Connect with us

Hot Topic

Investigasi Penembakan di Lani Jaya Dibuka Senin Besok

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk Menko Polhukam Mahfud MD akhirnya menyelesaikan tugas untuk menginvestigasi penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Papua. Kini, hasil investigasi TGPF tengah menunggu pengumuman Menko Polhukam.

“Tim TGPF ini selesai tepat pada waktunya, yang semula dalam 14 hari, kemudian diperpanjang 3 hari, dan pada tanggal 17 Oktober ini sesuai tenggang waktu yang sudah selesai. Adapun hasilnya ini nanti kami akan menyerahkan kepada Bapak Menko, dan Bapak Menko sendiri pada hari Senin (18/10), yaitu hari kerja, akan disampaikan. Untuk waktunya akan diinformasikan lebih lanjut,” kata Sesmenko Polhukam Letjen TNI Tri Soewandono dalam konferensi pers virtual, Sabtu (17/10).

Baca juga: Polda Papua: Jelek Waker Dalang Penembakan Pendeta Zanambani 

Ketua TGPF Intan Jaya Benny Mamoto menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada timnya. Benny mengatakan TGPF telah dibentuk dengan representasi dari akademisi, TNI-Polri, hingga tokoh agama dan masyarakat

“Kita semua tahu situasi medan di Papua, kita semua tahu tentang situasi di Papua. Tapi ternyata Bapak Menko telah menyusun tim dari representasi akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepolisian, TNI, kejaksaan, kemudian dari Polhukam sendiri. Ternyata komitmen yang tergabung dalam tim ini yang begitu tinggi solid dan penuh semangat itulah yang membuat 14 hari bisa dengan padat,” kata Benny.

“Kita lakukan berbagai kegiatan dalam rangka mencapai target bagaimana mengumpulkan informasi lapangan, bagaimana cross-check informasi, bagaimana kita beraudiensi dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk membuat terang peristiwa ini,” sambungnya.

Benny mengatakan ada 42 saksi yang telah diwawancarai terkait kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani. Pihaknya meminta keterangan kepada pihak keluarga dan warga terkait peristiwa tersebut.

“Setelah kami tim semua berkumpul, kemudian masing-masing melaporkan siapa saja yang wawancara, sampai tadi malam 40 saksi, kemudian ditambah perorangan 2, jadi 42. Terdiri atas istri korban, keluarga, kemudian orang-orang ada di Hitadipa yang ikut menolong sampai pemakaman, mereka yang berkumpul dan bertemu aparat setempat, itu semua sudah kami periksa,” kata Benny.

Selain itu, TGPF meminta keterangan kepada aparat keamanan. Benny mengaku keterangan yang didapat sudah cukup.

“Jadi anggota TNI lebih dari 16 yang sudah kami periksa. Kami wawancara, cross-check informasinya. Ketika di Sugapa, kita juga perlu bertemu dengan penyidik, bertemu Dirkrimum di sana. Kemudian juga beberapa saksi yang ada di Hitadipa tapi ketika itu ada di Sugapa. Jadi dari sisi jumlah mungkin, dengan waktu yang singkat, kami merasa sudah maksimal,” jelasnya.

Pembunuhan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani terjadi pada Sabtu, 19 September lalu. Menko Polhukam Mahfud MD lalu membentuk TGPF atas permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang merespons surat dari Persekutuan Gereja Injil Indonesia (PGII).

TGPF ini juga dibentuk untuk menyelidiki terkait rentetan penembakan yang terjadi di Intan Jaya. TGPF sudah berada di Timika sejak Rabu (7/10). Mereka lalu bergerak ke Sugapa guna mencari fakta-fakta penembakan yang menewaskan 2 anggota TNI, 1 warga sipil, dan 1 pendeta itu.

TGPF sempat dihadang dan ditembaki KKB setelah melakukan olah TKP. Dua orang terkena tembakan, yakni Satgas Apter Hitadipa Sertu Faisal Akbar. Dia mengalami luka tembak di pinggang dan dosen UGM yang masuk ke dalam TGPF, Bambang Purwoko, yang mengalami luka tembak di pergelangan kaki kiri dan pergelangan tangan kiri.

IG

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hot Topic

Kasus Aktif di Sebagian Besar Kabupaten/Kota Di Bawah 100

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan, 79,3% atau 408 dari 514 kabupaten/kota memiliki kasus aktif antara 0 – 100 kasus.

“Sebagian besar kabupaten/kota memiliki kasus aktif dibawah seratus. Yang berarti bahwa sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia memiliki kasus aktif yang tidak banyak,” katanya saat mengabarkan perkembangan penanganan Covid-19 yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (29/10).

Untuk perkembangan kasus aktif, sebanyak 18,2% atau 94 kabupaten/kota  memiliki kasus aktif antara 101 – 1000 kasus. Sebesar 2,3% atau 12 kabupaten/kota memiliki kasus aktif diatas 1000 kasus. Jumlah kabupaten/kota yang memiliki kasus aktif diatas 1000 kasus itu yang perlu diwaspadai.

Pada kasus meninggal, sebesar 63,2% atau 325 kabupaten/kota memiliki kematian 0 – 100 kasus. Sebesar 31,7% atau 163 kabupaten/kota memiliki kasus kematian antara 11 – 100 kasus. Dan 5,06% atau 26 kabupaten/kota memiliki kematian lebih dari 100 kasus.

“Ini artinya lebih dari setengah wilayah di Indonesia memiliki angka kematian yang sedikit. Namun perlu diingat, satu kematian saja terbilang nyawa,” tegas Wiku.

Pada kasus sembuh, sambungnya, sebesar 57,6% atau 276 kabupaten/kota memiliki kesembuhan diatas 75%. Bahkan, ada kabupaten/kota yang memiliki tingkat kesembuhan mencapai 100%. Kemudian, sebesar 37,5% atau 193 kabupaten/kota memiliki kesembuhan antara 25 – 75 persen.

“Satgas sangat prihatin, ternyata masih ada 13 kabupaten/kota atau 2,5 persen, masih memiliki kesembuhan sangat rendah, yaitu kurang dari 25 persen,” jelasnya.

Menurut Wiku, secara umum kabupaten/kota dengan jumlah kasus aktif dan kasus meninggal terbanyak adalah kabupaten/kota besar dan padat penduduk. Hal ini menjadi tantangan dalam menjalankan sektor sosial ekonomi, namun tetap menekan penularan. Lalu melihat kasus sembuh, justru kabupaten/kota yang berada di Indonesia paling timur dan paling barat memiliki tingkat kesembuhan rendah.

“Hal ini dikarenakan belum masif-nya testing, atau pemeriksaan laboratorium, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang belum maksimal untuk penderita pasien Covid-19,” imbuhnya.

Wiku lanjut merincikan kabupaten/kota yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan Covid-19. Untuk kasus aktif diantaranya Kota Padang (3.306), Jakarta Timur (2.663), Kota Jayapura (2.202), Jakarta Selatan (2.047), Jakarta Barat (1.951), Kota Pekanbaru (1.885), Kota Bekasi (1.731), Kota Depok (1.595), Bekasi (1.287), Jakarta Utara (1.277), Bogor (1.275) dan Jakarta Pusat (1.024).

Baca juga: Satgas Covid-19: Daerah Bukan Zona Merah Bukan Berarti Aman

“Pekan ini Kota Padang peringkat pertama kasus aktif terbanyak. Satgas mengingatkan bahwa hal ini bukanlah prestasi. Pemerintah Daerah harus mengevaluasi menyeluruh terhadap protokol kesehatan di daerahnya, jangan sedikitpun lengah. Lakukan penegakan disiplin protokol kesehatan dan optimalkan peran satgas di daerah,” lanjutnya.

Untuk kasus meninggal, ada 26 kabupaten kota mencatatkan kasus lebih dari 100. Diantaranya Kota Surabaya (1.253), Kota Semarang (675), Jakarta Pusat (443), Sidoarjo (440), Jakarta Timur (437), Jakarta Barat (414), Jakarta Selatan (335), Kota Makassar (281), Kota Medan (263), Jakarta Utara (260), Gresik (226), Kota Balikpapan (208), Kota Depok (177), Kota Palembang (176), Kota Pekanbaru (166), Kota Malang (162), Kota Samarinda (153), Kota Banjarmasin (145), Banyuwangi (144), Demak (135), Pasuruan (131), Kota Manado (122), Kota Mataram (116), Kota Bekasi (114), Kota Padang (110) dan Kudus (108).

Selain itu masih terdapat 13 kabupaten/kota yang tingkat kesembuhannnya kurang dari 25%. Diantaranya Natuna (0%), Nigada (0%), Belu (0%), Manggarai Timur (0%), Sarmi (13,3%), Kepulauan Yapen (14,2%), Maybrat (16,6%), Padang Lawas (19,5%), Bungo (20,8%), Kaimana (22,2%), Nias Utara (22,2%), Sarolangun (24,11%) dan Mamuju Utara (24,3%).

Wiku menjelaskan 4 kabupaten/kota dengan kesembuhan 0%, baru saja terdampak Covid-19. Sehingga dari jumlah kasus yang ada belum mengalami kesembuhan. Data per 25 Oktober, menunjukkan Natuna 1 kasus, Ngada 52 kasus, Belu 2 kasus dan Manggarai Timur 1 kasus. “Kita harapkan pasien-pasien Covid-19 di daerah ini bisa memiliki kesembuhan secara menyeluruh sehingga memiliki angka kesembuhan yang tinggi atau 100%,” jelasnya.

Ia juga menghimbau Pemerintah Daerah dengan tingkat kesembuhan yang rendah itu segera berkoordinasi dengan dengan Pemerintah Pusat atau Satgas Covid-19 Pusat sehingga dapat dicari jalan keluarnya dan meningkatkan angka kesembuhan.

Continue Reading

Hot Topic

Polri Ungkap Kekejaman Seorang Anggota KKB Distrik Sugapa Intan Jaya

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Polri menyampaikan kekejaman salah satu anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Rufinus Tigau, yang tewas usai terlibat kontak tembak dengan Satgas Nemangkawi di Kampung Jalai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua pada Senin (26/10).

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menjelaskan, kelompok Rufinus sudah menjadi target pengejaran TNI-Polri. Hal itu karena KKB di wilayah Jalai kerap membuat resah masyarakat.

“Rufinus Tigau merupakan anggota KKB. Kelompok bersenjata ini memang membuat resah masyarakat di kampung Jalai. Suka merampas harta masyarakat bahkan tak segan untuk membunuh,” kata Awi, Kamis (29/10).

Awi menyampaikan, Rufinus dan keluarga mulanya termasuk Katolik taat di kampung tersebut. Namun, kemudian berlawanan pihak dengan keluarga karena paksaan KKB.

Informasi itu diketahui dari ayah tirinya yang bernama Antonius Abugau. Antonius menyebut Rufinus telah berubah sejak bergabung dengan kelompok KKB.

“Dari keterangan ayah tiri Rufinus bahwa memang anak tirinya ini berubah sejak gabung ke KKB. Kelompok ini selalu merampas, mengancam pemuda kampung Jalai bahkan sudah membunuh kepala suku kira-kira Agustus lalu karena membela mama-mama penjual di pasar yang ditindas mereka,” kata Awi.

Kemudian, Adik kandung Rufinus Tigau, Juius Abugau, menyampaikan kakaknya telah bergabung dengan KKB sejak setahun silam.

“Keluarga Rufinus sudah ikhlas tetapi marah dan ketakutan dengan kelompok KKB karena tabiat buruk mereka. Bersedih dan malu karena anak mereka bergabung KKB, meresahkan masyarakat setempat,” pungkasnya.

(HY)

Continue Reading

Hot Topic

Bos PT MIT, Penyuap Eks Sekretaris MA Nurhadi Langsung Jalani Pemeriksaan KPK

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. KPK menangkap Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto. Hiendra merupakan buron penyuap eks Sekretaris MA Nurhadi.

“Penyidik KPK hari ini berhasil menangkap DPO KPK, tersangka HSO (Hiendra) dalam perkara dugaan suap pengurusan perkara MA tahun 2011-2016,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Kamis (29/10).

Kini, Hiendra sedang menjalani pemeriksaan intensif di Gedung KPK.

“Saat ini yang bersangkutan sudah berada di kantor KPK dan masih dalam pemeriksaan tim penyidik KPK. Info lengkapnya akan disampaikan dalam konferensi pers malam ini sekitar jam 18.30 WIB,” kata Ali.

Diketahui, Hiendra dijerat sebagai pihak yang menyuap mantan Sekretaris MA Nurhadi. Hiendra melalui Rezky Herbiono diduga memberi suap dan gratifikasi dengan nilai total mencapai Rp 46 miliar. Rezky merupakan menantu Nurhadi.

Tercatat ada tiga perkara sumber suap dan gratifikasi Nurhadi, pertama perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara, kedua sengketa saham di PT MIT, dan ketiga gratifikasi terkait dengan sejumlah perkara di pengadilan.

(HY)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC