konten negatif hingga perubahan pola pikir dan perilaku peserta didik. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan kapasitas guru agar mampu mendampingi siswa menghadapi ruang digital secara kritis dan bertanggung jawab.

Isu tersebut menjadi fokus Forum Diskusi Pedagogik (FDP) #1 yang digelar Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) pada Rabu (26/8/2025). Mengusung tema “Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital”, forum digelar secara hybrid dari Ruang Sidang Dekan FMIPA, Gedung Hasjim Asjari Lantai 6, UNJ, Rawamangun, dan melalui Zoom Meeting.

Rektor UNJ Prof. Dr. Komarudin, M.Si. menjadi keynote speaker dalam kegiatan tersebut dan diwakili Dekan FMIPA Dr. Hadi Nasbey, M.Si. Dalam forum itu, perkembangan teknologi digital dinilai perlu diimbangi dengan penguatan karakter peserta didik.

Derasnya arus informasi melalui media sosial membuat peserta didik semakin mudah terpapar berbagai konten. Karena itu, sekolah dinilai perlu memperluas fokus pembelajaran, tidak hanya pada pencapaian akademik.

Kemampuan berpikir kritis, ketahanan mental, etika, dan nilai kemanusiaan menjadi bekal yang dibutuhkan siswa agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun konten yang mereka temui di internet.

Dalam situasi tersebut, guru memiliki peran penting sebagai pendamping sekaligus penyaring informasi bagi peserta didik. Peran pendidik tidak lagi sebatas menyampaikan materi, tetapi juga membantu siswa memahami konsekuensi dari aktivitas mereka di ruang digital.

Pendidikan Agama Perkuat Imunitas Moral

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Jakarta Utara, Samsuriat, M.Pd., menilai pendidikan agama dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan moral anak di tengah derasnya arus digital.

Menurut Samsuriat, pengawasan penggunaan perangkat digital saja tidak cukup untuk mencegah anak terpapar dampak negatif internet.

“Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dari dalam diri peserta didik melalui pendidikan karakter dan nilai keagamaan,” ujarnya.

Dengan kesadaran tersebut, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk menentukan konten yang layak dikonsumsi dan menghindari materi yang berpotensi memberikan dampak negatif.

Kurikulum Perlu Menjawab Risiko Digital

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidik Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Juwarto, M.Pd., menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru agar kebijakan pendidikan dapat menjawab tantangan yang muncul di ruang digital.

Kurikulum, kata dia, perlu memberikan ruang untuk pembelajaran mengenai keamanan digital, etika bermedia sosial, hingga pemanfaatan teknologi secara sehat dan produktif.

“Persoalannya bukan hanya bagaimana membuat aturan, tetapi bagaimana kebijakan tersebut benar-benar diterapkan di ruang kelas,” kata Juwarto.

Ia menilai guru harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai pembimbing peserta didik.

“Guru dituntut mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai pembimbing dan penjaga nilai bagi peserta didik,” ujarnya.

Forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya IKA UNJ memperkuat kontribusi alumni terhadap isu pendidikan nasional. Respons terhadap risiko dunia digital dinilai tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau pemerintah.

Keterlibatan perguruan tinggi, organisasi alumni, pendidik, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Melalui Forum Diskusi Pedagogik, IKA UNJ mendorong agar pembahasan mengenai pendidikan dan tantangan digital tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berkembang menjadi gagasan dan langkah konkret yang dapat diterapkan di lingkungan pendidikan.

Forum ini sekaligus menjadi bagian dari semangat #AlumniMengabdi, dengan menempatkan alumni sebagai salah satu elemen yang ikut memberikan kontribusi terhadap penguatan kualitas pendidikan dan perlindungan generasi muda di tengah perubahan digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  48  =  53