Channel9.id – Jakarta. Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) meresmikan Pusat Studi Moderasi Beragama dalam kegiatan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) bertema “Multiperspektif Toleransi Beragama di DKI Jakarta” pada Selasa (27/10/2026). Diskusi tersebut membahas toleransi, kerukunan sosial, dan kebebasan beragama di tengah masyarakat yang beragam.
Dalam diskusi tersebut, Pendeta Jeirry Sumampouw dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta menyoroti masih terjadinya pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia. Ia mengutip data SETARA Institute yang mencatat 221 pelanggaran KBB sepanjang 2025.
Jeirry menjelaskan bahwa toleransi, kerukunan, dan kebebasan beragama merupakan tiga konsep fundamental dalam pembahasan moderasi beragama. Menurut dia, ketiganya perlu dibedakan agar kerukunan tidak hanya dipahami sebagai ketiadaan konflik yang terlihat di permukaan.
“Kerukunan saat ini banyak tampak hanya sebagai seremonial,” kata Jeirry dalam acara diskusi yang diikuti Channel9.id tersebut.
Ia menjelaskan, kondisi yang terlihat rukun belum tentu mencerminkan hubungan sosial yang setara. Kelompok yang dirugikan bisa saja memilih diam karena takut atau tidak memiliki kemampuan untuk memperjuangkan haknya.
Jeirry juga menekankan pentingnya jaminan konstitusi dalam kebebasan beragama. Menurut dia, hak seseorang untuk beribadah bukan bergantung pada kemurahan hati kelompok mayoritas, melainkan pada perlindungan negara terhadap martabat setiap warga negara.
Selain Jeirry, diskusi menghadirkan Wakil Katib Suriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas, perwakilan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) Ws. Pindawati, serta Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, H.M. Adib Abdushomad. Akademisi Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Adlin Sila, juga menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.
Adlin menjelaskan bahwa moderasi beragama berbeda dari moderasi agama. Konsep tersebut tidak bertujuan memoderasi ajaran agama tertentu, tetapi mendorong sikap dan cara pandang yang moderat dalam menjalankan kehidupan beragama.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ, Andy Hadiyanto, yang membuka kegiatan tersebut, menilai moderasi beragama penting untuk mempertemukan umat pada titik tengah dalam memandang agamanya.
“Moderasi beragama itu sangat penting, sebab dapat mempertemukan ummat pada titiktengah dalam cara pandang terhadap agamanya,” kata Andy.
Dalam kegiatan yang sama, IKA UNJ meresmikan Pusat Studi Moderasi Beragama sebagai wadah kajian mengenai isu tersebut. Perwakilan IKA UNJ, Edi Budiarso, menyampaikan bahwa pusat studi itu diharapkan dapat menghasilkan kajian dan karya tulis menjelang lima abad Jakarta.
HT




