Connect with us

Internasional

Kapal Penangkap Ikan Korsel Kecelakaan, 3 WNI Hilang

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Tiga anak buah kapal (ABK) yang merupakan warga negara Indonesia (WNI) dinyatakan hilang setelah kapal penangkap ikan “32 Myongminho” mengalami kecelakaan di laut dekat Pulau Jeju, Korea Selatan, Selasa (29/12) malam waktu setempat.

Kecelakaan ini terjadi di tengah cuaca sangat buruk dengan angin kencang, ombak tinggi dan suhu dingin.

“Pada malam hari itu juga, KBRI Seoul memperoleh informasi dari Korean Coast Guard (KCG) bahwa 3 dari 7 awak kapal tersebut adalah WNI dengan inisial IHP, S, dan DIS. KBRI Seoul telah memastikan identitas ketiga WNI tersebut dan melakukan komunikasi dengan keluarga mereka di tanah air,” demikian pernyataan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Seoul, Kamis (31/12).

Baca juga: WNI Berusia 64 Tahun di Singapura Positif Cirus Corona

Pada hari Rabu pagi, 30 Desember 2020, tim KBRI Seoul telah berada di Pulau Jeju untuk melakukan koordinasi langsung dengan operasi SAR gabungan Korea Selatan. (Baca Juga: Pandemi COVID-19, Begini Perayaan Malam Tahun Baru di Kota-kota Top Dunia)

Perdana Menteri (PM) Korsel telah memerintahkan operasi gabungan yang melibatkan 964 personil dari KCG, polisi, pemadam kebakaran, dan Angkatan Laut Korsel dengan pengerahan helikopter dan 8 kapal penyelamat.

Dalam kondisi lapangan yang sangat sulit di tengah cuaca sangat buruk, kapal “32 Myongminho” dapat diapungkan dalam keadaan terbalik dan diseret mendekati daratan.

Tim SAR gabungan berupaya menyelamatkan awak kapal yang waktu itu diduga masih terperangkap di dalam kapal. Namun operasi SAR dihentikan sementara pada malam hari tanggal 30 Desember 2020 karena cuaca sangat buruk.

IG

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

Pandemi Covid-19 Diprediksi Berlangsung 4-5 Tahun

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Menteri Pendidikan Singapura Lawrence Wong menyebut,  diperlukan waktu empat hingga lima tahun sebelum pandemi Covid-19 benar-benar berakhir. Baru kemudian seluruh dunia akan melihat masa normal pascapandemi.

Hal itu diungkapkan Wong saat berbicara di konferensi Perspektif Singapura 2021, Senin (25/01).

“Pada satu titik, dimana pandemi akan berakhir, tapi butuh waktu empat hingga lima tahun sebelum akhirnya kita melihat akhir dari pandemi ini dan memulai hidup baru. Apa yang akan terjadi pascapandemi, tidak ada yang tahu,”ujar Wong, seperti dikutip shannnelnewsasia, Rabu (27/01).

Wong yang juga memimpin gugus tugas multi-kementerian Covid-19 ini juga menyoroti ketidakpastian terkait apa yang akan dihadapi dalam beberapa tahun ke depan. Termasuk bagaimana pandemi akan membentuk masyarakat dunia di tahun mendatang. Ia juga memperkirakan, kebiasaan menggunakan masker dan menghindari kerumunan akan berlanjut pada tahun ini dan tahun berikutnya.

“Di luar itu, ketersediaan vaksin Covid-19 secara progresif akan memulai kembali perjalanan global. Namun, vaksinasi di seluruh dunia tidaklah mudah, dan tidak bisa cepat,”tambahnya.

Baca juga: Menkes: Kita Harus Bersatu Atasi Pandemi 

Wong menuturkan, pemerintah Singapura telah menjadwalkan warganya untuk mendapatkan vaksin pada kuartal tiga 2021.Meski demikian, ia mengakui ada rintangan dalam pelaksanaannya.

Ia menyebut, vaksin yang ada saat ini tidak terlalu efektif melawan varian baru dari virus corona. Menurut Wong, vaksin harus dimodifikasi untuk melawan virus.

“Skenario positifnya, vaksin menjadi seperti suntikan flu biasa atau mungkin kita bisa mengembangkan vaksin untuk semua virus. Tapi skenario terburuknya adalah kita selalu berada di belakang dari virus yang berkembang. Dan kita tidak bisa mengejar waktu,”katanya.

“Jadi, banyak sekali ketidakpastian di depan kita. Yang perlu digarisbawahi adalah, kita hidup di dunia yang sama, dan tidak satupun akan aman hingga semua orang aman,”tandasnya.

Continue Reading

Internasional

Kesepakatan Nuklir Buntu, Israel Bersiap Serang Iran

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Panglima militer Israel Kepala Staf Jenderal Aviv Kochavi mengumumkan akan segera menyerang Iran. Ia pun memerintahkan kepada jajarannya untuk menyiapkan rencana penyerangan tersebut.

Kochavi mengatakan rencana tersebut disusun untuk melawan kemampuan nuklir Iran jika ada keputusan politik yang menargetkan republik Islam itu.

“Kekuatan untuk memulainya ada pada elite politik. Namun, opsi ofensif perlu disiapkan, siap untuk disusun,” kata dia mengacu pada pemerintah Israel, Selasa (26/1) seperti dilansir dari AFP.

Iran yang merupakan musuh bebuyutan Israel menyetujui perjanjian nuklir dengan Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat pada 2015.

Baca juga: Iran Aktifkan Pabrik Nuklir, AS Peringatkan Dunia Internasional

Kesepakatan itu menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan ambisi nuklir Teheran dan jaminan tidak akan membuat bom atom.

Iran sendiri berkeras bahwa pihaknya hanya mengejar program energi nuklir sipil. Namun Israel selalu menentang kesepakatan tersebut.

Kemudian pada 2018 Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan itu dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan Iran.

Sebagai tanggapan, Iran mundur dari komitmen nuklir utama, dan membiarkan kesepakatan itu menggantung.

Pemerintahan baru Presiden Joe Biden telah mengisyaratkan ingin menyelamatkan perjanjian itu. Namun otoritas Israel secara terbuka khawatir akan kemungkinan ini.

“Setiap kesepakatan yang menyerupai perjanjian 2015 adalah hal yang buruk, baik secara strategis maupun operasional,” kata Kochavi.

“Tekanan terhadap Iran harus dilanjutkan, Iran tidak boleh memiliki kapasitas untuk mengembangkan bom nuklir,” ujar dia.

Panglima militer itu juga mengatakan Israel telah menyerang 500 titik sasaran Iran di Timur Tengah pada tahun lalu.

Israel selama ini telah meluncurkan ratusan serangan udara terhadap Suriah. Hujanan serangan itu terjadi sejak perang sipil Suriah pecah pada 2011.

Ratusan serangan Israel itu menargetkan pasukan Iran, pemberontak pro-Teheran, kelompok Hizbullah, hingga militer Suriah.

IG

Continue Reading

Hot Topic

Larry King, Pembawa Acara Legendaris Tutup Usia

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Larry King, pembawa acara legendaris Amerika Serikat, meninggal dalam usia 87 tahun. Kabar tersebut disampaikan anak laki-lakinya, Chance, jika sang maestro meninggal pada Sabtu (23/01) pagi waktu setempat. Kabar duka itu diumumkan lewat sebuah pernyataan yang diunggah di akun Facebook resmi King.

“Dengan kesedihan yang mendalam, Ora Media mengumumkan kematian salah satu pendiri, host, dan teman kami Larry King, yang meninggal pagi ini dalam usia 87 tahun di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles,” demikian bunyi pernyataan itu.

Namun, pernyataan tidak menyebut penyebab kematian King.

Baca juga: Mantan Pembawa Acara Metro TV DItangkap Kejagung 

Menurut sumber yang dekat dengan keluarga, Larry sempat dirawat di rumah sakit yang sama karena Covid-19 pada akhir Desember 2020. Protokol rumah sakit melarang keluarganya untuk mengunjunginya ketika itu.

Menurut David Theall, juru bicara Ora Media, pada saat itu, King lalu dipindahkan ke ICU pada Malam Tahun Baru dan menerima bantuan oksigen. Setelah itu, ia keluar dari ICU pada awal Januari tanpa alat bantu napas.

Larry King dikenal sebagai pembawa acara “Larry King Live” yang tayang di CNN selama lebih dari 25 tahun. Sepanjang kariernya, King telah mewawancarai banyak orang, mulai calon presiden, selebritas, atlet, bintang film, hingga orang biasa.

Pada 2010, King pensiun setelah merekam lebih dari 6.000 episode acara yang terkenal itu.

Selama ini, Larry juga diketahu berjuang melawan sejumlah masalah kesehatan, termasuk serangan jantung. Pada 1987, ia menjalani operasi bypass jantung dan menginspirasi ia untuk mendirikan Larry King Cardiac Foundation yang memberikan bantuan kepada mereka yang tidak memiliki asuransi.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC