Channel9.id – Jakarta. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafiz Muksin, memaparkan Indeks Kegemaran Membaca (IKM) Kalimantan Utara tahun 2025 berada di angka 58,89, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 54,8. Menurutnya, data tersebut membuktikan daerah perbatasan menyimpan modal sosial dan semangat literasi yang layak diperkuat.
Hal itu disampaikan Hafiz dalam Gelar Wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” di Aula Sasadu Gedung Thamrin, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Ia menyebut capaian Kalimantan Utara perlu dirawat melalui gerakan literasi berbasis komunitas, keluarga, sekolah, dan partisipasi seluruh pihak.
“Perbatasan tidak hanya menyimpan tantangan, tetapi juga harapan, semangat, dan kekuatan literasi Indonesia,” ujar Hafiz dalam pemaparannya.
Hafiz menjelaskan, literasi tidak bisa dibangun oleh satu lembaga saja, melainkan memerlukan ekosistem yang melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah daerah, komunitas literasi, taman baca, perpustakaan, pegiat sastra, dan masyarakat luas. Badan Bahasa sendiri bergerak melalui sejumlah jalur, antara lain penyediaan bahan bacaan bermutu, pembinaan guru, penerjemahan, pengembangan platform digital, serta penguatan komunitas literasi.
“Literasi bukan program satu lembaga, tetapi gerakan ekosistem,” ucapnya.
Salah satu program unggulan yang dipaparkan adalah penyusunan dan distribusi buku bacaan bermutu. Sejak 2019 hingga 2026, Badan Bahasa telah menghasilkan 1.289 judul buku, dengan total distribusi mencapai 42,3 juta eksemplar yang menyasar 5.963 PAUD, 68.824 SD, dan 6.165 SMP yang paling membutuhkan di seluruh Indonesia.
Di sisi komunitas, pemerintah menyalurkan bantuan sebesar Rp50 juta per komunitas literasi. Pada 2024 bantuan diberikan kepada 349 komunitas, pada 2025 kepada 100 komunitas, dan pada 2026 direncanakan menyasar 110 komunitas literasi aktif yang berkomitmen menjadi agen perubahan di masyarakat.
Pada saat yang sama, Hafiz juga menyoroti tantangan kemahiran berbahasa Indonesia yang masih perlu perhatian serius. Data Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) 2025 menunjukkan bahwa dari 225.302 peserta, sebanyak 51 persen atau 111.352 orang belum mencapai standar kemahiran berbahasa Indonesia, dengan peserta jenjang SMK, SMA, dan SMP sebagai kelompok yang paling banyak berada di bawah standar.
“Literasi tumbuh ketika bahasa, komunitas, dan kepedulian bergerak bersama,” kata Hafiz.
Terkait pemanfaatan teknologi, Badan Bahasa mengembangkan platform Buku Digital (BUDI) di laman budi.kemendikdasmen.go.id, serta Ruang Murid di Rumah Pendidikan sebagai sumber belajar digital yang terkurasi. Selain itu, majalah sastra Liris yang telah menerbitkan enam edisi dengan total oplah 6.000 eksemplar hingga 2025 turut berperan memperluas akses terhadap karya sastra Indonesia, khususnya bagi generasi muda.
Lebih lanjut, Hafiz menegaskan cerita baik dari Malinau harus menjadi inspirasi bagi gerakan literasi yang lebih luas di seluruh Indonesia. Ia mengajak semua pihak untuk mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing demi membangun literasi bangsa yang lebih kuat.
“Dari Malinau, dari perbatasan, dari komunitas, dan dari partisipasi semesta, kita bangun literasi Indonesia yang lebih kuat,” pungkasnya.
HT





