Archandra Tahar
Opini

Inovasi Elon Musk di Space X Membuat Kebutuhan Gas Alam Bakal Meningkat

Oleh: Arcandra Tahar*

Channel9.id-Jakarta. Komunitas di industri minyak dan gas sedang ramai mendiskusikan langkah tak biasa Elon Musk yang mencari suplai gas metana (CH4) untuk mendukung aktivitas Space X di tahun 2026 ini. Apakah Elon Musk ingin menciptakan teknologi baru yang spektakuler dari gas metana atau ada hal lain yang ingin dimanfaatkan dari keberadaan gas metana yang melimpah di Amerika Serikat?

Dengan sepak terjang Elon Musk yang selalu menjadi pionir dalam inovasi teknologi, seperti PayPal, Tesla, Starlink, dan SpaceX, banyak yang berharap industri migas juga dapat memperoleh manfaat dari teknologi-teknologi baru yang beliau ciptakan. Apakah itu mungkin?

Harapan dan keingintahuan ini terjawab ketika pada tanggal 28 September 2026 SpaceX meluncurkan Starship Flight 14 menggunakan metana cair (CH₄) dan oksigen cair, bukan hidrogen cair seperti yang digunakan pada sistem peluncuran Space Launch System (SLS) milik NASA.

Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga roket-roket yang selama ini menggunakan bahan bakar hidrogen cair diganti dengan metana cair? Elon Musk mengganti konsep bahan bakar roket-roket Raptor ini karena SpaceX ingin mengembangkan roket yang dapat digunakan berulang kali, lebih mudah dioperasikan, dan mampu mendukung perjalanan ke Mars.

Namun, ada satu hal penting yang perlu kita ingat: Elon Musk tidak mengganti bahan bakar seluruh roket SpaceX. Roket Falcon 9 masih menggunakan RP-1 (kerosin khusus roket) dan oksigen cair.

Kalau kita dalami lebih jauh, ada empat alasan utama yang membuat Elon Musk memilih metana cair untuk roket Raptor. Pertama, penyimpanan lebih mudah dibandingkan dengan hidrogen cair. Hidrogen memiliki densitas yang sangat rendah. Pada kondisi cair, densitasnya sekitar 70 kg/m³, sedangkan metana cair sekitar 420–460 kg/m³, bergantung pada kondisi temperatur dan tekanan. Artinya, untuk membawa massa bahan bakar yang sama, hidrogen membutuhkan volume tangki yang jauh lebih besar. Perbedaan ini sangat penting untuk Starship, yang harus membawa kargo dalam jumlah besar.

Selain itu, hidrogen juga harus dipertahankan pada suhu sekitar −253°C, lebih dingin daripada metana cair yang disimpan pada sekitar −162°C. Hidrogen sangat mudah mengalami kebocoran melalui celah kecil dan memerlukan perhatian khusus terhadap kebocoran serta perpindahan panas. Ingat kasus meledaknya pesawat ulang-alik Challenger tahun 1986.

Kedua, mengurangi masalah residu pada mesin roket yang digunakan berulang kali. Ini merupakan pertimbangan penting bagi visi SpaceX. Roket konvensional seperti Falcon 9 menggunakan kerosin sebagai bahan bakar. Pembakaran kerosin dapat menghasilkan jelaga dan deposit karbon. Deposit tersebut dapat meningkatkan kebutuhan inspeksi dan pemeliharaan mesin, terutama jika roket harus terbang berkali-kali dengan waktu perputaran yang singkat. Metana terbakar relatif bersih dan menghasilkan lebih sedikit residu karbon dibandingkan dengan kerosin.

Ketiga, metana dapat diproduksi di Mars. Menurut hemat kami, inilah salah satu alasan strategis paling menarik dari keputusan tersebut. Tujuan SpaceX bukan hanya mengirim roket ke orbit Bumi, tetapi juga membangun sistem transportasi menuju Mars. Pertanyaannya kemudian: jika manusia sudah berada di Mars, bagaimana mereka mendapatkan bahan bakar untuk kembali ke Bumi? Membawa seluruh bahan bakar perjalanan pulang dari Bumi akan menambah kebutuhan massa peluncuran secara signifikan. Metana menawarkan solusi yang berpotensi lebih praktis karena dapat diproduksi menggunakan sumber daya lokal Mars.

Keempat, mendukung visi peluncuran berulang dengan biaya lebih rendah. Inilah inti strategi bisnis SpaceX. Model transportasi ruang angkasa tradisional sering bergantung pada kendaraan yang mahal dan hanya digunakan untuk jumlah penerbangan terbatas seperti roket-roket NASA. Sebaliknya, SpaceX ingin mengembangkan sistem yang dapat diluncurkan, kembali, diperiksa, diisi bahan bakar, dan diluncurkan lagi. Penggunaan metana membantu mendukung rancangan sistem propulsi tersebut.

Setelah kita menganalisis kenapa Starship menggunakan metana cair, pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar gas metana ini yang dibutuhkan untuk misi ke Bulan dan bahkan ke Mars? Untuk saat ini, kebutuhan gas metana memang kecil. Untuk sekali peluncuran, diperlukan sekitar 1000 ton metana cair atau sekitar 48 mmcf gas metana. Namun demikian, SpaceX sudah mengajukan surat persetujuan kepada Federal Aviation Administration untuk bisa melakukan peluncuran sebanyak 465 kali dalam setahun. Kalau proposal ini disetujui, maka SpaceX membutuhkan sekitar 60 mmcf gas metana sehari atau sama dengan 0,07% dari total konsumsi gas di Amerika Serikat.

Selain rencana peluncuran sebanyak 465 kali dalam setahun, SpaceX juga punya rencana lain untuk melakukan peluncuran sebanyak 30 kali dalam sehari. Kalau ini terjadi, maka SpaceX akan memakai sekitar 1,7% dari total konsumsi gas metana di Amerika Serikat atau sekitar 11 juta ton setahun (mtpa). Sebagai perbandingan, total produksi LNG kita di Indonesia hanya sekitar 17 mtpa.

Apakah metana cair sama dengan LNG (liquid natural gas)? Jawabannya iya, tapi LNG selain punya metana cair, bisa juga punya molekul lain seperti etana.

Dengan rencana SpaceX yang ambisius ini, Elon Musk mulai mengamankan pasokan gasnya dengan membangun jaringan pipa sepanjang 8 mil dari LNG plant di Texas Selatan ke Bay Runner Pipeline. Secara terpisah, SpaceX pada bulan September 2026 mengajukan izin untuk membangun jaringan pipa baru dari Florida Gas Transmission System ke tempat peluncuran Cape Canaveral di Florida.

Saat ini, SpaceX aktif merekrut para trader gas untuk membangun tim yang akan mengelola kebutuhan gas mereka di masa depan. Ternyata gas metana menjadi critical path bagi SpaceX untuk mewujudkan rencana besar mereka ke Bulan dan Mars. Semoga bermanfaat.

*Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo

Baca juga: Lima Strategi Jepang dalam Membangun Keamanan Energi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

53  +    =  54