Connect with us

Techno

ITS Membuat Alat Skrining i-Nose C-19

Published

on

ITS Membuat Alat Skrining i-Nose C-19

Channel9.id-Surabaya. Perjalanan alat inovasi canggih untuk skrining Covid-19, i-nose c-19, masih terus berlanjut. Alat yang dikembangkan oleh guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD dan tim dalam tahapan penambahan sampel untuk proses uji profiling.

Dalam rangka penambahan sampel, Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno M.Sc. Ph.D. dan tim melakukan penyerahan empat alat i-nose c-19 di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya.

Selain bersama tim, profesor yang akrab disapa Ryan ini juga ditemani oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA dan Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD.

Tak ketinggalan, hadir pula Direktur Utama RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka SpOG-K. Peresmian penyerahan alat dan uji profiling ini juga ditujukan pada RSI Ahmad Yani, Surabaya.

Dalam sambutannya, Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA mengungkapkan bahwa ini merupakan bagian dari perjalanan i-nose c-19. Setelah didemokan di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), saat ini berlanjut untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu pengambilan sampel dan melakukan pengujian di beberapa rumah sakit.

Selain di RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani, tim i-nose c-19 juga telah bekerja sama dengan RSUD dr Soetomo dan National Hospital.

Sebagai Principal Inventor, Ryan juga menyampaikan perhatiannya pada masa pandemi yang menuntut untuk segera menghadirkan inovasi baru sebagai bentuk usaha bertahan di situasi ini. Namun, ia menambahkan bahwa untuk menghidupkan inovasi tidaklah mudah, tanpa penelitian yang lanjut maka bisa tertinggal dengan yang lain.

“Sama halnya dengan alat skrining Covid-19, yang semakin hari semakin banyak macam dan metodenya dari rapid antigen sampai PCR,” jelasnya.

Namun, guru besar Teknik Informatika ITS ini menegaskan bahwa inovasi alat skrining Covid-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR. Tetapi hanya alat skrining atau deteksi awal Covid-19 sebelum seseorang melakukan swab PCR dan sebagai alternatif untuk mempercepat proses skrining.

“Cara kerja i-nose c-19 pun berbeda dengan rapid test berbasis antibodi maupun rapid antigen,” papar Ryan.

Tak hanya sampai di situ, ia melanjutkan bahwa i-nose c-19 saat ini keefektifannya sudah mencapai minimum 91 persen.

“Diharapkan dengan semakin banyaknya sampel yang diuji cobakan pada alat ini nantinya semakin dapat membantu keakuratannya,” ungkapnya.

Mengingat, i-nose c-19 mendeteksi bau yang berasal dari Volatile Organic Compound (VOC) yang terdapat dalam keringat ketiak, pengambilan sampel dilakukan dengan menghisap bau keringat melalui selang kecil.

Kemudian disalurkan ke deretan sensor (sensor array) pada i-nose c-19. Setelah itu, gas bau tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Karena itu, dibutuhkan banyak uji coba dengan berbagai macam orang dengan kondisi tertentu, seperti orang yang terkena penyakit TBC namun negatif covid, orang yang positif covid namun tidak ada gejala dan lain-lain. Dalam hal ini akan menambah keakuratan dan keefektifan dari alat tersebut.

Penyerahan hibah i-nose c-19 ini mendapatkan sambutan baik dari pimpinan RSI. Dirut RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka SpOG-K menyadari bahwa Covid-19 telah mempengaruhi seluruh dunia. Begitu juga seluruh dunia sedang berlomba untuk menggalakkan inovasi guna mendeteksi virus ini. .

“Dengan hadirnya i-nose c-19 ini luar biasa menjawab kebutuhan, juga sudah memenuhi kaidah skrining sehingga bisa dipakai untuk massa,” tandasnya.

Kedepannya empat alat i-nose c-19 ini akan diletakkan di ruang rawat inap dua unit dan di ruang rawat jalan dua unit. Karena ini untuk mendukung penelitian dari i-nose c-19, menurut Bangun, maka untuk pengaplikasiannya nanti, orang-orang yang akan dites harus sudah di-swab PCR terlebih dulu.Hal ini berlaku untuk pasien dari luar maupun dari RSI sendiri.

“RSI beruntung bisa diikut sertakan dalam penelitian ini, ke depannya diharapkan bisa dijadikan tools karena murah dan cepat,” ucapnya bahagia.

Terakhir, Direktur DRPM ITS Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD atau yang akrab disapa Hatta juga turut memberikan rasa terima kasihnya kepada pihak RSI yang sudah menjadi katalis yang baik bagi pengembangan i-nose c-19.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Warganet Indonesia Disebut Paling Tak Sopan, Kominfo Bentuk Komite Etik

Published

on

By

Warganet Indonesia Disebut Paling Tak Sopan, Kominfo Bentuk Komite Etik

Channel9.id-Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membentuk komite etik atau Net Ethics Committee (NEC), yang salah satu fungsinya untuk mengawasi perilaku warganet Indonesia di internet.

Menkominfo Johnny G Plate mengatakan bahwa tugas NEC ialah untuk merumuskan panduan praktis terkait budaya, serta etika berinternet, termasuk etika dalam bermedia sosial.

“Panduan praktis ini diharapkan mampu mendorong peningkatan literasi digital bagi masyarakat, untuk menggunakan instrumen digital dan kemampuan merespon arus informasi digital agar bisa dikembangkan secara optimal,” sambung dia saat konferensi pers daring, Jumat (26/2).

Adapun anggota dari NEC berasal berbagai pemangku kepentingan yang terdiri dari Kementerian Kominfo, Kementerian lembaga negara yang terkait, akademisi, tokoh masyarakat dan agama, kelompok kepemudaan, pelaku usaha hingga pegiat literasi digital.

“Saat ini, Kementerian Kominfo tengah menyusun kelengkapan komite tersebut untuk bisa diinformasikan kepada masyarakat dalam waktu dekat,” ucap Johnny.

Ia mengatakan bahwa komite tersebut dibentuk atas arahan Presiden Joko Widodo pada 15 Februari lalu, yang meminta agar ruang digital di Indonesia lebih bersih, sehat, beretika, penuh dengan sopan santun, bertata krama, produktif, dan mampu memberi keadilan bagi masyarakat.

“Arahan Presiden Jokowi ini sangat relevan mengingat penggunaan internet meningkat di Indonesia sangat masif,” lanjut Johnny.

Sekadar informasi, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada 2020 mencapai 73,7% dari total penduduk, atau setara dengan 196,7 juta orang. Angka ini bertambah 25,5 juta atau 8,9% dari tahun sebelumnya. Kemudian didapati pula bahwa masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk berselancar di media sosial dan berkomunikasi secara daring.

Selain arahan tersebut, tekad untuk membentuk NEC semakin kuat dengan hasil riset Microsoft baru-baru ini, yang menunjukkan bahwa warganet Indonesia paling tak sopan se-Asia Tenggara.

Sebelumnya, Microsoft meriset tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020 terhadap 32 negara di dunia, yang tercatat di laporan berjudul ‘Digital Civility Index (DCI)’. Disebutkan bahwa Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara. Sementara dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia di urutan terendah.

Sistem penilaian laporan tersebut berkisar di skala nol hingga 100. Adapun semakin tinggi skor, maka semakin tak sopan. Skor kesopanan daring di Indonesia naik delapan poin, dari 67 pada tahun 2019 menjadi 76 pada tahun 2020.

“Secara garis besar, skor ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat penyebaran hoax, disinformasi, ujaran kebencian, serta kejadian bullying dan pelecehan daring yang semakin marak,” pungkas Johnny.

(LH)

Continue Reading

Techno

Tren Pencarian di Google Sepanjang 2020

Published

on

By

Tren Pencarian di Google Sepanjang 2020

Channel9.id-Jakarta. Google membeberkan bahwa tren pencarian dalam setahun terakhir tak hanya berkaitan dengan pandemi Covid-19. Sebab memang ada tren lainnya yang menarik.

“Dalam level yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, kita melihat pencerahan spiritual lewat penelusuran,” ujar Data Editor Google News Lab Simon Rogers secara daring saat briefing virtual, Kamis (25/2).

Saat sedang mencari tahu tentang pandemi Covid-19, pengguna lebih sering menelusuri kata kunci ‘Tuhan’, ‘Kebahagiaan’ dan ‘Empati’ daripada sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual kian meningkat selama pandemi.

“Selain itu, juga pencerahan pribadi di mana orang-orang ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri untuk membantu mereka melewati karantina,” sambungnya.

Pengguna terbukti berusaha untuk hidup lebih sehat dan nampak butuh hiburan. Menimbang harus tetap di rumah selama pandemi, Google mencatat bahwa banyak pengguna yang mencari kegiatan dan hiburan yang bisa dilakukan di rumah, seperti ‘maraton nonton film’, ‘celana olahraga’, ‘lari’, ‘jogging’, dan ‘sepeda’.

Selain itu, banyak pula pengguna yang mempelajari resep makanan baru elama pandemi. Google mengamati bahwa banyak pengguna internet yang mencari cara membuat kopi dalgona, roti sourdough hingga adonan pizza.

Berangkat dari tren-tren itu, ada hal yang unik. Banyak pula pengguna yang lupa hari sehingga menelusuri di Google dengan mengetik ‘hari ini hari apa’. Pertanyaan ini lebih banyak ditanyakan pada 2020, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kami juga melihat kenaikan pencarian seputar kencan dan bertemu seseorang, karena sudah banyak negara dan tempat yang mulai dibuka,” ujar Rogers.

Setelah 2020 berakhir, Google mencatat banyak pengguna yang kian optimis dan lebih sering menelusuri kata kunci ‘Harapan’. “Kami melihat banyak pencarian di sana karena orang-orang sudah siap untuk mulai move on,” lanjutnya.

(LH)

Continue Reading

Techno

Twitter Akan Hadirkan Konten Eksklusif dan Berbayar

Published

on

By

Twitter Akan Hadirkan Konten Eksklusif dan Berbayar

Channel9.id-Jakarta. Twitter memperkenalkan fitur barunya, “Super Follows”, kepada para investor pada Kamis (25/2). Fitur ini menyajikan konten berbayar yang memungkinkan pengguna untuk mengakses konten eksklusif, yang menjadi sumber penghasilan bagi pembuat konten.

Adapun konten eksklusif itu bisa berupa buletin berlangganan, video, penawaran khusus, dan diskon. Konten-konten ini disediakan oleh akun-akun yang produktif di Twitter, seperti akun bisnis, selebriti, hingga akun pengguna biasa.

Untuk mendapat keistimewaan dari “Super Follows” itu, pelanggan harus membayar biaya bulanan ke Twitter.

Diketahui, pengguna dan investor memang sudah lama meminta Twitter itu untuk meluncurkan model bisnis berbasis langganan. Hal ini menimbang maraknya pembuat konten dan influencer internet yang menggunakan layanan seperti Patreon, Substack, dan OnlyFans untuk menghasilkan uang dari popularitas mereka.

Selain itu, layanan konten eksklusif berbayar pun memungkinkan Twitter menambah sumber pendapatan baru—di mana jagat internet saat ini didominasi oleh iklan Google dan Facebook.

“Super Follows memungkinkan pembuat konten dan penerbit memperoleh pemasukan langsung dari fans mereka. Hal ini juga akan mendorong mereka untuk terus membuat konten yang disukai audiens,” ungkap Twitter. Namun, Twitter sendiri belum mengungkap besaran biaya langganan dan berapa yang akan dibagi kepada pembuat konten yang menyediakan konten eksklusif.

Untuk saat ini, fitur “Super Follow” belum tersedia. Twitter mengatakan akan mengumumkan soal fitur ini dalam beberapa bulan mendatang.

Sekadar informsi, baru-baru ini, Twitter meluncurkan “Revue”, yang memungkinkan pengguna menerbitkan buletin berbayar atau gratis kepada audiens mereka. Selain itu, ada pula “Twitter Spaces”, pesaing Clubhouse yang memungkinkan pengguna berpartisipasi dalam obrolan audio. Saat ini, fitur itu masih dalam pengujian beta privat yang belum bisa diakses pengguna Twitter secara umum.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC